
"Kamu mau ke mana Mel?" tanya Kevin penasaran.
"Keluar saja perasaanku tidak enak, entah kenapa." jawab Melani jujur. Kevin menatapnya kaget. Apa terjadi sesuatu dengan Armando, pikir Kevin.
"Armando baru pulang dari sini." kata Melani seolah tau pikiran Kevin.
"Untung aku datangnya pas dia sudah pulang. Kalau tidak aku bisa di bogem." kata Kevin bercanda.
"Kamu bener nengok aku?" tanya Melani heran.
"Iya aku bosan. Aku pingin ngobrol. Kamu kan tau sejak aku putus sama Arleta hidupku sepi." kata Kevin.
"Aku juga salah dulu, pacaran sama kamu." kata Melani menyesal.
"Bukan kamu yang salah. Aku yang tidak bilang sama kamu kalau aku punya pacar. Begitu kamu tau ternyata kamu sudah terpikat pesona aku." kata Kevin menertawakan masa lalu.
"Pede ya kamu." kata Melani protes.
"Mel, kamu bahagia?" tanya Kevin serius.
"Iya aku bahagia. Memiliki seseorang yang mencintaiku, merindukanku, membutuhkanku. Apalagi aku memiliki perasaan yang sama. Dan kamu tau kan suami aku super, sampai ada wanita yang terobsesi padanya dan rela jadi istri ke dua." kata Melani dengan sinis.
"Itu sih kalian saja yang gila. Menurutku itu misi sakit hati." Kevin juga sinis.
"Tapi sebentar lagi berakhir ko, tunggu ini lahir." Melani mengusap perutnya.
"Kalau aku yang jadi bapaknya kemarin bagaimana tuh?" tanya Kevin iseng.
"Ya sudah pasti kamu di bogem Armando." jawab Melani jujur. Mereka pun tertawa.
"Mel aku ingin seperti kamu. Menikah , bahagia." kata Kevin sedih.
__ADS_1
"Apa? kamu juga ingin menikah dengan Armando? kamu jadi yang ketiga dong." kata Melani bercanda. Kevin menatapnya dengan senyum kecut. Cih nikah sama Armando, pacaran sama Armando saja aku ogah Kata Kevin dalam hati. Perempuan ini benar bahagia ya. Kevin melihat Melani sekarang berubah.
"Ayo serius dong Mel." Kevin protes.
"Kamu masih berat sama Arleta sih. Memang sih Arleta itu super seperti kakaknya." kata Melani memuji. Cih Armando lagi, batin Kevin kesal.
"Nah kira-kira cara melenyapkan Restandi bagaimana?" tanya Kevin konyol. Melani tertawa lepas mendengarnya.
"Kamu lenyapkan Restandi, kalau Arleta tidak mau balik sama saja bohong." Melani mengejek Kevin. Walaupun kesal tapi Kevin setuju.
"Tapi bisa tidak Mel jika kita menikah tanpa cinta?" tanya Kevin ingin tau.
"Ya itu tergantung kamunya, misinya apa. Misi sakit hati seperti yang kamu bilang atau misi bahagia seperti Arleta. Kamu bisa tidak menjaga, memperhatikan dan bertanggung jawab pada istrimu walau kamu tidak cinta. Lalu kalau kamu tiba-tiba bertemu dengan orang yang kamu cinta bagaimana? Istrimu akan kamu tinggalkan atau kamu lupakan cintamu?" Melani memancing reaksi Kevin.
"Biasanya sih Mel kalau jatuh cinta sama yang lain ya cerai. Karena kan tidak cinta." jawab Kevin. Berdasarkan apa yang dia lihat pada teman-temannya.
"Tidak perlu jatuh cinta, tergoda juga bisa meninggalkan istri dan anak." Ralat Melani. Tapi dia yakin Armando tidak begitu.
"Kamu kuliah S5 sepertinya bisa jadi guru besar Mel." Kevin menggoda Melani.
"Tapi jangan deh Mel, kamu kuliah juga hamil juga. Masa anak masih di perut di suruh sekolah Mel." Melani jadi kesal. Dia pun menghabiskan es krimnya. Melihat Melani tampak menyukai es krimnya, Kevin pun memberikan jatah Ed krimnya.
"Nanti aku gendut dong." komentar Melani. Tapi di makan juga jatah Kevin.
"Biar saja kamu gendut, kan yang gendong kamu Armando. Biar dia keberatan." Melani tertawa. Duduk bersama Kevin membuat rasa tidak enak di hatinya pupus.
"Bicara tidak jelas begini enak juga, bikin bosanku hilang." pengakuan Kevin.
"Nanti di Jakarta kita bisa ko ngobrol lagi."Melani juga senang karena dia sendiri di sini.
"Di Jakarta susah Mel, pengawal kamu serem." yang di maksud Kevin adalah Armando.
__ADS_1
"Tenang, nanti kita ketemu lagi di Jakarta kalau masalahku sudah selesai." janji Melani.
"Tapi kamu hebat Mel, aku saja sampai saat ini belum bisa merelakan Arleta. Kamu bisa melihat Armando menikah lagi." Kevin memuji tulus.
"Armando harus buktikan dia setia, di masa depan akan ada banyak godaan. Trisia itu wanita yang tau batasannya, bukan wanita murahan." kata Melani tenang. Kevin pusing mendengarnya. Melani tersenyum melihat Kevin.
"Kamu nginep di mana?" Melani ingin tau.
"Hotel dekat tempat kamu." jawab Kevin malas.
"Maaf ya kamu tidak bisa nginap di tempatku." Rumah Melani sebenarnya nyaman.
"Aku tidak nginap tempat kamu saja, kamu sudah hamil Mel. Apalagi aku nginap." Kevin juga tidak mau merepotkan Melani.
"Ayo aku antar pulang, sudah malam." Kevin bangkit berdiri di ikuti Melani.
Arleta marah pada Rion, demikian juga Rion marah pada Arleta. Ketika Arleta datang ke lokasi syuting dan memergokinya mencium Trisia, Rion marah karena Arleta menghubungi Armando. Rion kesal melihat Armando membawa Trisia. Arleta juga marah karena jelas Armando suami Trisia. Untung saja dia datang, pikir Arleta. Sepertinya Rion sudah di butakan tentang Trisia. Di dalam hati Rion sudah bertekad Trisia harus tau perasaannya dan harus mempertimbangkan dirinya. Tapi Rion belum memutuskan kapan waktunya.
"Kamu sudah puas sayang?" tanya Rion pada seorang gadis yang lemas karena ulah Rion.
"Belum ah, kenapa pake tangan?" tanya gadis itu. Pakaiannya sudah berantakan akibat tangan Rion. Dia sendiri masih mengenakan celana panjangnya.
"Aku tidak bawa pengaman." alasan Rion. Sebenarnya dia sudah tidak mau berhubungan badan dengan wanita yang menggodanya. Gadis itu mantan kekasihnya. Dia datang mencari Rion karena ingin merayu Rion lagi. Sedangkan Rion hatinya sedang kesal maka dia melampiaskannya dengan mencumbu gadis itu.
"Mau lagi." gadis itu merajuk.
"Aku mau syuting." kata Rion, tapi dia mencumbu gadis itu juga. Tengah asik dia lalu merasa pusakanya jadi tegang.
"Tuh kan kamu sih, punyaku jadi tegang nih." kata Rion menghentikan usahanya.
"Sini aku bantu." kata gadis itu dengan senang hati. Rion pun mengeluarkan pusakanya.
__ADS_1
"Awas ya jangan di masukin." ancam Rion. Gadis itu menuruti perkataan Rion . Dia langsung bekerja hingga Rion mendapatkan pelepasan. Rion sudah lama menahannya. Tiap kali beradegan dengan Trisia , bersentuhan dengan gadis itu gairahnya terpancing. Tap-i Rion selalu menahannya. Rion pun memasukan pusakanya lagi. Bahaya kalau ada di luar, sudah ada yang ingin memangsanya. Gadis itu pun duduk di pangkuan Rion. Mereka berciuman mesra. Tangan Rion sibuk meraba.
"Kamu pulang ya, nanti aku hubungi dan kita senang-senang lagi." Rion mengusir gadis itu. Khawatir kegiatannya di ketahui orang lain. Padahal Jono sudah memergoki kelakuan majikannya. Tapi dia tidak mau mengganggu Rion.