
"Maaf? kamu sudah memisahkan seorang suami dari istrinya. Seorang anak dari ibunya. Seorang wanita dari keluarganya." kata Armando merinci kesalahan pemuda itu.
"Aku akan menebusnya." kata Rodrigo dengan kesungguhan.
"Dengan apa? kau berikan nyawamu pun tidak membuat istriku hidup kembali." kata Armando geram.
"Lalu apa yang harus ku lakukan?" tanya Rodrigo putus asa.
"Kamu pikirkan sendiri apa yang harus kamu lakukan. Aku yakin perasaan bersalahmu sudah menghukummu, karena itu akan terus ada di hati dan pikiranmu seumur hidupmu. Aku mungkin bisa melepasmu, tapi aku tidak yakin keluarga Cody akan melepasmu." setelah berkata demikian Armando pergi meninggalkan makam Melani. Kedatangannya pagi ini malah membuat luka hatinya semakin parah. Armando kembali ke hotel. Trisia sudah siap tengah menunggunya. Melihat wajah Armando yang marah, Trisia tidak berani mengusiknya. Di pesawat Trisia mencari kesibukan sendiri seperti menonton atau mendengarkan musik. Sudah lelah Trisia pun tertidur. Armando membetulkan selimut Trisia, dia sendiri tidak bisa tidur. Pikirannya masih pada Rodrigo. Mereka tiba di Indonesia. Arsen menjemput di bandara. Melihat raut wajah Armando yang keruh, Arsen pun tidak mengganggunya. Arsen mengantar mereka pulang ke rumah. Tiba di rumah Armando mengurung diri di kamarnya. Trisia beristirahat, lalu memasak. Dia melihat tampaknya Armando tidak akan keluar rumah. Trisia menunggu Armando untuk makan, tapi Armando tidak juga keluar. Trisia pun ke kamar Armando. Pria itu tertidur dan sudah mengenakan baju rumahnya. Tapi Armando belum makan, pikir Trisia. Maka Trisia pun menyiapkan makan malam untuk Armando dan meletakan di meja kerjanya. Trisia pun keluar dari kamar Armando menuju kamarnya. Armando terbangun mendengar suara pintu di tutup. Dia melihat apa yang Trisia sediakan. Armando tersenyum kecil. Arsen menjemput Armando dan Trisia. Mereka mengantar Trisia dulu ke lokasi syuting, sebelum ke kantor. Trisia telah turun, kini tinggal Arsen dan Armando.
"Tolong urus berkas perceraian dan ajukan jika Trisia sudah siap." kata Armando pada Arsen.
"Apa mbak Trisia tidak punya kesempatan pak?" tanya Arsen, walau dia sudah tau akhirnya seperti itu tapi tetap terkejut juga.
"Kamu kan sudah tau apa yang dia lakukan?" kata Armando mengingatkan tentang laporan yang di berikan Arsen perihal hubungan Trisia dan Rion.
"Tapi bapak bisa sabar pada mbak Trisia, saya heran." Arsen bingung Armando tidak marah sama sekali.
__ADS_1
"Mungkin jika wanita lain nasibnya tidak akan sebaik ini. Tapi pada Trisia, entah mengapa saya tidak bisa keras padanya." jawaban Armando membuat Arsen sadar. Trisia menempati tempat istimewa di hati Armando. Walaupun Armando tidak mencintainya.
"Saya akan mengurus berkasnya secepatnya pak." perkataan Arsen sudah cukup bagi Armando. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Rion marah pada Trisia, beberapa hari menghilang tanpa kabar dan tidak bisa di hubungi. Trisia mematikan ponselnya. Dia ingin perjalanannya bersama Armando tidak terganggu. Setelah syuting Rion pun membawa Trisia pergi. Jono di tinggalnya diam-diam. Rion membawa Trisia ke sebuah vila.
"Kamu kemana Trisia kenapa tidak bisa di hubungi?" tanya Rion gusar.
"Aku pergi sama Armando bulan madu." jawab Trisia asal.
"Apa? pantas sutradara bilang kamu di bawa suamimu. Benar kamu bulan madu? Dia menyentuhmu?" tanya Rion marah. Dia membulak-balik tubuh Trisia, memeriksa apakah ada tanda kepemilikan. Trisia tertawa. Sebenarnya dia ingin menghindari Rion sampai perceraiannya selesai. Tapi tampaknya tidak bisa. Rion terlalu terobsesi padanya.
"Bilang dong, aku khawatir di sini." kata Rion, dia lalu mencium Trisia lembut. Rion ingin menghapus kesedihan Trisia. Semakin lama ciumannya semakin panas. Rion pun membaringkan Trisia di tempat tidur.
"Adikku sudah rindu padamu. Beberapa hari kau tinggal." kata Rion dengan wajah menggoda. Dia pun mencurahkan cinta dan kasih sayangnya pada Trisia. Rion menggauli Trisia dengan lembut. Dia tidak pernah bisa kasar pada Trisia. Setelah selesai dia merangkul Trisia dalam pelukannya. Dia rindu pada Trisia dan ingin mengobrol. Rion menggauli Trisia selain karena dia menyukainya, dia juga ingin Trisia mengandung anaknya. Karena dia melihat Trisia terus menunda perceraiannya.
"Kami sudah membicarakan tentang perpisahan. Armando juga sudah tau tentang hubungan kita." kata Trisia pelan.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Rion penasaran.
"Tadinya aku berpikir untuk bersabar hingga dia melewati kesedihannya. Tapi tampaknya sia-sia." kata Trisia kecewa.
"Dia tau apa yang dia butuhkan sayang. Lalu kepastian tentang perceraian ada di tanganmu atau di tangannya?" tanya Rion lagi, ini yang penting.
"Di tanganku." jawab Trisia. Bagus, pikir Rion. Dia tinggal mendesak Trisia saja. Tidak lama kemudian Rion pun mengantar Trisia pulang, walau dia tau Arleta sudah menunggunya dengan gebukan kasur mungkin. Tapi kalau dia tidak pulang hukumannya akan lebih parah lagi. Trisia tidak menemukan Armando di rumah. Besoknya pun Armando tidak pulang. Dua hari kemudian Arsen yang datang membawa berkas perceraian yang sudah di tanda tangani Armando.
"Bapak berpesan pada saya untuk mengajukan berkas ini jika mbak Trisia sudah siap. Mbak Trisia tidak perlu khawatir saya melanggar perintah pak Armando. Jadi mbak Trisia tanda tangan saja." kata Arsen dengan sopan. Dia tau buat Trisia ini sesuatu yang berat. Trisia pun pasrah, dia menandatangani berkas itu.
"Nanti aku hubungi." kata Trisia berkenaan kesiapannya.
"Baik saya permisi mbak Trisia." Arsen pun berlalu. Trisia menangis di kamarnya. Dari awal ini memang keinginannya. Armando benar, dia hanya menyakiti dirinya sendiri. Armando tidak pulang lagi. Tapi satu hari Armando tiba-tiba pulang. Walau yang di bicarakan ya membuat Trisia sakit perut.
"Malam ini acara makan malam di rumah. Kalau kamu sudah siap kita bicara pada mama. Tapi kalau belum aku putuskan tidak akan datang." kata Armando kemudian berlalu ke kamarnya. Armando ingin Trisia memikirkannya. Ketika Armando keluar lagi dia sudah mandi dan rapih dengan baju santainya. Armando melihat Trisia yang mundar- mandir dengan bingung. Armando duduk di sofa.
"Kamu seperti anak SD yang ketahuan bolos sama papanya." kata Armando melihatnya lucu. Armando tidak tau betapa bingungnya Trisia, apa yang akan di katakannya tentang perceraian mereka pada Mauren.
__ADS_1
"Trisia, kita pergi atau tidak?" Armando mulai tidak sabar. Trisia berhenti dan menatap Armando. Trisia pun mengangguk.
"Bersiaplah, kita akan berangkat." kata Armando tegas. Trisia sudah banyak membuang waktu. Di mobil tidak ada yang bicara, itu membuat Trisia semakin tegang. Ketika turun Armando menggandeng tangan Trisia masuk. Beberapa mata menatap mereka.