
Kevin tersenyum misterius karena permintaannya pada Revan.
"Kau menikahinya juga aku tidak keberatan." jawab Revan santai. Kevin tertawa.
"Ok kirim dia besok ke kantorku." Kevin pun meninggalkan Revan. Khanza saat itu tengah pulang ke apartemennya ingin bersantai. Dia tidak menyangka jika hidupnya berada di tangan Kevin Monta. Besoknya Khanza kembali ke kantor Revan, seperti biasa Khanza kesiangan. Revan sudah menyiapkan surat-surat pengajuan diri Khanza ke perusahaan Kevin, dan meminta Khanza untuk pergi ke sana. Khanza terkejut, mengapa dirinya harus bekerja di kantor Kevin. Revan beralasan itu syarat yang Kevin minta untuk perjanjian kerja samanya. Dengan kata lain Khanza tidak punya pilihan dan harus mengikutinya.
"Berapa lama kak Khanza bekerja di sana?" tanya Khanza dengan kesal.
"Satu tahun dan kakak minta jangan buat malu kakak di sana." ancam Revan. Dia tau tabiat adiknya. Khanza tidak berkata apa pun. Dengan malas dia pun pergi ke kantor Kevin. Ketika Khanza tiba di sana Kevin juga baru tiba dari pertemuannya di luar kantor. Kevin melihat kendaraan yang Khanza gunakan adalah mobil keluaran terbaru. Kevin sudah membayangkan betapa senangnya hidup Khanza. Di ruang Kevin Khanza di perkenalkan pada dua sekretaris Kevin. Yang pertama adalah Radian, usianya di atas Khanza lima tahun, berpengalaman dan biasa menangani pekerjaan Kevin di kantor. Yang kedua Nita , sekretaris andalan Kevin yang mengurus jadwal dan surat-menyurat.
"Mulai besok kamu tidak perlu bawa mobil. Radian akan menjemputmu setiap hari." kata Kevin pada Khanza. Gadis itu bingung, seistimewa itukah dirinya. Khanza tidak tau apa yang ada di kepala Kevin. Nita mengurus berkas masuknya Khanza ke perusahaan. Tugas Khanza adalah menjadi asisten pribadi Kevin. Khanza akan mengikuti kegiatan Kevin di dalam atau di luar kantor. Khanza pun mulai mempelajari tugas-tugasnya.
"Kamu jemput Khanza besok lebih awal. Yang sabar ya Radian." kata Kevin pada bawahannya. Besok paginya Radian menjemput Khanza di apartemennya. Ternyata Khanza baru bangun. Rupanya itu maksud ucapan Kevin padanya kemarin, Radian baru paham. Radian di persilahkan masuk untuk menunggu Khanza bersiap-siap. Dia memperhatikan tempat tinggal gadis itu. Apartemen mewah tapi rapih dan bersih. Tidak banyak barang seperti tempat tinggal wanita pada umumnya. Mungkin pemiliknya jarang melakukan kegiatan di rumah. Khanza tidak memerlukan waktu lama untuk bersiap. Mereka sudah jalan tiga puluh menit kemudian.
"Mbak Khanza mengapa tinggal sendirian?" tanya Radian ingin tau.
__ADS_1
"Jangan panggil mbak dong, kak Radian lebih tua dari Khanza loh." protes Khanza.
"Jadi saya tua?" tanya Radian sambil menoleh.
"Maksudnya lebih senior." Khanza meralat ucapannya.
"Saya panggil Khanza tidak apa? Pertanyaan saya belum di jawab." Radian penasaran.
"Iya panggil Khanza saja. Tinggal sendiri tidak ribet. Kalau aku mau keluar atau pulang malam jalan sama teman tidak diomelin." kata Khanza jujur sambil tertawa.
"Awalnya tidak, tapi akhirnya di kasih." kata Khanza mengingat perjuangannya.
"Jadi kamu beresin apartemen kamu sendiri?" Radian mempercepat laju mobilnya, sudah mau terlambat.
"Iya kalau sempat. Ada sih yang datang seminggu sekali dari rumah papa untuk bantu aku." Khanza tidak menutupi tentang dirinya. Menurut Radian untuk anak manja seperti Khanza itu sudah bagus bisa menjaga apartemennya tetap bersih dan rapih. Mereka tiba di kantor sedikit terlambat, tapi Kevin tidak marah. Dia tau bagaimana Khanza. Radian yang belajar dari situasi tersebut. Pria itu jadi tau mengapa Kevin tidak ingin Khanza berangkat sendiri ke kantor. Khanza pasti terlambat. Jadi Kevin ingin Radian menggedor apartemen Khanza agar gadis itu tidak terlambat. Khanza sendiri merasa tidak enak jika Radian ikut terlambat karena dirinya. Maka Khanza belajar untuk bangun pagi dan tepat waktu ketika Radian menjemputnya. Khanza juga berpikir Radian pasti berkorban untuknya dengan bangun lebih pagi untuk menjemputnya. Untuk kehadirannya setiap pagi ke kantor Khanza sudah bisa tepat waktu. Untuk pekerjaan Khanza mengeluh dalam hati. Jadwal kerja Kevin padat, Khanza merasa lelah bekerja bersama Kevin setiap hari. Untuk materi pekerjaan dengan kepintarannya Khanza bisa mengikuti. Jika tidak mengerti Khanza bisa bertanya pada Radian yang dengan senang menerangkannya. Khanza jadi paham, beginilah dunia bekerja. Tidak seperti dulu di kantor Revan waktu kerjanya tidak sepadat ini. Tapi memang jelas berbeda. Perusahaan Kevin lebih besar di banding perusahaan Revan. Kevin juga tau Khanza kewalahan. Untuk anak manja yang belum terbiasa. Tapi selama Khanza tidak mengeluh Kevin tidak mengurangi pekerjaannya. Khanza tidak punya waktu lagi untuk berkumpul bersama teman-temannya. Akhir pekan kadang Khanza masih menemani Kevin bekerja. Hari Minggu Khanza akan menggunakannya untuk tidur. Kadang dia keluar hanya untuk membeli kebutuhannya di apartemen. Hari ini Khanza mengikuti Kevin untuk menghadiri pertemuan di sebuah hotel. Kevin mengajak Khanza makan malam dulu sebelum mengantar gadis itu pulang. Karena sudah malam dan lelah Khanza tidak berselera makan. Kevin memperhatikannya.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu setelah benar-benar bekerja sekarang?" tanya Kevin ramah. Kalau mau jujur sebenarnya Khanza ingin marah-marah. Dia sudah kehilangan mada-masa bahagianya dengan temannya. Khanza hanya bisa melihat postingan mereka di ponselnya tentang jalan-jalan mereka atau acara pesta yang mereka datangi.
"Biasa saja." jawab Khanza malas. Khanza tidak berani macam-macam pada Kevin. Kakak "tirinya" sudah membuangnya. Hidup Khanza bergantung Kevin sekarang. Kevin tau jawaban Khanza tidak benar. Melihat Khanza yang malas menjawab Kevin pun lebih memilih menghabiskan makannya. Tiba-tiba Revita datang menghampiri.
"Bang Kevin, Abang di sini?" tanya Revita sambil menepuk bahu Kevin.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Kevin terkejut. Revita duduk di sebelah Kevin sambil menyender manja.
"Rapat bang sama bos, tapi dia masih lama aku di suruh makan duluan. Abang traktir ya." kata Revita manja. Dia datang bersama Arlan, Kevin tau itu.
"Ya sudah, pesan sana." kata Kevin sambil tersenyum. Jarang-jarang dia bisa bertemu adiknya di luar.
"Bang dua porsi boleh ya, abang sayang kan sama Vita." Revita merayu. Dia pesan untuk Arlan juga.
"Iya. Apa sih yang tidak buat kamu?" Kevin bangga adiknya ingat suami. Dia berharap Revita dan Arlan rukun selalu. Khanza melihat itu dengan tidak senang. Ternyata bosnya pacarnya dua. Satu yang Khanza lihat di Australia, satu lagi di depannya. Khanza melirik Kevin. Memang sih bosnya tampan. Pantas tidak ada kontak dengan pacarnya yang di Australia, ternyata di sini punya pacar lagi batin Khanza. Dia jadi sebal pada Kevin. Khanza jadi membandingkannya dengan Radian.
__ADS_1