Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
153. Keluarga Baru Rama


__ADS_3

"Baiklah, itu kalau Rama mau." jawab Sehun. Monika pun memanggil Rama. Anak itu tampak takut ketika datang. Dia duduk menempel pada Farida.


"Jangan takut nak. Kami hanya ingin mengajakmu untuk menginap di rumah kami beberapa hari saja. Om akan mengantar kamu sekolah pagi hari, nanti siangnya Tante yang akan menjemputmu." Marwan berusaha mengambil hati Rama.


"Kalau kamu tidak betah boleh ko pulang lagi ke sini. Minta Tante Yanti antar Rama ke sini." Sehun mengusap rambut Rama lembut. Berusaha memberi pengertian kalau dia tidak akan di abaikan. Rama menatap Farida.


"Nenek bagaimana?" tanya Rama khawatir. Selama ini dia tidak pernah berpisah dengan Farida. Di tanya seperti itu Farida tidak bisa menjawab. Dia berat untuk melepas Rama.


"Bu kami tidak mengambil Rama dari ibu. Kami hanya menjalankan amanah. Jika nanti Rama sudah besar ingin tinggal dan mengabdi pada ibu kami tidak akan menghalangi. Rama juga boleh bertemu ibu, kapanpun dia mau." Marwan tau perasaan Farida. Dia berupaya bijak.


"Menginapkan di sana beberapa hari. Kalau kangen nanti telpon nenek ya." Farida ingat kata-kata Sehun, jangan egois.


"Ayo Mama bantu beresin bajunya." kata Monika yang lalu menuntun Rama. Sedangkan Farida berpesan pada Marwan dan Yanti apa saja kesukaan Rama dan hal-hal yang tidak Rama sukai. Yanti mencatatnya dengan baik. Rama pun di bawa Marwan dan Yanti. Awalnya Farida khawatir pada Rama. Tapi anak itu kelihatan senang. Sikap Marwan dan Yanti telah berubah, mereka memperhatikan dan menyayangi Rama. Hingga suatu siang Yanti dan Rama muncul di rumah Farida.


"Rama kangen sama ibu katanya, jadi kami ke sini." kata Yanti pada Farida.


"Ya ampun, pulang sekolah ya. Pasti belum makan. Ayo kita makan dulu ya ." Farida mengajak mereka makan siang bersama yang lain. Rama juga rindu pada adik-adiknya yang lain. Maka dia menikmati kesempatan itu.


"Nek, papa tidak ke sini?" tanya Rama tentang Sehun.


"Papa lagi sibuk, maka tidak ke sini. Kalau kamu kangen telpon aja." Farida mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sehun.


"Ya Bu ada apa?" Sehun menjawab panggilan Farida.


"Sibuk tidak nak?" tanya Farida.


"Baru istirahat Bu, kenapa?" Sehun sedang di ruangannya bersama Monika. Baru selesai makan siang.

__ADS_1


"Ada yang kangen sama kamu." Farida memberikan ponselnya pada Rama. Ketika Rama menyapa Sehun terkejut sekaligus senang. Mereka berbincang dengan seru. Rama bercerita dia senang tinggal bersama Marwan dan Yanti. Rama juga mengatakan dia seperti punya orangtua sendiri. Yanti tersenyum lega mendengar cerita Rama pada Sehun. Apa yang dia dan Marwan lakukan membuat Rama senang tinggal bersama mereka. Farida sendiri jadi lega melepas Rama.


"Sebentar ya nak, ibu ke kamar dulu." kata Farida pada Yanti. Dia mendengar Nirma menangis. Rupanya Nirma lapar dan ingin susu. Farida membawa keluar Nirma dan meminta Wati asisten rumah tangganya membuat susu. Rama masih sibuk bicara dengan Sehun.


"Usianya berapa Bu?" tanya Yanti menatap Nirma di pangku Farida.


"Lima bulan nak." jawab Farida. Dia menerima botol susu dari Wati dan memberikannya pada Nirma. Bayi itu pun sibuk menyusu.


"Orangtuanya ke mana Bu?" tanya Yanti lagi.


"Ibu tidak tau. Nirma di tinggalkan di depan rumah ibu yang lama. Para tetangga yang mengantarkannya ke sini. Jadi ibu merawatnya." jawab Farida.


"Ya ampun, di saat saya susah punya anak ada orang yang tega membuang bayinya." kata Yanti marah. Farida tersenyum, dia sendiri juga tidak bisa punya anak.


"Memangnya masalah kalian itu apa?" tanya Farida bersimpati pada Yanti.


"Tapi Marwan itu kelihatannya pria yang baik." Farida berpikir positif.


"Benar Bu, mas Marwan menolak permintaan orangtuanya untuk menikah lagi. Dan dia menyetujui keinginan saya untuk merawat Rama. Mas Marwan sangat sayang pada Rama Bu." mata Yanti berbinar. Syukurlah, pikir Farida. Masih ada suami berhati baik seperti Sehun dan Marwan. Yang bisa menerima kekurangan dalam pernikahan mereka.


"Boleh saya gendong Bu?" tanya Yanti meminta Nirma pada Farida.


"Boleh." Farida menyerahkan Nirma yang sudah mulai tidur pada Yanti. Dia tersenyum melihat Yanti yang meninabobokan Nirma.


"Maaf Bu, boleh saya bawa Nirma menginap Bu?" tanya Yanti tiba-tiba.


"Nanti kamu repot." Farida tidak percaya Yanti bisa merawat bayi. Monika saja tidak di percaya oleh Farida.

__ADS_1


"Tidak Bu. Kalau nanti repot saya bawa pulang lagi ke sini." kata Yanti berjanji.


"Ya sudah, ibu siapkan keperluannya. Besok kamu antar lagi ke sini." Farida beranjak ke kamar. Dia tidak tega menolak keinginan Yanti.


"Ini baju dan keperluannya. Kalau Nirma sakit cepat hubungi ibu ya." pesan Farida.


"Adik Nirma ikut kita pulang Bu?" tanya Rama antusias. Dia memanggil Yanti ibu dan memanggil Marwan ayah.


"Iya, besok kita antar lagi ke sini." jawab Yanti senang.


"Asik, Rama tidak sepi di rumah. Ada adik Nirma." Rama senang Nirma di bawa.


"Eh kamu harus belajar Rama." kata Farida mengingatkan.


"Iya, tapi masih boleh kan jaga adik. Ya kan Bu?" tanya Rama ingin tau. Di rumah Farida Rama terbiasa mengawasi adik-adiknya. Tapi di rumah Marwan dia sendirian.


"Boleh." jawab Yanti singkat. Mereka pun pulang membawa Nirma. Farida berdoa agar Rama bahagia bersama keluarga barunya. Besoknya sepulang Rama dari sekolah mereka datang lagi ke rumah Farida. Yanti berjanji untuk mengantar Nirma pulang.


"Rewel tidak dia nak?" tanya Farida.


"Tidak Bu, dia manis ko. Setelah minum susu dia tidur. O ya Bu kata mas Marwan alangkah baiknya kalau kami bisa mengadopsi Nirma. Mas Marwan suka sekali saya bawa Nirma. Kata Mas Marwan jika di ijinkan anak kami jadi sepasang." Yanti menyampaikan permintaan suaminya. Farida terdiam. Melihat Yanti yang sangat ingin punya anak Farida tidak tega. Tapi dia khawatir mereka tidak sayang lagi pada Rama.


"Yanti kalau soal itu harus bicara dulu pada Sehun dan Monika." kata Farida tegas. Keputusan bukan di tangan dia. Mereka pun berembuk lagi. Farida mengungkapkan kekhawatirannya pada Sehun. Hal itu di ungkapkan Sehun pada Marwan.


"Apa nanti kasih sayang kalian tidak akan terbagi?" tanya Sehun.


"Pasti terbagi, tapi akan sama besarnya. Karena sekarang anak kami dua orang." jawab Marwan. Yanti mengangguk tanda setuju dengan perkataan Marwan.

__ADS_1


"Tapi harus ada perjanjian." kata Sehun dengan tegas.


__ADS_2