
Restandi meluluskan keinginan Arleta. Mobil Arleta memang harus di ganti.
"Kamu mau warna apa?" tanya Restandi, bagaimana bisa menolak di depannya terpampang indah yang penuh dan menggoda. Sengaja nih sepertinya Arleta.
"Terserah yang penting mobil kecil." jawab Arleta manis.
"Ya sudah nanti aku Carikan." Restandi tersenyum. Dia punya dua pilihan, mencium tangan Arleta atau yang terpampang indah. Tapi dia pilih tangan Arleta. Kalau yang terpampang itu dia pasti akan bawa Arleta ke tempat tidur.
"Terima kasih ya Rest." Arleta mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Restandi. Aduh, malah di sodorin. Restandi menahan napas. Tapi setelah itu Arleta bangkit dan berlalu meninggalkannya. Cih sudah dapat maunya aku di tinggalkan. Bukannya di sayang-sayang dulu, gerutu Restandi dalam hati. Dia pun bangkit menuju kamar Alrest. Putranya sudah bangun dan tampak Rina sedang menyiapkan baju Alrest.
"Alrest mandi sama papa ya. Airnya sudah siap Rina?" Restandi menggendong Alrest, putranya tertawa senang di datangi papanya.
"Sudah tuan." jawab Rina sopan.
"Biar dia mandi sama saya, kamu siapkan saja sarapannya." titah Restandi. Rina pun segera turun. Restandi membawa Alrest ke kamar mandi, memandikan putranya dengan lembut lalu mendudukan Alrest di dalam bathub. Di kamar mandi Alrest banyak mainan. Ada boneka bebek yang mengapung di dalam bathub. Alrest pun memukul-mukul air dengan tangannya agar bebeknya bergerak. Hasilnya air di bathub terciprat kemana-mana mengenai baju Restandi. Sekarang Restandi paham pada keluhan Sofi dan Arleta tentang baju Rina yang basah.
"Alrest." tegur Restandi yang membuat putranya berhenti. Restandi mengajarkan caranya mendorong bebek itu bergerak yang di terima putranya dengan senang. Rupanya cara itu lebih berhasil di banding tadi, Alrest pun menirunya.
"Sudah yuk kita sikat gigi." Restandi mengangkat Alrest, menyelimutinya dengan handuk, diangkatnya Alrest di dudukan di atas meja wastafel. Di bantunya Alrest menyikat gigi. Ternyata putranya sudah bisa melakukannya.
"Mana lihat giginya." kata Restandi. Alrest pun memamerkan giginya yang sudah disikat dengan lucu. Restandi tertawa, dia mencium kepala putranya. Di bawanya Alrest keluar dari kamar mandi, di pakaikan baju yang sudah di siapkan Rina.
"Ganteng deh anak papa." kata Restandi memuji putranya. Restandi menggandeng Alrest ke kamarnya. Di turunkannya Alrest di tempat tidur.
"Alrest baju papa kenapa?" tanya Arleta melihat baju Restandi.
__ADS_1
"Basah sama Ales." putranya jujur mengaku.
"Besok tidak boleh begitu ya." kata Restandi, dia mengganti bajunya dengan baju yang Arleta siapkan. Alrest mengangguk. Putranya cukup menurut jika di beri pengertian. Alrest pun tiduran sambil bermain. Restandi segera selesai berpakaian. Dia duduk di tepi tempat tidur sambil mengenakan sepatunya. Di liriknya Arleta yang sedang berhias. Tidak ada yang dapat di intip lagi karena Arleta sudah rapih berpakaian. Restandi menghampiri Arleta, di ciumnya pipi Arleta sekilas.
"Aku turun ya sayang. Alrest ikut papa." Restandi merentangkan tangannya untuk menggendong Alrest. Si ganteng itu segera bangkit menyambut dan masuk dalam pelukan papanya. Restandi segera membawa Alrest turun. Dia menuju ke ruang makan. Di sana Tina sudah siap dengan menu sarapan Alrest.
"Sarapan sama mbak ya." Restandi mendudukan Alrest di bangkunya, lalu meninggalkannya. Restandi menuju halaman depan tampak Jono sedang membersihkan mobil Restandi.
"Jono, supir di sini sekarang ada berapa?" tanya Restandi sambil menghampiri Jono. Dia sekalian menatap ke arah garasi. Di sana ada mobil Nikolas, Rion dan Trisia. Mobil Sofi sudah di keluarkan, mungkin sudah di persiapkan untuk Arleta.
"Supir? sudah tidak ada tuan. Pak Margono sudah pensiun karena usia dan sudah sakit-sakitan. Si Ragil kemarin kerja sambil kuliah, sekarang sedang magang di kantor orang. Terpaksa berhenti." jawab Jono.
"Jadi di rumah sudah tidak ada supir." Restandi terkejut.
"Coba cari supir baru untuk Arleta. Pastikan betul-betul bisa bekerja." titah Restandi pada Jono.
"Baik tuan, akan saya Carikan." jawab Jono sopan. Tugas baru yang harus di laksanakan. Restandi masuk kembali ke dalam rumah. Dia menuju ruang makan. Arleta sudah turun dan mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Rest cepat di makan nanti dingin." kata istrinya dengan manis.
"Ok, Alris di mana sayang?" tanya Restandi sambil duduk di sebelah Arleta.
"Sama mbok Jumi di halaman belakang." jawab Arleta, matanya menatap Alrest yang sedang sarapan. Buburnya sudah habis.
"Alrest sudah kenyang sayang?" Arleta bertanya pada putranya. Alrest mengangguk lalu minta turun dari bangkunya. Rina membantunya, begitu turun Alrest menghampiri Restandi.
__ADS_1
"Papa." kata Alrest manja, Restandi pun memangku ya. Tapi ternyata itu awalnya, karena setelah itu Alrest tidak mau lepas dari Restandi.
"Kamu memang kemana hari ini Rest?" tanya Arleta ingin tau.
"Ke stasiun TV dulu, ada yang harus di tandatangani. Lalu ke rumah sakit seperti biasa." jawab Restandi sambil menggendong Alrest.
"Kamu bawa dulu ya sebentar, nanti aku jemput dan bawa ke klinik." Arleta menawarkan solusi.
"Ya sudah Alrest ikut papa. Rina tolong bawa keperluannya." Restandi mengalah. Dia juga tidak tega pada putranya. Kalau ke stasiun TV tidak apa tapi kalau ke rumah sakit sebaiknya jangan. Rina pengasuh yang tidak banyak bicara tapi patuh sudah tau apa yang perlu di bawanya. Sebentar saja dia sudah siap.
"Tidak ada yang lupa kan Rina?" Arleta memastikan.
"Tidak ada nyonya, semua sudah siap." jawab Rina sopan.
"Aku berangkat ya. Cium mama." Restandi pamit dan minta Alrest mencium Arleta. Setelah Alrest mencium Arleta Restandi pun melakukan yang sama.
"Kita lihat adik dulu ya." Restandi berjalan ke halaman belakang ingin melihat Alris.
"Alris sayang, papa pergi dulu ya." Restandi mencium putranya yang di gendong mbok Jumi.
"Tuh papanya pergi. Sama si mbok ya." kata mbok Jumi menghibur Alris. Bayi itu tersenyum di ajak bicara. Restandi keluar dari rumah.
"Jono bawa mobil, kita ke stasiun TV." Restandi masuk ke dalam mobil di kursi belakang. Rina duduk di depan. Jono tidak membantah, lalu masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mobil Restandi. Untung dia sudah tau stasiun TV yang di tuju majikannya. Mobil pun berjalan tanpa kendala. Alrest yang di pangku Restandi senang tidak di tinggalkan. Restandi menatap sayang putranya. Entah mengapa Alrest tidak mau di tinggal olehnya.
"
__ADS_1