
"Tadi Restandi sudah bilang ko, dia sudah pesan di lobby kalau papa tidak bisa di tengok." kata Sofi bertahan.
"Tapi kalau dokter di sini yang mampir kita tidak bisa menolak." kata Rion juga berkeras.
"Ya betul, kalau begitu mama istirahat di ruang Arleta deh." Sofi bangkit berdiri. Rion mengantar Sofi ke ruang Arleta.
"Mama numpang istirahat di sini ya sayang." kata Sofi pada Arleta.
"Iya ma." Arleta membetulkan letak bantal Sofanya agar Sofi bisa berbaring.
"Kamu sudah makan Rion?" tanya Arleta.
"Sudah tadi di rumah. Alrest biar aku gendong ya, nanti kalau tidur aku kembalikan." kata Rion sambil mengangkat bayi mungil itu dalam gendongannya. Dia kangen pada keponakannya itu. Di bawanya Alrest ke ruang sebelah, karena Nikolas sendirian. Arleta sedang merapikan barang-barang di kamarnya. Ada selimut yang pasti di butuhkan di ruang sebelah.
"Eva, ini taruh di kamar sebelah ya." kata Arleta memberikan beberapa barang. Eva pun membawanya ke ruang Nikolas. Di sebelah Rion tampak sedang menimang Alrest. Bayi itu tidak mau tidur. Matanya tetap menatap Rion dalam diam.
"Eva, kalau bayi tidak mau tidur itu tandanya apa?" tanya Rion ingin tau.
"Mungkin dia mau foto bareng. Mas ini lucu, masak bayinya di suruh tidur terus." Eva tertawa melihat Rion.
"Oya, kita belum foto bareng ya. Foto dulu sama uncle ya." kata Rion, dia pun mengeluarkan ponselnya lalu foto berdua Alrest. Artis aneh, pikir Eva. Artisnya yang semangat foto. Eva geleng-geleng kepala. Tidak lama tau-tau Trisia datang menengok. Dia sudah tau tempat Nikolas jadi tidak perlu bertanya lagi. Eva terkejut. Rion tentu saja senang. Tapi Nikolas sedang tidur, jadi Trisia hanya berbincang dengan Rion.
"Ini anak Arleta ya, tampan ." kata Trisia, dia belum menengok dan memberi selamat pada Arleta.
"Iya, ini keponakan tersayang aku." kata Rion bangga. Alrest mulai mengantuk dan akan tidur.
"Biar saya taruh di boxnya mas." Eva menawarkan bantuan. Maksudnya agar Rion leluasa bicara dengan Trisia. Eva mengira Trisia datang sebagai rekan artis dari Rion.
__ADS_1
"Boleh, tolong ya Eva." kata Rion sambil menyodorkan Alrest agar di gendong Eva. Setelah menggendong Alrest Eva pun pergi ke ruang sebelah.
"Bu ada tamunya mas Rion, artis Trisia Amanda." kata Eva pada Arleta. Mendengar itu Arleta langsung lemas.
"Papa saya sedang apa?" tanya Arleta, dia melihat Sofi tampak tertidur.
"Dokter Gutama masih tidur." jawab Eva. Arleta malas bila harus bertemu Trisia. Dia juga khawatir jika Nikolas melihat Trisia akan menambah pikirannya. Menurut Arleta kedatangan Trisia tidak tepat. Tanpa harus menemui Trisia, Arleta pun memberi pesan di ponsel Rion agar Trisia tidak berlama-lama di rumah sakit karena menarik perhatian. Rion pun mengantar Trisia pulang ke depan. Arleta lega. Ketika Rion kembali ke kamar Nikolas, tampak ayahnya sudah bangun.
"Pa, papa makan ya. Rion siapin. Papa belum makan kan?" Rion menaikan tempat tidur Nikolas, agar nyaman untuk makan.
"Mama di mana Rion?" tanya Nikolas masih lemas.
"Mama di sebelah sedang istirahat." kata Rion, dia pun mulai menyuapi Nikolas. Ayahnya terharu dengan apa yang di lakukan putranya. Hal yang baru pernah terjadi. Rion tidak mengatakan tentang kedatangan Trisia.
"Pa, maafin Rion ya. Kalau Rion bikin papa pusing. Rion mungkin banyak bikin papa kecewa." kata Rion sedih.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya dokter Lukman. Dia melihat Rion yang sedang membereskan peralatan makan Nikolas. Dokter Lukman tersentuh. Rupanya putra yang ini juga perhatian pada ayahnya.
"Masih sedikit pusing dan lemas." jawab Nikolas.
"Di mana mamamu Rion, sudah pulang?" tanya dokter Lukman pada Rion.
"Ada di sebelah om sedang istirahat." jawab Rio ramah. Dia tau dokter Lukman sahabat ayahnya.
"Kasihan istri saya pasti lelah." kata Nikolas pada sahabatnya.
"Restandi pasti repot ya sekarang, tapi dia masih muda. Tidak seperti kita yang butuh banyak istirahat." kata dokter Lukman. Rion jadi menyadari, Restandi tidak nampak dari tadi.
__ADS_1
"Ya dia harus membereskan pekerjaan saya." kata Nikolas mengakui. Mereka masih berbincang, kadang dokter Lukman bertanya tentang kegiatan Rion. Restandi tentu saja sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia memindahkan pakerjaan ayahnya ke ruang kerjanya. Dia merasa lebih nyaman bekerja di ruang kerjanya sendiri. Arleta sudah sibuk dengan Jono lagi. Memintanya untuk kembali ke rumah mengambil makan malam untuk keluarga Gutama. Restandi yang sudah merasa penat pun menghentikan pekerjaannya. Dia menuju ruang Arleta. Tampak Arleta sedang menyusui Alrest di temani Eva. Sofi sudah kembali ke ruang Nikolas.
"Hai sayang, apa kabarmu?" tanya Restandi mencium kening Arleta, dan menatap putranya.
"Mandi dulu ya, nanti kita makan malam di ruang papa." kata Arleta pada suaminya. Dia melihat Restandi tampak lelah.
"Ya aku mandi dulu deh." Restandi mengambil bajunya yang sudah di siapkan Arleta.
"Eva tolong jangan lupa belikan yang tadi aku minta." kata Arleta pada Eva.
"Beres Bu, sebentar saya jalan." jawab Eva.
"Kamu beli apa?" tanya Restandi curiga. Langkahnya ke kamar mandi terhenti.
"Jajan." kata Arleta riang.
"Iya jajan apa?" Restandi semakin penasaran.
"Jus dok, jus buah." kata Eva cepat.
"Oh jus buah, saya juga mau. Eh tapi kamu ko bisa jajan. Datang ke rumah sakit kan kamu tidak bawa dompet?" tanya Restandi heran. Arleta juga tidak minta uang padanya.
"Dari kakak." jawab Arleta sambil tertawa. Dia melihat suaminya jeli juga.
"Sudah punya suami masih minta jajan sama kakaknya?" tanya Restandi gemas. Dia menghampiri Arleta dan mencubit pipinya.
"Aku tidak minta. Kakak bingung mau kadih hadiah apa buat Alrest. Jadi kakak kasih uangnya saja biar aku beli sendiri. Tadinya mau di transfer tapi aku minta cash saja." Arleta memperlihatkan amplop yang berisi uang. Restandi hanya melirik sekilas.
__ADS_1
"Istri pintar." dia jadi ingin mencium Arleta lagi. Di ciumnya kepala Arleta sayang.