Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
88. Claudio Stefan


__ADS_3

"Apa aku perlu mengurungku di rumah?" tanya Restandi menatap Arleta menanti jawaban.


"Tidak perlu, aku kan setia." jawab Arleta yakin. Restandi tau Arleta memang setia, tapi tidak bila dia disakiti. Contohnya sewaktu dengan Kevin dulu. Maka Restandi perlu berhati-hati, karena Arleta pernah di kecewakan. Makanan pun datang, mereka menikmati makan siang.


"Setelah makan kita pulang ya sayang." kata Restandi pada istrinya.


"Loh kamu ikut pulang Rest?" Belum sempat Restandi menjawab pintu di ketuk, masuklah seorang pemuda gagah berwajah manis menyapa Restandi.


" Dok, ada yang bisa saya bantu?" tanya pemuda itu sambil tersenyum.


"Kamu bukannya masih liburan?" tanya Restandi sambil memperhatikan pemuda itu.


"Bosan dirumah." jawabnya santai.


"Kamu gantikan saya siang ini, kalau ada sesuatu bisa tanya pada Aira. Saya akan pulang bersama istri saya." Restandi menunjuk pada Arleta. Pemuda itu menoleh pada Arleta dan tersenyum.


"Sayang ini asistenku Claudio Stefan. Dia belum lama bergabung tapi kerjanya bagus." kata Restandi pada Arleta. Claudio menghampiri Arleta, menyalaminya sopan.


"Saya Claudio Bu." sapa Claudio pada Arleta.


"Kamu kelihatannya masih muda." komentar Arleta. Pemuda itu jauh lebih muda dari Rion.


"Saya asisten dokter Restandi yang paling muda bu." jelas Claudio ramah.


"Kamu mau ikut Aira ke rumah sakit yang baru?" tanya Restandi pada Claudio. Pemuda itu pun menghampiri Restandi di meja kerjanya.

__ADS_1


"Kenapa bukan kak Norman yang ke sana dok?" tanya Claudio heran.


"Saya masih butuh tenaganya." jawab Restandi cepat. Claudio tau Norman Sati itu andalannya Restandi. Aira saja kadang iri pada Norman.


"Boleh di pikirkan dulu dok?" tanya Claudio. Dia merasa tidak enak jika langsung menolak. Padahal jujur dia tidak mau pindah.


"Pikirkan saja selama dua tahun." jawab Restandi kesal. Dia tau Claudio tidak mau pindah. Restandi pun memberikan beberapa tugas untuk Claudio. Setelah itu Restandi dan Arleta pulang. Claudio mencari Aira, dia ingin bertanya sesuatu. Dilihatnya Aira sedang kesal. Menghadapi pasiennya, oh bukan tapi keluarga pasiennya. Claudio pun mendekat karena ingin tau. Paramita rupanya sedang menekan Aira, karena kekesalannya tidak bisa mendekati Restandi. Ada saja yang di keluhkannya tentang ayahnya. Aira masih berusaha sabar.


"Ada apa sis?" tanya Claudio menyela. Dia melihat Aira yang kesal. Paramita terkejut, ada yang menyela. Perkataannya terhenti dan dia menatap Claudio. Yang di tatap tidak kalah penasaran, balas menatap Paramita menantang. Claudio menilai wanita yang di tatapnya. Tinggi, cantik, putih dan sombong. Karena interaksi antara Claudio dan Paramita, percakapan dengan Aira terhenti. Mereka saling menatap. Aira merasa lucu di dalam hatinya.


"Nona Huzen saya permisi dulu." kata Aira kemudian, lalu meninggalkan mereka berdua. Sungguh perempuan itu membuang waktunya. Melihat Aira pergi Claudio pun mengikuti jejaknya.


"Permisi " katanya pada Paramita sambil tersenyum misterius. Paramita hanya menatap Claudio menjauh. Ada sesuatu pada dokter itu yang membuatnya tidak nyaman.


"Ada apa sis, aku ko tidak di jawab?" tanya Claudio sambil menyamakan langkahnya dengan Aira.


"Dok Rest? wah berani juga." Claudio bersiul kagum. Dia mengikuti Aira masuk ke ruangannya. Aira pun menceritakan pada Claudio siapa Paramita Huzen.


"Wah ada yang menarik nih." komentar Claudio, wajahnya memperlihatkan ketertarikan.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Aira ingin tau.


"Bosan, mending ke sini kerja. Sis kamu di pindah ke rumah sakit yang baru?" tanya Claudio penasaran. Ini yang dia ingin tanya pada Aira.


"Ya, aku akan mengikuti dokter Sehun Aria ke rumah sakit yang baru." jawab Aira.

__ADS_1


"Kau tidak keberatan?" tanya Claudio heran.


"Kenapa tidak? Rumah sakit baru, tantangan baru." Aira bersemangat. Huh, Claudio baru ingat Aira berambisi pada karirnya. Merasa tidak tertarik lagi bicara dengan Aira, Claudio pergi meninggalkannya. Di koridor rumah sakit Claudio melihat Paramita yang tengah berjalan. Di tatapnya wanita cantik itu. Di kepalanya sudah ada rencana.


Di rumah Restandi dan Arleta memutuskan bersantai di kamar. Perasaan Arleta sudah lebih baik. Apalagi Restandi tadi membelikan kue kesukaannya pada waktu pulang. Restandi selesai mandi dan keluar dari kamar mandi. Di hampirinya Arleta yang sedang makan kue.


"Jangan banyak-banyak sayang." Restandi mencium kepala Arleta.


"Kenapa? takut tidak kebagian?" tanya Arleta teringat candaan Restandi.


"Bukan itu, aku tidak suka. Menurutku itu terlalu manis.' Restandi tersenyum, lalu dia ketempat tidur dan merebahkan dirinya. Arleta menghabiskan sisa kuenya, dia pun menyusul Restandi dan membaringkan tubuhnya juga. Perutnya semakin berat. Restandi meraihnya, membawa Arleta dalam pelukannya. Diciumnya kening Arleta, matanya, pipinya dan terakhir bibirnya. Di mata Restandi istrinya semakin cantik saja. Restandi semakin terhanyut dengan ciumannya. Semakin lama semakin panas. Arleta menghentikannya.


"Kenapa sayang?" tanya Restandi penasaran.


"Aku lelah." jawab Arleta singkat.


"Padahal aku sudah naik nih." Restandi membawa tangan Arleta untuk meraba bagian bawahnya, sebagai bukti akan perkataannya.


"Pokoknya tidak mau." kata Arleta kejam.


"Ya sudah, memangnya aku tidak bisa mencari pelampiasan diluar." kata Restandi kesal. Dia pun bangkit dan melangkah keluar kamar. Arleta pucat melihat suaminya pergi. Pelampiasan di luar? Apa yang akan di lakukan suaminya? Apalagi hari ini dia sudah melihat wanita yang mengejar suaminya. Tentu mudah bagi Restandi jika ingin mendapatkan seseorang untuk pelampiasannya. Arleta bangkit berdiri dan berjalan ke arah balkon. Dia melihat apakah mobil Restandi meninggalkan rumah. Tapi yang di dengarnya malah suara dari kolam renang. Seperti ada yang menceburkan diri. Arleta pindah ke sisi balkon yang berbeda. Dilihatnya suaminya sedang berenang. Arleta merasa lega. Jadi itu maksud suaminya. Arleta berpikir enak juga jika berenang pas udara panas seperti ini. Tapi dia lelah. Karena penasaran Arleta memeriksa koleksi bikininya. Apakah masih muat? Arleta mencobanya. Untuk bagian dada terasa sesak karena dadanya membesar. Tapi terlihat seksi. Segitiga pengamannya tidak masalah karena di bawah perut. Timbul ide di kepala Arleta. Dia pun berjalan ke arah balkon kembali. Dilihatnya suaminya di bawah. Arleta memanggil dengan mesra.


"Reeeest." suaminya mendengar itu menghentikan renangnya dan memandang ke balkon. Matanya langsung membesar.


"ARLETA!" cukup sudah membuat suaminya kesal. Arleta pun masuk. Dia memutuskan untuk mandi agar tubuhnya segar, lalu tidur karena dia memang lelah. Arleta yakin suaminya pasti sebentar lagi datang untuk memeriksa apakah dia masih mengenakan bikini tadi.

__ADS_1


Jika Restandi tidak mendapat akses, berbeda dengan Sehun. Saat ini dia sedang menjelajahi tubuh Monika. Sudah dua hari mereka mengurung diri di kamar hotel. Yang di lakukan hanya makan, tidur dan bercinta. Sehun tidak ada puasnya.


__ADS_2