
Claudio dan Larasati berkesempatan untuk membuktikan mereka dokter yang handal. Lionel mengetahui kedatangan mereka ketika bertemu di rumah sakit. Restandi tidak memberi kabar kapan tepatnya mereka tiba. Mungkin dia ingin agar asistennya bisa beristirahat. Hari pertama datang mereka di sambut dengan hangat. Itu karena adanya Restandi. Mereka di ajak berkeliling ke semua ruangan, hal yang sebagian besar Larasati sudah tau. Selama direktur rumah sakit membawa mereka berkeliling, Lionel tidak ketinggalan mengikuti mereka. Matanya tidak lepas dari Larasati. Dia sangat rindu pada gadis itu. Ingin bicara tapi belum ada kesempatan. Tiba saat makan siang, Restandi meminta Dio dan Larasati mengikuti para dokter untuk makan di kantin rumah sakit. Agar mereka terbiasa. Sedangkan dia mengajak Lionel untuk makan siang berdua. Direktur rumah sakit memandang mereka dengan maklum. Mereka berdua masih ada hubungan kerabat. Restandi pun duduk berdua dengan Lionel.
"Sudah kuantarkan kepadamu." kata Restandi pada Lionel.
"Aku hargai upayamu. Terima kasih sudah membantuku." Lionel tulus berkata. Senyumnya tidak lepas dari bibirnya.
"Ini mungkin kesempatan terakhir untukmu. Kalau ini gagal kau harus mengejarnya sendiri ke Indonesia." kata Restandi lagi.
"Aku paham. Kapan kau kembali?" Lionel tau Restandi hanya mengantar dua asistennya.
"Nanti malam." jawab Restandi singkat.
"Cepat sekali. Kau tidak mau santai sebentar baru kembali?" Lionel heran dengan rencana Restandi.
"Aku rindu putriku." Restandi tidak ingin membuang waktu.
"Astaga, aku lupa. Kau baru saja mendapat anak kedua. Selamat ya. Aku masih jauh dari itu." Lionel ikut senang tapi miris dengan dirinya.
"Kau masih bisa mengejarnya. Masih ada waktu." Restandi menghibur.
"Pasti. Aku akan gunakan kesempatan ini untuk mengejar mimpiku." Lionel semakin bertekad untuk mendapatkan Larasati. Restandi kembali ke Indonesia. Di pikirannya hanya ada istri dan anak-anaknya. Dia sekarang semakin malas berjauhan dengan mereka. Di rumah Alrest menyambutnya dengan gembira, menghambur ke pelukan Restandi.
"Papa." seru anak itu girang.
"Anak papa kangen ya." Restandi memeluk dan menggendong putranya.
"Baru juga tiga hari tidak lihat papa." kata Arleta gemas. Yang di peluk Alrest bukan dia istrinya. Cemburu sama anak rupanya.
"Oh cuma Alrest nih yang kangen papa. Mama tidak?" Restandi menyindir. Dia maunya Arleta juga seperti Alrest, menghambur ke pelukannya. Arleta cemberut. Dasar suami tidak peka.
"Alrest main dulu ya, papa mau bobo sebentar. Nanti kita main lagi." Restandi menurunkan Alrest yang langsung berlari untuk bermain. Restandi mengedipkan sebelah matanya pada Arleta lalu menggandeng istrinya ke kamar.
__ADS_1
"Peluk dong kangen nih. Di cium juga ya. Suami pulang harusnya di sambut dengan mesra." tanpa malu Restandi memeluk istrinya. Arleta tertawa, dia senang suaminya memperlihatkan kerinduan seperti itu.
"Sayang aku mandi dulu ya, setelah itu aku mau bobo sama istri." Restandi melepas pelukannya. Di ciumnya kening Arleta. Sebelum ke kamar mandi dia sempatkan melihat putrinya yang sedang tidur. Restandi tersenyum. Dia mandi dulu. Setelah mengumpulkan tenaga dia akan main dengan si mungil ini. Restandi melakukan niatannya, setelah mandi dia tidur sambil memeluk Arleta hangat. Dia rindu aroma istrinya. Sebenarnya ada banyak yang Arleta ingin tanyakan. Tapi melihat Restandi tampak lelah dan mengantuk dia tidak tega. Di biarkan ya Restandi tidur. Beberapa jam kemudian Restandi terbangun. Arleta baru selesai menyusui putrinya.
"Rest makan ya aku ambilkan." Arleta menaruh Alrista di boxnya.
"Sini cium dulu." kata Restandi manja. Arleta menghampiri Restandi.
"Memang di pesawat tidak tidur? Kamu kelihatan lelah banget." Baru mendekat Arleta sudah di raih suaminya. Di peluknya Arleta.
"Aku tidak bisa tidur. Aku duduk dengan seorang wanita yang terus mencari perhatianku. Bagaimana mau tidur dia banyak tingkahnya." keluh Restandi jengkel.
"Cantik orangnya?" Arleta terkejut. Dia berusaha tidak cemburu.
"Lumayan. Tapi yang cantik itu kan istriku." Restandi mengusap wajah istrinya.
"Memang apa tingkahnya?" Arleta penasaran, bagaimana seorang wanita berusaha menarik perhatian suaminya.
"Lalu bagaimana?" Arleta merasa wanita itu berani, juga tidak merasa malu.
"Aku minta pindah tempat duduk. Untungnya pramugari mengerti. Dia juga kelihatannya risih melihat wanita itu." Restandi bersyukur bisa pindah tempat duduk.
"Pramugarinya cantik?" sekarang Arleta beralih pada pramugarinya, karena baik hati membantu Restandi.
"Cantik sayang." Restandi tersenyum jail, dia menggoda Arleta. Mendengar itu Arleta langsung melepaskan diri. Dengan kesal dia berjalan menuju pintu.
"Sayang mau ke mana?" tanya Restandi heran.
"Ambil makanan untukmu." jawab Arleta ketus. Restandi tersenyum. Cemburu dia. Perlahan Restandi bangun, dia menghampiri box Alrista. Diangkatnya bayi itu. Di ciumnya sayang lalu Restandi meletakan putri kecilnya di tempat tidur miliknya. Restandi merebahkan diri di samping bayi itu. Dia berbaring sambil menatap putrinya. Restandi berharap putrinya cepat besar dan tetap sehat. Arleta datang kembali membawa makanan untuk Restandi.
"Rest makan dulu." Arleta meletakan piring makan di meja. Dia tersenyum melihat Restandi yang menatap Alrista. Restandi bangkit berjalan menuju meja.
__ADS_1
"Apa nih sayang, siapa yang masak?" Restandi tertarik dengan menu makanannya. Di pesawat dia tidak suka dengan menunya. Karena rasanya yang tidak pas.
"Mama yang masak, dia sangat tau menu kesukaan anak-anak dan menantunya." puji Arleta. Dia harus belajar dari Sofi. Restandi tersenyum.
"Kamu juga tau pasti kesukaan suamimu." Restandi meraih Arleta hingga duduk di pangkuannya.
"Apa ya kesukaan suamiku?" tanya Arleta menebak-nebak. Dia belum tau arah pembicaraan suaminya.
"Kesukaanku kan kamu." Restandi menatap Arleta penuh makna.
"Modus nih." kata Arleta curiga. Restandi tertawa.
"Makanya kamu harus manis-manis terus sama aku." kata Restandi merayu.
"Kamu kan tidak suka yang manis-manis." Arleta menantang.
"Kalau yang ini aku suka. Makin manis makin suka."jemari Restandi menyentuh bibir Arleta. Yang di sentuh merasakan debaran di dadanya. Restandi selalu punya cara membuat Arleta berdebar.
"Makan dulu nanti dingin." Arleta mengalihkan perhatian. Restandi cemberut. Tapi dia menuruti istrinya. Arleta bangkit dan pindah duduk di dekat Restandi.
"Padahal aku mau yang itu." Restandi mengisyaratkan bibir Arleta.
"Makan dulu biar ada tenaganya." sindir Arleta.
"Kamu meragukan aku?" sayang istrinya sudah lepas dari rangkulannya, kalau tidak habis dia.
"Makan dulu pak dokter, nanti dapat hadiah." janji Arleta. Restandi langsung semangat. Dengan cepat dia menghabiskan makanannya.
"Mana hadiahnya?" tanya Restandi senang.
"itu yang di tempat tidur kan hadiah untukmu." Arleta maksud Alrista, putrinya. Restandi bangkit karena kesal. Di angkatnya Arleta menuju tempat tidur.
__ADS_1