Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
171. Anakku Alrest


__ADS_3

"Bukankah belum lama kalian mengambil alih sebuah mal?" Arlan tau tentang itu.


"Mal di pegang Ardi langsung, Sehun bantu di sana." penjelasan Restandi membuat Arlan paham.


"Jadi sekarang kau yang harus menangani stasiun TV." tebal Arlan.


"Benar, itu sebabnya aku butuh bantuanmu." Restandi menuntaskan misinya. Tinggal Arlan yang mengambil keputusan.


"Coba aku bicara dulu dengan Revita ya." persis seperti yang Restandi lakukan, meminta pendapat istri.


"Lusa kami ada rapat di sana. Kalau bisa sekalian kau datang dan menempati posisi di sana." kata Restandi mengakhiri pertemuan mereka. Dalam perjalanan pulang terjebak macet membuat Restandi menjadi lelah. Dia ingin cepat tiba di rumah. Terbayang wajah istri dan anaknya. Sesampainya di rumah, Alrest menyambutnya di dampingi Rina sang pengasuh.


"Papa." Alrest ingin memeluk Restandi yang baru turun dari mobil.


"Nanti ya jangan peluk papa dulu." Restandi menolak, Rina langsung menahan Alrest.


"Itu apa?" tanya Restandi menunjuk gelas yang di pegang Rina.


"Air jeruk tuan, nyonya besar yang suruh den Alrest minum." jawab Rina.


"Minum dulu jeruknya baru main sama papa. Papa juga mandi dulu." kata Restandi pada Alrest. Rina pun membujuk Alrest.


"Ayo minum dulu yuk jeruknya." Di tuntunya Alrest ke taman di halaman rumah. Alrest mengikuti Rina sambil menoleh pada papanya. Restandi mengangguk pada putranya agar Alrest mengikuti Rina. Alrest pun menurut. Restandi segera naik ke lantai dua. Arleta baru saja selesai mandi, wanginya menggoda hidung Restandi. Segera dia menyergap istrinya dan menciuminya.

__ADS_1


"Mana nih istri yang kemarin takut kehilangan suaminya." goda Restandi pada Arleta.


"Ih, kamu salah paham kali." Arleta mendorong Restandi ke kamar mandi. Rugi dong dia sudah mandi sedang Restandi belum.


"Tunggu ya pembalasanku." kata Restandi pura-pura dendam pada istrinya.


"Tidak takut." tantang Arleta lalu meninggalkan suaminya. Arleta akan ke lantai dasar, mau mencari yang segar-segar untuk dia dan Restandi. Sofi sudah membuat air jeruk di ruang makan.


"Ma aku mau dong." kata Arleta pada Sofi.


"Baru mama mau antar ke kamar kamu." Sofi menunjuk mbok Jumi yang sudah siap mau mengantar air jeruk. Arleta mengangguk pada mbok Jumi, si mbok langsung jalan menuju kamar Arleta.


"Mama baik deh." Arleta memeluk Sofi yang begitu perhatian.


"Terima kasih ya ma. Mama the best deh." Arleta memuji ibu mertuanya. Hal yang pantas di puji. Karena Sofi sangat telaten mengurus keluarganya. Itu yang membuat Arleta enggan untuk pindah rumah. Karena Sofi tulus membantunya dan memperhatikan dia dan anak-anaknya. Sofi tidak pernah mengeluh atau marah-marah pada menantunya. Biasanya menegur dengan lembut. Arleta bersyukur ketika rumah di sebelah di berikan pada Rion. Jika tidak dia pasti harus pindah ke sana. Walau masih satu halaman tapi tinggal di sana pasti berbeda rasanya. Trisia saja sekarang lebih sering ada di lantai tiga dari pada di sebelah. Dia sekarang sudah seperti Arleta, sayang pada Sofi. Ketika Arleta sedang istirahat karena baru melahirkan, Trisia yang menemani Sofi berbelanja. Trisia tidak mau di repotkan memiliki anak lagi, Rion pun tidak mengijinkannya. Selain itu dia juga tidak tertarik untuk melanjutkan karir artisnya. Trisia membuka bisnis sendiri. Bisnis kecantikan. Dia membuat kosmetik atas namanya. Trisia bekerja sama dengan Arleta untuk memasarkan produk kecantikannya. Maka dia tidak keberatan untuk membantu Arleta dalam bisnis kliniknya. Mereka melakukan hal yang saling menguntungkan. Restandi keluar dari kamar mandi. Arleta tidak tampak tapi ada dua gelas air jeruk di meja. Sebelum minum Restandi menengok Alris dulu. Bayi itu tidur dengan pipinya yang bulat.


"Gembul bobo ya." Restandi mencium Alris gemas.


"Jangan di bangunkan." Tiba-tiba Arleta masuk dan menegurnya.


"Dia pulas ko, tidak terbangun." Restandi mematahkan kekhawatiran Arleta.


"Tadi malam dia rewel, jadi mungkin sekarang tidurnya enak." kata Arleta sambil duduk dan minum air jeruknya.

__ADS_1


"Masak sih, ko aku tidak tau." Restandi tidak terbangun tadi malam, jadi dia tidak tau istrinya mengasuh Alris semalam.


"Kamu tidur pulas." Arleta justru bersyukur Restandi tidak terbangun. Suaminya kelihatan lelah. Restandi mengingat-ingat mengapa dia tidak terbangun. Ternyata siangnya dia ada tiga operasi yang harus di lakukan. Norman saja sampai mengeluh, mengapa harus berbarengan di hari yang sama. Begitulah jadi dokter. Kadang apa yang mereka prediksi meleset. Sehingga pasien harus di operasi hari itu juga. Di luar terdengar suara Alrest.


"Papa, bis." kata Alrest yang muncul bersama Rina. Alrest memperlihatkan pada Restandi gelas air jeruknya yang sudah kosong.


"Sudah habis? pintar. Sini sama papa." Restandi merentangkan ke dua tangannya. Alrest segera berlari pada papanya. Restandi mengangkat dan mencium pipinya.


"Biar dia sama saya. Kamu istirahat saja." kata Restandi pada Rina. Sang pengasuh langsung menghilang. Restandi membawa Alrest, dia duduk di sofa dan memangku putranya. Alrest merogoh sakunya lalu memperlihatkan sebuah mainan mobil kecil pada Restandi.


"Alrest dapat dari mana?" tanya Restandi ingin tau.


"Opa." jawab Alrest singkat.


"Papa boleh pinjam?" tanya Restandi lembut. Alrest mengangguk. Restandi mengambil mainan itu, di lihatnya apakah ada bagian yang tajam atau berbahaya. Ternyata aman. Nikolas cukup jeli memberi mainan pada cucunya. Restandi mengembalikan mobil itu pada Alrest. Putranya memainkan mobil itu, menjalankannya di tubuh Restandi. Papanya hanya menatapnya sambil tersenyum.


"Sayang, besok kita tengok Revita yuk. Kelihatannya hamilnya tidak semudah dirimu." kata Restandi pada Arleta.


"Boleh, sudah lama tidak lihat Vita." Arleta senang.


"Ayo kita makan malam dulu." Restandi bangkit sambil menggendong Alrest. Dia membawa putranya ke ruang makan. Arleta memadukan air jeruk Restandi ke dalam lemari pendingin, lalu turun ke bawah. Di ruang makan sudah ramai. Nikolas sudah duduk di tempatnya. Ada Rion, Trisia dan Matris yang lebih suka makan di rumah utama. Padahal Sofi sudah akan mencarikan tukang masak untuk Trisia. Tapi Trisia menolak. Dia sudah kecanduan masakan Sofi. Lagi pula makan di rumah mereka lebih sepi. Rumah utama lebih menarik. Restandi menyuapi Alrest makan, sambil menyuapi dirinya sendiri makan. Karena lelah bermain Alrest tidak fokus makan. Dia agak rewel, Restandi harus membujuknya agar mau di suapi makanannya.


"Biar sama papa Rest." kata Nikolas ingin mengambil alih Alrest.

__ADS_1


"Tidak apa pa, sebentar lagi habis." Restandi menolak. Dia tau Nikolas akan mengikuti keinginan Alrest. Lagi pula ini tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Harus mau mengurus putranya.


__ADS_2