Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
61. Kebaikan Kevin


__ADS_3

Kevin melihat Melani.


"Melani kau di sini?" tanya Kevin, tanpa di minta dia duduk di hadapan Melani.


"Iya Kevin, aku sedang kuliah di sini." jawab Melani gugup. Dia tidak pernah benci pada Kevin. Tapi melihat pria itu membuatnya ingat akan kesalahannya pada Arleta.


"Kau hamil?" tanya Kevin terkejut melihat perut Melani. Pertanyaan yang Melani tidak ingin mendengarnya. Melani hanya mengangguk.


"Apakah itu anak Armando?" tanya Kevin curiga. Melani terkejut.


"Dari mana kau tau?" Melani lebih gugup lagi.


"Aku hanya menduganya, karena kau pulang ke apartemen Armando waktu itu. Apakah Armando tau?" Kevin yang terkejut saat ini, dugaannya tepat.


"Tidak. Kau kan tau Armando bertunangan dengan Trisia." jawab Melani sedih.


"Tapi dia harus tau, paling tidak dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya." Kevin berkata tegas. Kevin tidak percaya Armando akan diam saja bila tau Melani mengandung anaknya.


"Ibunya tidak menerima diriku, itu sebabnya dia bertunangan dengan Trisia." Melani mengatakan kenyataan pahitnya.


"Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Armando?" Kevin penasaran. Armando bukan tipe pria yang tidak bertanggung jawab.


"Kami sepasang kekasih. Sampai aku meninggalkannya." Melani berkata jujur. Tepat seperti pemikiran Kevin. Jadi Armando bertunangan bukan atas kehendaknya sendiri.

__ADS_1


"Kau mencintainya? Apa kau tidak ingin mendapat status untuk anakmu? Bayi itu akan lahir tanpa ayah Melani." Kevin tidak mengerti jalan pikiran gadis itu.


"Aku pergi sebelum tau jika aku hamil." Melani membela diri. Tapi jika tau dia hamil pun dia ragu apakah akan mengatakannya pada Armando.


"Aku mengerti sekarang. Jadi dia tidak tau kau hamil. Aku tau Armando, dia tidak akan mengelak dari tanggung jawab." kata Kevin yakin.


"Dia mencariku, aku yang bersembunyi darinya." kata Melani cepat. Dia tidak mau Kevin salah paham pada Armando. Jadi begitu, pikir Kevin. Dia dapat memastikan Armando mencintai Melani jika pria itu mencari Melani tanpa tau gadis itu hamil. Pertunangannya dengan Trisia hanya pura-pura saja. Pasti karena Mauren. Tiga tahun bersama Arleta Kevin tau bagaimana Mauren. Sekarang Kevin jadi bisa melihat alur ceritanya, antara Armando dan Melani. Mereka terjebak dalam keheningan. Kevin sibuk dengan kesimpulannya, Melani sibuk dengan kenangannya akan Armando.


"Jadi kau kuliah di sini?" tanya Kevin memecah kesunyian.


"Aku menghindari ayahku." jelas Melani. Kevin tidak tau jika Melani pulang pada keluarganya. Melani pun menceritakan siapa dirinya pada Kevin.


"Kau gila Melani. Kau tidak dapat terus menyembunyikannya." reaksi Kevin saat mendengar pengakuan Melani.


"Aku tau, saat ini aku sedang mengumpulkan keberanianku." Melani berkilah. Kevin terdiam lagi. Dia merasa kasihan pada gadis itu.


"Melani, kau mau aku menjadi ayah bayimu?" jantung Melani hampir berhenti mendengar pertanyaan Kevin.


"Maksudmu?" Melani tidak percaya.


"Aku akan menikahimu hingga bayi ini lahir. Setelah itu kita akan bercerai. Kau tentu tidak mau terikat denganku seumur hidupmu." Kevin menjelaskan. Melani menatap Kevin, ingin tau kesungguhan pria itu. Dia juga memikirkan perkataan Kevin. Ayah bagi bayinya. Dengan begitu bayinya akan punya ayah.


"Kau sungguh-sungguh?" tanya Melani ragu.

__ADS_1


"Ya aku serius. Aku akan pulang untuk menyiapkan semua yang di butuhkan jika kau setuju. Dengar, setelah kita menikah kau bisa terus kuliah di sini dan aku akan pulang ke Jakarta. Aku hanya menawarkan status padamu. Aku tidak dapat memberi cinta dan kasih sayang, kau tau kan alasannya. Hanya sampai bayimu lahir." Kevin menegaskan maksudnya. Melani tau ini hanya kebaikan hati Kevin padanya. Kevin hanya ingin membantunya. Tapi ini pun sudah luar biasa untuknya. Dia juga tidak perlu khawatir bertemu Armando dengan statusnya. Sepertinya ini baik. Ayahnya juga tidak akan marah jika dia punya suami.


"Baiklah aku setuju." jawab Melani pada akhirnya.


"Kau yakin?" tanya Kevin menegaskan.


"Aku yakin." jawab Melani mantap.


"Aku akan pulang dan mempersiapkan semua. Aku akan kembali Minggu depan. Jaga kesehatanmu." kata Kevin sebelum berlalu. Melani juga harus bicara pada Avery.


"Kau semakin gila ya Melani." itu reaksi Avery ketika mendengar rencana Melani dan Kevin. Avery langsung datang mencari Melani. Tapi adiknya sudah bertekad akan memberikan ayah bagi bayinya. Kevin memikirkan lagi tawarannya pada Melani. Dia sendiri tidak menyangka jika punya pemikiran seperti itu. Tapi dia ingin membantu Melani. Tulus. Seorang bayi lahir tanpa seorang ayah. Apalagi dia mengenal ibunya. Kevin bersedia melakukan itu toh dia tidak punya seseorang yang akan di nikahinya. Tapi sepertinya dia harus bicara pada seseorang. Sebelum semua terlambat. Satu Minggu tepat seperti yang di janjikan Kevin. Mereka akan melaksanakan pernikahan. Avery tidak dapat mencegah adiknya.


"Semoga kau tidak menyesal Melani." kata Avery khawatir. Tapi Melani tidak perduli lagi. Pagi ini Melani menggunakan gaun putih yang lebar dan cantik sebatas lutut. Walaupun ini pernikahan hanya untuk status, tapi Melani ingin menunjukan pada anaknya nanti bahwa anak itu memiliki orangtua. Melani meminta Avery meriasnya. Avery pun meluluskannya. Dia ingin adiknya bahagia. Mereka sudah datang ke kantor catatan sipil dan saat ini mereka ada di sebuah ruangan menanti Kevin datang. Tidak lama yang di tunggu datang. Kevin tampak tampan dengan setelan jasnya. Dia langsung memeluk Melani hangat.


"Melani maaf. Aku tidak bisa menikahimu." kata Kevin dengan penuh penyesalan. Melani dan Avery terkejut.


"Kevin apa maksudmu? Kau yang mengusulkan ini padaku. Lalu mengapa kau membatalkannya?" tanya Melani kecewa. Avery sudah ingin memukul Kevin tapi dia bersabar. Ingin mendengar alasan Kevin.


"Kau harus menikah dengan orang yang tepat, dan itu bukan aku." kata Kevin santai. Wah Avery naik darah.


"Kau mempermainkan adikku?" tanya Avery marah. Kevin malah tersenyum.


"Tidak juga. Aku bawa ko pria yang tepat itu." Kevin melangkah ke pintu dan membukanya. Tampak Armando berjalan memasuki ruangan. Armando langsung menghampiri Melani dan memeluknya. Di ciumnya bibir Melani dalam. Dia bahagia bisa bertemu kekasihnya dan ada bayinya dalam perut Melani. Kevin menatap mereka dengan tersenyum. Avery menatap mereka dengan takjub. Ketika Armando melepas ciumannya Melani menatapnya tidak percaya.

__ADS_1


"Kita akan menikah?" tanya Melani penuh haru.


"Aku toh harus bertanggung jawab atas apa yang telah kubuat." Armando tersenyum senang. Akhirnya dia mendapatkan Melani juga.


__ADS_2