
Merasa di amati Khanza pun melihat pada Restandi dan tersenyum.
"Saya Khanza Wiguna, adiknya Aira." kata Khanza pada Restandi sambil mengulurkan tangannya.
"Kamu Khanza adik Aira?" Restandi menyambut tangan Khanza sambil tersenyum ramah.
"Iya, kami duluan." Khanza salah tingkah di perhatikan begitu tangannya jadi menggandeng lengan Kevin. Seperti meminta perlindungan karena merasa malu. Kevin pun segera membawa Khanza pergi. Restandi yang baru tau tentang Khanza bertanya-tanya apa hubungannya dengan Kevin. Tapi tidak dia utarakan. Khawatir Arleta merasa tidak nyaman dengan topik itu. Justru Arlan yang penasaran.
"Itu siapanya Kevin ya?" tanya Arlan pada Revita.
"Asistennya, aku juga belum jelas sejak kapan." Revita belum sempat bertanya pada Kevin. Tapi pemikirannya dengan Arlan sebenarnya sama. Kevin sejak putus dengan Arleta susah dekat dengan wanita. Di jodohkan saja banyak tingkahnya. Tapi mungkin bukan waktunya untuk bicara tentang Kevin. Mereka pun larut dalam pembicaraan lain. Kevin dan Khanza sudah ada di mobil.
"Maaf ya pak, saya jadi gandeng tadi." kata Khanza malu, wajahnya merona.
'Tidak apa, kamu peluk juga saya tidak keberatan." kata Kevin menggoda Khanza. Wajah gadis itu semakin merona. Kevin senang melihatnya. Khanza selalu menjaga jarak dengannya, hari ini dia bisa bicara banyak dengan gadis itu.
__ADS_1
"Jadi mantan pak Kevin menikah dengan dokter Restandi?" Khanza mengalihkan rasa malunya.
"Saingan saya berat kan?" perkataan Kevin menjadi jawaban. Jelas, pikir Khanza. Restandi Gutama. Aira saja kakaknya begitu mengagumi mentornya.
"Tapi kan pak Kevin sudah dapat gantinya. Yang di Australia juga cantik ko." Khanza memaksudkan Avery. Kevin tertawa lepas.
"Dia bukan kekasih saya, waktu itu saya cuma ganggu kamu. Kekasih saya malah adiknya. Gara-gara saya pacaran sama adiknya, Arleta ninggalin saya.." jelas Kevin. Dia jadi ingat ketika mengganggu Khanza.
"Maksud bapak? saya bingung jadinya." Khanza jadi tertarik dengan kisah cinta atasannya.
"Hubungan sama Melani bagaimana?" Khanza menatap Kevin lekat, walau yang di tatap sibuk menatap jalanan.
"Saya putusin, saya kan tidak cinta sama dia. Hubungan saya sama Melani karena saya kesepian di sana. Awalnya saya jadi benci sama Melani. Karena pacaran sama dia Arleta meninggalkan saya. Walau saya tau, itu salah saya. Tapi ketika saya sudah bisa menerima semuanya saya jadi bisa berteman dengan Melani. Hubungan kami baik, sampai dia meninggal dunia beberapa waktu yang lalu." Kevin mengenang Melani.
"Saya brengsek ya Khanza." Kevin menatap Khanza sambil tersenyum, namun masih ada gurat kesedihan pada matanya. Dalam hati Khanza setuju, tapi dia tidak berani mengutarakannya. Bukan karena Kevin atasannya. Tapi Khanza sendiri merasa bukan orang yang sempurna. Dia juga banyak menyusahkan keluarganya.
__ADS_1
"Itu pelajaran terberat dalam hidup saya. Arleta pantas mendapat pria yang lebih baik dari saya." sambung Kevin lagi. Khanza jadi terkesan pada Kevin. Pria yang mengakui kesalahannya dan bisa menerima kekalahannya.
"Saya rasa hanya orang buta yang tidak jatuh cinta pada mbak Arleta." kata Khanza menghibur.
"Menurut saya orang buta pun pasti jatuh cinta jika berinteraksi dengan Arleta." Kevin menyanggah. Khanza jadi melihat betapa berharganya Arleta bagi Kevin. Dan dia kehilangan sosok itu. Mereka datang tepat waktu pada pertemuan siang itu. Ternyata yang mereka temui perwakilan dari satu perusahaan yang cukup punya nama. Yang datang seorang wanita dengan dandanan menor dan baju yang terlalu pendek. Wanita itu terkejut Kevin datang berdua. Biasanya Kevin datang sendiri untuk pertemuan bisnisnya.
"Mas Kevin saya Isye yang membuat janji Minggu lalu." wanita itu memperkenalkan dirinya. Gaya bicaranya merayu dan dia menyilang kan kakinya agar Kevin terkesan padanya. Isye tidak memperdulikan Khanza, karena kesempatan untuk menjerat Kevin sudah di depan mata. Khanza merasa geli melihat wanita itu. Teman-temannya kadang norak kalau naksir cowok tapi tidak kampungan seperti itu. Kevin sendiri muak melihatnya. Menurut Kevin gaya busana wanita itu masih kalah jauh sama Khanza. Asistennya itu walau tidak memakai baju terbuka masih bisa terlihat seksi tapi tetap sopan.
"Bagaimana mas dengan proposal yang kami ajukan?" tanya Isye dengan senyum menggoda pada Kevin. Khanza rasanya mau muntah melihatnya.
"Justru kedatangan kami untuk memberi tau bahwa belum bisa melakukan kerja sama dengan perusahaan yang anda wakilkan. Saya akan bicara dengan pimpinan anda untuk lebih jelasnya." kata Kevin tegas. Yang seperti ini tidak masuk dalam daftar bisnisnya.
"Apa perlu saya hubungi sekarang pak?" tanya Khanza, jiwa mudanya terpancing.
"Boleh, kamu hubungi. Nanti saya yang bicara." jawab Kevin pada Khanza. Isye langsung pucat. Kevin langsung menghubungi atasannya, dalam arti dia sudah tidak bisa nego lagi. Khanza pun menghubungi sekertaris dari pimpinan yang di maksud. Seperti yang Kevin katakan, dia sendiri yang bicara pada pimpinannya jika perusahaannya belum bisa bekerja sama. Apa yang di lakukan Kevin memutus rantai Isye. Dengan menghubungi pimpinannya langsung mereka tidak perlu lagi berurusan dengan Isye. Kevin sudah malas berurusan dengan wanita seperti itu. Isye sendiri jadi pucat dan takut. Dia akan di tegur atasannya karena tidak becus bekerja. Setelah itu Kevin dan Khanza meninggalkan Isye. Hari itu Khanza jadi berpikir terbuka tentang Kevin. Khanza tidak membatasi diri lagi. Melihat Khanza yang mulai mencair Kevin pun mulai lebih semangat dengan pendekatannya. Radian di liburkan dari tugasnya menjemput dan mengantar pulang Khanza. Hal tersebut Kevin yang melakukannya. Kevin mencurahkan perhatian pada Khanza sehingga gadis itu melihat Kevin dengan cara yang berbeda. Khanza juga melihat Kevin sosok yang tidak mudah dekat dengan wanita. Mungkin Kevin telah belajar dari apa yang dialaminya. Untuk mendapatkan Khanza, jalan semakin terbuka bagi Kevin.
__ADS_1
Pernikahan Rion dan Trisia baru saja terjadi. Namun karena kerja keras Rion Trisia pun mengandung. Tepat seperti yang Rion inginkan agar Trisia benar-benar menjadi miliknya. Hari ini Trisia ingin martabak, Rion pun pergi membelinya. Siang hari minta martabak perkara mudah.