
Kevin tidak berlama-lama, setelah melihat tanggapan Arleta dia pun berbalik dan pergi. Kevin tidak menoleh lagi, tidak juga menghampiri keluarganya yang ada di antara para undangan. Kevin membawa kepedihan hatinya sendiri. Pernikahan Arleta dan Restandi di gunakan Mauren untuk mengumumkan pertunangan antara Armando dan Trisia yang membuat keduanya terkejut. Ironinya di situ. Ada yang ingin bersatu dengan orang yang di cintainya tapi tidak bisa. Namun ada yang tidak ingin bersama justru di persatukan. Mauren tidak main-main.dengan keputusannya. Malam itu juga Armando dan Trisia di haruskan bertukar cincin yang sudah di persiapkan Mauren dengan baik. Armando dan Trisia terpaksa melakukan apa yang sudah di rencanakan Mauren. Mereka tidak ingin mempermalukan keluarga masing-masing. Seperti ada perjanjian tidak kasat mata antara Armando dan Trisia untuk tetap tenang. Trisia sendiri akan melakukan semua yang di inginkan Armando. Pesta pernikahan terus berlangsung dengan meriah. Para undangan melakukan foto bersama termasuk para staf rumah sakit. Monika sangat senang bisa berfoto bersama karena pasangan pengantin malam itu adalah pria tampan dan wanita cantik. Dan dua orang tersebut adalah sosok yang baik dalam pandangannya. Namun yang membuat Monika bahagia adalah dia berfoto di samping Sehun. Arleta sempat memperhatikan kebahagiaan Monika. Arleta ikut senang, di hatinya ada janji untuk membantu Monika. Akhirnya pesta pernikahan berakhir juga. Semua pulang dalam keadaan lelah. Arleta dan Restandi pulang ke rumah keluarga Gutama. Itu pilihan Arleta. Dia tidak mau menempati kamar hotel yang di sediakan. Arleta lebih suka beristirahat di kamar Restandi yang sekarang menjadi kamarnya juga. Kamar mereka penuh dengan karangan bunga cantik dan wangi. Sebenarnya Arleta sudah menghias kamar mereka dengan cantik. Dia ingin memberikan sesuatu yang manis pada Restandi. Pria itu sudah melakukan banyak hal untuknya. Maka Arleta merasa sudah kewajibannya membuat Restandi senang dan bahagia. Termasuk malam pertama. Namun Restandi berpikir lain. Dia ingin Arleta mencintainya dan memberikan dirinya seutuhnya. Untuk itu Restandi akan menunggu.
"Arleta sayang, tidur yuk. Kamu tidak lelah?" Restandi melihat Arleta masih memeriksa karangan bunga dan membaca kartunya satu persatu. Ada satu karangan bunga yang membuat Arleta terpaku. Karangan bunga dari Alrika Novarina. Di kartunya tertulis jika dia tulus mendoakan kebahagiaan Arleta. Hati Arleta terharu. Restandi menghampiri Arleta ketika melihat wajah Arleta yang berubah haru.
"Dari siapa?" Restandi bertanya lembut sambil merangkul Arleta.
"Dari Rika." jawab Arleta pelan. Restandi melepas rangkulannya dan menatap Arleta.
"Jadi kamu tau dia di mana?" tanya Restandi terkejut. Arleta mengangguk, dia harus jujur pada suaminya.
"Aku tidak menyangka kalian jadi sedekat ini ." Restandi tersenyum kecil.
__ADS_1
"Sudah ayo kita tidur, sudah malam dan kita sudah lelah." Restandi membopong Arleta ke tempat tidur dan membaringkan istrinya dengan lembut. Arleta tidak menolak karena dia juga merasa lelah. Restandi mematikan lampu dan merangkul Arleta dalam pelukannya.
"Aku senang bisa tidur dan memelukmu setiap malam." kata Restandi dengan sayang. Mereka pun mulai terlelap. Arleta terbangun lebih dulu pagi harinya. Awalnya dia merasa asing dengan pemandangan matanya. Namun melihat Restandi yang masih terlelap sambil memeluknya Arleta jadi ingat. Arleta memulai kehidupan barunya hari ini. Perlahan Arleta menggeser tangan Restandi, suaminya itu pasti lelah menemani keluarga yang datang. Arleta bangkit dan mengambil air minum karena dia merasa sangat haus. Tiba-tiba di dengarnya ada kegaduhan di luar kamar mereka. Karena penasaran Arleta pun membuka pintu kamar. Dia melihat Rion turun dari lantai tiga menuju balkon di lantai itu dengan di iringi seorang satpam. Tampangnya masih berantakan, sepertinya dia di bangunkan dengan mendadak. Rion berdiri di balkon dan menatap ke bawah. Arleta jadi penasaran, dia pun mengikuti dan berdiri di sebelah Rion. Dari balkon tampak pintu gerbang yang tinggi. Di pintu gerbang tampak seorang gadis berdiri sambil menatap ke dalam. Rupanya kedatangannya tidak di sambut. Gadis muda yang cantik dengan dandanan yang seksi. Tapi gadis itu bukan yang dilihat Arleta bersama Rion waktu itu.
"Siapa itu?" Arleta ingin tau. Pertanyaannya membuat Rion menjadi sadar ada orang lain di sampingnya. Rion menatap Arleta yang masih mengenakan gaun tidurnya, menimbulkan ide aneh dalam kepalanya. Rion merangkul Arleta dari belakang lalu dia pun memandang gadis di luar pagar.
"Maaf aku tidak punya waktu untukmu. Aku sibuk saat ini." Rion berkata pada gadis di bawah sana. Gadis itu tampak marah tapi Rion tetap tenang dengan aksinya. Arleta yang terkejut dan bingung dengan apa yang di lakukan Rion. Dia menatap Rion yang tersenyum nakal lalu menatap gadis di luar yang tampak marah tapi lalu pergi dengan mobilnya. Tiba-tiba Arleta jadi mengerti, Rion mengusir gadis itu dengan menggunakan Arleta sebagai alasan. Rion memberikan kesan seolah dia sedang sibuk dengan seorang wanita sehingga tidak mau menemui gadis itu. Belum selesai mencerna pemikirannya dengan baik Arleta sudah di kejutkan dengan hal lain
"Aku hanya melihat siapa yang datang." kata Arleta cepat, dia sangat takut Restandi salah paham dengan apa yang di lakukan Rion.
"Ayo masuk, kau belum mengganti bajumu." Restandi menggandeng Arleta tapi sebelumnya mata Restandi menatap Rion penuh teguran.
__ADS_1
"Maaf kak." kata Rion pada Restandi dengan penuh penyesalan. Restandi tidak mengatakan apa pun, dia menggandeng Arleta kembali ke kamar. Di dalam kamar Arleta tidak membuang waktu berbicara pada Restandi.
"Rest kamu tidak salah paham kan?" tanya Arleta khawatir. Restandi menatap Arleta, sinar matanya tidak semarah tadi. Justru lembut.
"Aku tidak marah sama kamu, aku marah sama si berandal itu." jawab Restandi sambil tersenyum. Di peluknya Arleta erat.
"Berandal itu adikmu Rion." Arleta lega Restandi tidak marah padanya.
"Hal semacam itu sudah sering terjadi, kalau Rion ada di rumah ada saja yang mencarinya. Dia bisa menarik siapa saja untuk menjadi alibinya. Para sepupuku sudah banyak yang di manfaatkan ya. Kamu jangan kaget ya." Restandi menjelaskan dengan sabar. Arleta yakin sekarang, dia sudah di manfaatkan Rion tadi.
"Aku hanya bingung kamu tiba-tiba menghilang. Kamu mandi ya kita turun untuk sarapan." Restandi melepaskan pelukannya. Arleta mengangguk lalu melangkah ke kamar mandi. Restandi duduk di sofa besar memeriksa ponselnya, walau dia mengambil cuti beberapa hari namun tetap ingin tau perkembangan dari pasiennya. Dia tidak lupa akan tanggung jawabnya.
__ADS_1