
Tapi Rion juga tau Armando sudah punya Melani. Rion hanya menunggu Armando melepaskan Trisia. Tidak ada salahnya kan jika dia mendekati Trisia, walau gadis itu tidak memperdulikannya. Rion heran di saat para wanita berusaha untuk dekat dengannya tapi Trisia tidak. Rion tidak tau jika Trisia mencintai Armando. Trisia sendiri tidak tau jika Rion mengejarnya. Pikirannya sibuk dengan pekerjaannya dan pertunangannya yang menguras air mata. Dia sedih melihat Armando tidak memperdulikannya. Walau dia berupaya untuk membantu Armando dan tidak menolak pertunangan ini tapi hatinya menderita. Trisia bisa saja memutuskan pertunangan sepihak, tapi dia tau Armando pasti akan di jodohkan dengan gadis lain. Jika Armando kesal bila harus tampil bersama Trisia. Sebaliknya Trisia senang karena pada saat itu Armando akan bersikap baik padanya. Trisia tidak merasa perlu membuka hatinya untuk pria lain. Nanti saja jika Armando benar-benar meninggalkannya. Di rumah Rion menceritakan pada Arleta, jika Trisia menjadi lawan mainnya di film barunya. Jelas terlihat dari ucapannya jika Rion akan menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Trisia. Arleta menjadi kesal. Dia tidak rela jika Trisia di permainkan oleh Rion. Arleta yakin Rion hanya ingin mendapatkan Trisia untuk kesenangannya, bukan karena dia jatuh cinta. Arleta pun menyampaikan pada Armando untuk mengawasi Trisia. Tapi Armando menanggapinya dengan acuh. Kebetulan pikir Armando. Jika Trisia jatuh cinta pada Rion mereka bisa berpisah dan memutuskan pertunangan. Arleta jadi tambah kesal. Restandi sedang bekerja di balik meja kerjanya. Tapi dia terusik dengan Arleta yang gelisah di tempat tidur. Meja kerja Restandi memang tidak di pindahkan. Arleta lebih suka Restandi tetap bekerja di kamarnya, Arleta jadi tidak merasa sendirian. Kadang Arleta menemani sambil membaca. Hari ini Arleta sedang berbaring di tempat tidur. Tapi dia tidak bisa tidur dan gelisah karena perasaan kesalnya. Hal itu menarik perhatian Restandi. Di bereskannya pekerjaannya dan mematikan laptopnya. Restandi lalu menghampiri tempat tidur dan berbaring di sebelah Arleta.
"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Restandi pada Arleta yang mencoba memejamkan matanya. Arleta menghela napas kesal lalu pelan-pelan dia bercerita tentang ulah Rion dan kekhawatirannya atas Trisia. Restandi diam mendengarkan. Arleta juga menumpahkan rasa kesalnya pada Armando yang tidak perduli atas sarannya.
"Arleta sayang Trisia bukan anak kecil lagi, kamu jangan khawatir seperti itu." Restandi memeluk Arleta sayang.
"Tapi kamu kan tau adikmu Rion." Arleta masih kesal.
"Arleta aku yakin Trisia tau persis siapa yang harus di genggamnya." Restandi membuat Arleta diam memikirkan perkataannya.
"Arleta, apa kau sudah siap?" Restandi bertanya sambil menciumi wajah Arleta. Semula Arleta bingung apa yang di maksud Restandi. Tapi sikap Restandi yang mesra Arleta mengerti. Suaminya bertanya tentang malam pertama yang sudah terlewat jauh.
__ADS_1
"Rest dari awal menikah aku juga sudah siap. Tapi kamu yang belum mau melakukannya." jawab Arleta lembut, di usapnya pipi Restandi. Sejak menikah Arleta sudah memasrahkan dirinya pada suaminya. Restandi tampak senang mendengarnya.
"Kalau begitu aku akan melakukannya malam ini." Restandi mulai melepaskan kontrol dirinya. Rencananya dia ingin melakukan pada saat Arleta sudah mencintainya. Tapi setiap malam tidur dan memeluk Arleta ada yang terbangun dalam dirinya. Gairahnya terpancing. Apalagi Arleta sudah merasa nyaman dengan hubungan mereka tidak merasa sungkan untuk memeluknya dan menciumnya. Restandi jadi semakin ingin. Karena Arleta sudah bersedia Restandi pun melancarkan serangannya malam ini. Esok paginya Arleta terbangun dan merasa ada yang menatapnya. Ternyata suami yang sudah memilikinya secara utuh sedang menatapnya.
"Kamu sudah bangun sayang." Restandi mengecup bibir Arleta. Istrinya hanya tersenyum malu.
'Masih sakit?" tanya Restandi mesra. Dia merasa puas dan bahagia, ternyata istri yang di nikahinya masih suci. Arleta hanya mengangguk. Di ingatnya semalam Restandi memperlakukannya dengan lembut, mungkin karena ini pertama kali untuknya. Restandi memeluk Arleta mesra.
"Mandi yuk aku bantu ya." Restandi bangkit lalu menggendong Arleta ke kamar mandi. Arleta membiarkan perlakuan Restandi. Dia senang suaminya memanjakan dirinya. Mereka mandi bersama Restandi menggosok tubuh Arleta sesekali mencium mesra istrinya. Dari sejak semalam Arleta sudah berdebar jika Restandi menyentuhnya. Karena ini awal kegiatan intim mereka, maka Arleta juga baru merasakan demikian. Ada perasaan bahagia sudah memberikan dirinya pada suaminya. Sebenarnya Arleta ingin tau apakah Restandi benar puas tapi dia malu. Mereka selesai mandi. Restandi mulai berpakaian, Arleta memilih untuk mengeringkan rambutnya terlebih dahulu. Karena Arleta sering mengangkat tangannya maka belahan dadanya semakin lebar, jubah mandinya semakin longgar. Restandi yang sudah rapih berpakaian melihat itu menghampiri Arleta. Diambilnya alat pengering rambut Arleta.
"Sini biar ku bantu, kamu tuh bikin aku tergoda untuk nidurin kamu lagi." Restandi menunjuk belahan dada Arleta. Melihat belahan dadanya sendiri Arleta tersipu malu. Dia tidak sadar dan tidak bermaksud menggoda suaminya. Restandi mengeringkan rambut Arleta. Setelah kering Arleta pun beranjak untuk memakai bajunya. Restandi menghampiri meja kerjanya melihat sisa pekerjaannya semalam sambil menunggu Arleta. Arleta segera siap mereka pun turun ke bawah untuk sarapan. Seperti biasa Sofi dengan riang menyambut mereka. Nikolas sibuk dengan surat kabar di tangannya. Tampaknya dia sudah selesai sarapan.
__ADS_1
"Kalian tidak mau pergi bulan madu?" tanya Sofi sambil memperhatikan anak dan menantunya. Arleta menatap Restandi bingung. Karena yang paling sibuk kan Restandi. Suaminya tersenyum karena mengingat kegiatan semalam.
"Nanti kami atur ma." jawab Restandi. Kalau begini rasanya bulan madu menyenangkan juga. Arleta tidak mengatakan apa pun. Dia teringat tadi malam perasaannya jadi malu, padahal Sofi tidak tau apa yang di lakukan pasangan itu semalam.
"Aku antar ke klinik ya." kata Restandi pada Arleta. Dia masih ingin dekat istrinya. Arleta mengangguk. Dilihatnya Restandi sudah selesai sarapan Arleta pun segera menghabiskan sarapannya. Mereka pun pamit. Nikolas sepertinya belum akan berangkat. Restandi mengantar Arleta ke klinik.
"Kamu mau kita bulan madu Arleta?" tanya Restandi sambil tersenyum penuh arti.
"Aku sih terserah kamu, kan kamu yang kerjanya sibuk." jawab Arleta, dia berusaha tidak menghiraukan godaan Restandi.
"Kamu maunya ke mana?" kali ini Restandi memperhatikan jalan karena padatnya kendaraan.
__ADS_1
"Boleh aku pikirkan dulu Rest?" Arleta belum punya gambaran sama sekali.