
"Jono, tadi Restandi beli kue mana kuenya?" Arleta menadahkan tangannya pada Jono yang menatapnya heran.
"Bu tadi tuan bukan beli kue, tapi beli mobil untuk ibu. Tuh mobilnya." Jono menunjuk mobil di halaman depan. Tampak mobil kecil Semerah red Velvet. Berkilau menawan mata dengan rangkaian bunga mawar merah pada kaca depannya. Arleta terpukau. Mobil itu memang mobil kecil tapi sangat mahal. Restandi telah meluluskan permintaan Arleta. Dengan takjub Arleta mendekati mobil itu dan mengelilinginya perlahan.
"Bagus ya Bu." kata Jono yang terpesona.
"Bagus." kata Arleta singkat, dia terlalu senang. Tidak terbayang olehnya Restandi membelikan mobil dengan warna kue kesukaannya. Tapi mobil itu memang cantik.
"Saya ke atas dulu ya Jono." Arleta akan menemui Restandi.
"Tunggu Bu, ini di bawa." Jono mencopot rangkaian mawar merah lalu memberikannya pada Arleta. Tanpa membuang waktu Arleta segera berlari ke kamarnya. Restandi baru selesai mandi ketika Arleta masuk ke kamar.
"Sudah lihat?" tanya Restandi, tapi melihat Arleta memegang rangkaian bunga mawar merah itu Restandi tau Arleta sudah melihat hadiahnya. Di tambah wajah Arleta yang berseri.
"Terima kasih ya Rest." Arleta memeluk Restandi dengan perasaan haru.
"Ini dulu dong." Restandi menunjuk pipinya tanda minta Arleta menciumnya. Arleta mencium pipi Restandi penuh cinta.
__ADS_1
"Suka?" Restandi balas memeluk Arleta.
"Iya aku suka." Arleta jujur menjawab.
"Tidak gratis loh." Restandi menggoda dengan niat terselubung. Betul, tidak ada pemberian tanpa pamrih gerutu Arleta. Tapi kalau melihat mobil yang Restandi berikan dengan warna yang cantik itu pasti merupakan pesanan khusus. Itu artinya Restandi harus membayar lebih mahal. Jadi sah saja rasanya kalau Restandi minta upah atas usaha manisnya.
"Iya sayang, tau deh harus bayar." Arleta mengalah. Restandi tersenyum senang. Mereka turun ke bawah untuk makan malam. Nikolas dan Sofi duduk santai di ruang tengah dengan cucu-cucu mereka. Hanya ada Rion, Restandi dan Arleta di ruang makan.
"Kenapa dengan istrimu?" tanya Restandi pada Rion. Dia melihat sikap Trisia yang sepertinya kesal.
"Trisia marah tau banyak artis yang datang ke ruangan ku. Entah dia tau dari mana, tapi temannya kan banyak." jawab Rion kesal.
"Benar ya, aku nikmati saja marahnya." Rion memang bersabar menghadapi Trisia. Arleta tidak ikutan bicara, dia tidak mau ikut-ikutan. Selebihnya Restandi mengobrol tentang pekerjaan dengan Rion. Arleta lebih tidak tertarik lagi. Dia beralih ke ruang duduk, untuk melihat anak-anaknya. Alrest sudah selesai makan di dampingi Nikolas. Alris sudah tidur dalam gendongan Sofi. Matris masih menikmati makan malamnya sambil menonton. Ketika Restandi menjemput Alrest di ruang duduk, Arleta sudah membawa Alris ke kamar. Restandi menggendong Alrest menuju kamarnya.
"Alrest ngantuk, mau langsung bobo?" tanya Restandi melihat putranya yang mengantuk. Alrest mengangguk dan meletakan kepalanya di bahu Restandi. Di usapnya kepala putranya dengan sayang. Tiba di kamar Alrest, Restandi membaringkannya di tempat tidur. Di selimuti ya bocah itu. Alrest langsung terlelap. Restandi tersenyum dan mencium Alrest. Dia mengganti lampu di kamar Alrest menjadi remang-remang, lalu dia keluar. Arleta sedang di kamar mandi ketika Restandi masuk ke kamar mereka. Dengan jail dia menyiapkan gaun tidur Arleta yang membuatnya panas dingin. Melihat gaunnya saja sudah membuat Restandi panas, apa lagi ketika Arleta mengenakannya. Restandi mencium Alris yang tidur pulas, lalu dia bersiap di tempat tidur. Arleta keluar dari kamar mandi. Baru saja dia ingin mengambil baju tidur dia melihat apa yang di sediakan Restandi. Arleta jadi tau dia harus membayar mobil mahalnya malam ini. Arleta pun mengambil gaun itu dan menukar bajunya di ruang baju. Restandi meliriknya dengan tidak sabar. Ketika Arleta selesai, Restandi sudah menyibakkan selimut untuknya. Ternyata bukan Arleta saja yang manis kalau ada maunya ya. Begitu Arleta masuk ke dalam selimut Restandi langsung memeluknya. Menatap lekat istrinya dan tangannya meraba dengan lembut. Restandi menggoda istrinya agar segera panas seperti dirinya. Arleta terpancing. Di tatap lekat oleh Restandi saja dia sudah berdebar. Apa lagi ini, tatapan plus rabaan. Restandi tau di mana dia bisa membuat Arleta tergoda. Malam ini Restandi akan menyiksa Arleta, membuatnya mendamba setengah mati. Baru mengeksekusi. Arleta sudah setengah mati menahan keinginannya ketika Restandi akhirnya menyerah. Setelah Arleta lemas baru Restandi melepaskannya. Maka itu jangan tergiur mobil mahal.
"Lemas tapi tetap cantik." kata Restandi mencium kening Arleta.
__ADS_1
"Sudah lama Lo sayang, kamu tidak kasih aku kejutan." Restandi lembut membelai rambut Arleta.
"Masa sih?" Arleta jadi lupa menyenangkan suaminya.
"Kita mungkin harus bulan madu lagi. Tapi aku tidak tega memisahkan dirimu dengan si bulat itu. Aku juga pasti rindu padanya." Restandi membicarakan Alris yang berpipi bulat.
"Kita bawa saja." usul Arleta. Dia juga tidak tega meninggalkan putrinya.
"Kalau di bawa namanya liburan. Tapi tidak masalah. Tunggu pekerjaanku berkurang ya. Setidaknya sampai stasiun TV stabil." Restandi memutuskan. Arleta setuju, dia jadi punya waktu untuk bersiap.
Armando bisa bernapas lega, baru saja putranya lahir. Avery dan bayinya sehat. Armando menimang putranya dengan bangga. Sekarang dia tidak iri lagi pada Restandi karena memiliki anak laki-laki. Sedangkan Restandi tidak iri lagi pada Armando karena memiliki Melody. Kedudukan mereka impas sekarang. Avaro Cody Kamajaya bayi yang tampan seperti ayahnya. Tidak hanya Armando yang bangga padanya, Zakhary juga bahagia mendapat cucu lagi. Apa lagi cucu laki-laki. Armando tidak lepas memperhatikan Avery karena telah melahirkan putranya. Avery bahagia bisa membuat Armando senang. Keluarga mereka telah lengkap kini dengan dua anak.
"Ar, apa kau ingin punya anak lagi?" tanya Avery ingin tau.
"Itu terserah padamu, jika kau tidak keberatan tentu aku mau anak lagi. Tapi bila itu berat bagimu cukup sudah." Armando mencium pipi Avery sayang. Melihat istrinya berjuang melahirkan bayinya dia terharu. Armando sengaja tidak mau jauh-jauh dari Avery. Dia tidak mau melewatkan peristiwa Avery melahirkan. Cukup Melani saja dulu yang dia lewatkan karena kecelakaan. Melihat Avery kesakitan Armando jadi mencintai istrinya, dia juga semakin menyayangi anak-anaknya.
"Jadi anak Daddy yang pintar ya nak. Bisa jaga mommy nantinya." kata Armando sambil mencium bayi mungil itu. Avery tersenyum.
__ADS_1
"Jaga Daddy juga jangan melihat wanita cantik." goda Avery. Sudah beberapa perawat dan dokter wanita yang melirik suaminya.
"Mana pernah aku begitu." protes Armando. Trisia yang cantik dan memujanya saja tidak di sentuhnya.