Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
170. Pendapat Istri


__ADS_3

"Baru mau di sentuh sudah terbangun." Arleta berbohong karena kesal.


"Kamu mau bikin kesal suami. Tampang yang bagaimana yang mau kamu sentuh?" Restandi menindih Arleta tanpa ampun. Arleta pelan-pelan menunjuk foto Restandi di dinding. Dia tau bahaya yang menunggunya. Melihat itu Restandi tersenyum. Istri pintar, tau menyenangkan suami.


"Kalau yang itu jangankan di sentuh, di peluk di cium juga boleh." Restandi mencium bibir Arleta.


"Hati-hati, kamu bikin aku pingin loh." Restandi tersenyum nakal.


"Modus." Arleta kesal dan mendorong Restandi, dia lapar. Arleta menuju meja dan duduk untuk makan. Restandi mengambilkan air minum untuk istrinya. Dia duduk di hadapan Arleta dan memperhatikannya makan.


"Pelan-pelan sayang, aku bisa menunggu ko." kata Restandi jail. Arleta tidak terpengaruh. Dia tetap adik makan. Restandi menunggu Arleta selesai makan. Dia senang melihat istrinya sehat dan pandai mengurus anaknya. Walau terkadang Restandi membantu menidurkan putrinya, tapi dia melihat Arleta cukup cekatan dan sabar.


"Ngapain liatin terus?" tanya Arleta jengah. Restandi tersenyum.


"Suka lihat kamu makan." Restandi menyodorkan piring buah pada istrinya. Tadinya Arleta merasa kenyang, tapi di sodorkan begitu perlahan dia makan.


"Sudah bertemu Sehun?" tanya Arleta melihat Restandi diam di kamarnya.


"Sudah, dia dan Ardi sudah pulang." Restandi jadi ingat apa yang Sehun sodorkan tadi. Hatinya jadi malas.


"Jadi Sehun bersama Ardi, pasti soal kerjaan." Arleta berkesimpulan.


"Ada projek baru yang Sehun tawarkan." Restandi memancing Arleta.


"Projek baru, apa lagi?" Arleta terpancing.

__ADS_1


"Tebak coba." tantang Restandi.


"Hotel sudah, rumah sakit sudah, mal sudah. Tempat hiburan mungkin." tebak Arleta.


"Hampir kena." Restandi menyodorkan data tadi. Arleta yang sudah terpancing melihatnya.


"Stasiun TV." seru Arleta terkejut. Restandi tertawa melihat keterkejutan istrinya.


"Ya tepat." Restandi memberi waktu pada Arleta untuk komentar.


"Sehun mabuk ya?" Arleta tampak tidak suka, ada kecemasan di wajahnya.


"Dia sehat-sehat saja, memangnya kenapa?" Restandi ingin tau pikiran istrinya.


"Kamu pasti tambah sibuk, tantangannya jauh lebih banyak karena persaingan. Lalu......" Arleta ragu mengutarakan. Terlibat di stasiun TV, suaminya akan lebih di kenal. Pasti nanti banyak yang mendekati Restandi.


"Kamu nanti mondar-mandir ke sana, banyak artis di sana. Kalau ada yang suka bagaimana?" Arleta jujur tapi kesal. Restandi tersenyum. Kekhawatiran yang wajar pikirnya.


"Ya aku tolak dong. Aku kan sudah punya kamu." Restandi merayu.


"Kalau mereka yang suka kamu tolak, kalau kamu yang suka?" Arleta cemberut. Restandi menarik Arleta untuk duduk di pangkuannya.


"Sayang, kalau aku yang tidak benar mau di mana pun itu pasti terjadi. Di rumah sakit juga bisa. Malah mungkin aku yang cari-cari kesempatan. Tapi kamu tau kan prinsip aku." Restandi mengusap kepala Arleta dengan sayang. Walaupun dia senang Arleta takut kehilangan dirinya, tapi dia harus meyakinkan istrinya. Dia bukan suami yang seperti itu. Karena mengejar ***** atau cinta yang lain hanya membawa kesengsaraan di masa depan.


"Aku terserah keputusan kamu. Aku akan mendukung kamu kalau kamu mau mencetak gol dalam hidup kamu. Tidak mencetak gol juga tidak apa-apa. Asal jangan buat gol bunuh diri, aku tidak sanggup. Terus terang aku sudah bahagia seperti ini." kata Arleta sambil menatap Restandi penuh kasih sayang. Dia ingin menunjukkan kalau dia tulus. Restandi terpana dengan perkataan Arleta.

__ADS_1


"Benar kamu bahagia bersama aku?" Restandi ingin menegaskan. Kata-kata yang baru pernah Arleta katakan.


"Iya aku bahagia." jawab Arleta yakin. Restandi memeluk istrinya erat.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Apa yang aku lakukan bisa buat kamu bahagia rasanya aku puas. Ingat ya bila aku melakukan sesuatu atau mengumpulkan materi itu untuk masa depan anak-anakku dan juga untuk kebahagiaan kamu. Aku belum memutuskan apa pun pada Sehun. Tapi mendengar kamu akan dukung aku hatiku lebih lega." Restandi meregangkan pelukannya. Sekarang dia menatap wajah Arleta. Wanita cantik yang sudah membelit hatinya.


"Kita bisa mencari orang kepercayaan, jadi aku tidak perlu wira-wiri ke sana." Restandi berpikir biar Sehun dan Ardi saja yang sibuk di sana. Dia lebih nyaman dengan profesinya sebagai dokter. Akhirnya terjadilah kesepakatan. Hasil kerja Restandi yang luar biasa di balik meja di tambah kerja Sehun di lapangan dengan daya pengamatannya yang tajam lalu dukungan Ardi yang menangani keuangan, stasiun TV berpindah tangan. Ada tiga pria tampan pemilik baru stasiun TV. Tapi tidak seperti pemikiran Restandi, Sehun dan Ardi menolak sibuk di sana. Mereka sibuk dengan mal, karena Avery sekarang mondar-mandir Jakarta New York. Apalagi Avery sedang hamil. Menurut Sehun, Restandilah hidupnya yang paling damai di antara mereka bertiga. Restandi merasa di jebak. Dia harus meninggalkan zona nyamannya. Biasa membedah orang, di suruh membedah acara untuk kesuksesan stadiun TV. Restandi melibatkan Rion yang dia percaya penilaiannya. Sampai nanti dia menemukan orang yang tepat. Untuk menjalankan janjinya pada Arleta, Restandi mencari orang untuk di tempatkan pada posisi teratas di sana. Restandi memilih Arlan. Untuk itulah hari ini dia berjanji bertemu Arlan untuk membujuknya.


"Apa kabarmu Ar, bagaimana dengan Revita?" tanya Restandi ketika mereka sudah duduk berdua.


"Aku baik. Revita karena kehamilan pertama jadi sangat manja. Apalagi tubuhnya tidak sekuat Arleta. Vita harus berhenti dan diam di rumah." jawab Arlan lesu. Bukan dia tidak senang akan punya anak, namun berhentinya Vita mereka jadi harus benar-benar mengatur keuangan.


"Pekerjaanmu bagaimana?" ini yang Restandi ingin tau.


"Biasa saja. Hanya karena sekarang ada anak dari pemilik perusahaan banyak kebijakan baru yang membuatku tidak nyaman." pernyataan Arlan yang jujur membuat Restandi tersenyum. Bukannya dia senang temannya kesulitan, tapi ini seperti kebetulan.


"Lalu kau akan bertahan di sana?" Restandi ingin tau.


"Entahlah, cari kerja sekarang susah." Arlan juga tidak tau apa dia bisa terus di sana. Saat ini tenaganya masih di butuhkan karena anak bosnya belum banyak pengalaman. Tapi sampai kapan dia juga tidak tau.


"Bantu aku pimpin stasiun TV mau?" tanya Restandi pada intinya.


"Maksudnya?" Arlan seperti tidak percaya pada pendengarannya.


"Aku, Sehun dan Ardiansyah Aria baru saja mengambil alih stasiun TV. Aku mau kamu jadi pimpinan di sana." Restandi memperjelas ucapannya.

__ADS_1


"Bercandamu keterlaluan Rest. Posisi itu tidak main-main. Aku tidak punya background seperti itu." Arlan tau diri dan menolak.


"Belajarlah, semua butuh proses. Kami bisa mengerti. Kami juga harus belajar sepertimu." perkataan Restandi menyadarkan Arlan. Ketiga pria yang dia hadapi adalah sosok yang nekat dan berani ambil resiko.


__ADS_2