Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
167. Semakin Hangat


__ADS_3

Arleta merasa hidupnya sudah lengkap. Armando masih bolak balik Amerika Jakarta. Sehun dan Monika tetap sibuk dengan anak-anak mereka, walau Monika belum juga mengandung tapi mereka bahagia. Kevin yang Arleta dengar sedang bulan madu dengan Khanza. Tampaknya mulai program untuk punya anak.


"Mama, Ales lapal." tiba-tiba Alrest menyela lamunan Arleta.


"Alrest lapar? Ayo kita makan ya." Arleta menggandeng Alrest menuju ruang makan.


"Biar sama mama saja ya sayang. Oma sudah buat sup yang enak buat Al." Sofi membawa Alrest bersamanya. Arleta tersenyum. Oma yang sayang cucu.


"Tugasmu itu melayani aku saja." tiba-tiba Restandi berbisik di telinganya. Arleta menoleh. Tampak Alrista sudah ada di gendongan Nikolas. Bayi itu tengah tertawa di goda opanya.


"Ayo ikut aku." Restandi menarik tangan Arleta menuju lantai atas.


"Kamu mau apa?" tanya Arleta bingung.


"Tugas istri itu melayani suami." Restandi berkata sambil menaikan alisnya. Arleta tau yang di maksud.


"Tapi Rest kita kan masih ada tamu." bantah Arleta.


"Itu urusan Rion. Siapa suruh kamu cantik banget hari ini." Restandi tidak perduli. Di bawanya Arleta ke kamar. Tanpa membuang waktu Restandi segera minta di layani. Arleta pasrah. Suaminya tampak bersemangat hari ini. Seperti kucing yang sudah seminggu tidak bertemu ikan.


"Sudah ya." kata Arleta setelah Restandi selesai.


"Tidak boleh lagi? tanggung nih." Restandi membujuk.


"Nanti malam lagi." jawab Arleta tegas. Kalau di kasih bisa sampai malam Restandi beraksi. Dengan terpaksa Restandi bangkit dan membantu Arleta berdiri. Mereka mandi bersama. Restandi membantu Arleta mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


"Kita turun yuk, aku lapar." kata Arleta, dia juga ingin melihat anak-anaknya.


"Siap nyonya." Restandi menggandeng Arleta turun. Di ruang makan tampak seluruh keluarga tengah berkumpul. Baru saja Restandi dan Arleta duduk sudah di sapa.


"Rest nanti malam wakili papa datang ke undangan ya." kata Nikolas pada Restandi. Dia langsung berpikir, acara adik-asiknya dengan Arleta akan terganggu nih. Restandi menatap Rion. Adiknya pura-pura tidak melihat. Rion malas pergi ke undangan. Biar bagaimana dia dan Trisia masih menjadi pusat perhatian.


"Iya pa." jawab Restandi pada akhirnya. Dia menatap Arleta meminta dukungan. Arleta mengangguk, dia akan menemani Restandi pergi malam ini. Kalau dia menolak suaminya harus pergi sendiri. Itu berbahaya, Restandi akan menghukumnya sampai pagi nanti. Malam itu Arleta tampil cantik. Dia hanya ingin tampil baik sebagai menantu Nikolas Gutama. Restandi yang panas dingin, istrinya di lirik sana sini.


"Sayang kita jangan lama-lama ya di sini." kata Restandi resah.


"Tunggu dong Rest. Aku mau mencoba beberapa menu dulu." berbeda dengan Restandi, Arleta justru bangga menggandeng Restandi. Banyak wanita yang melirik Restandi. Ada juga yang terang-terangan menyapa. Restandi membalas sapaan sambil memeluk pinggang Arleta. Memberi tau dia sudah punya pendamping. Dan pada beberapa kolega dia memperkenalkan istrinya. Arleta senang karena dia mendapatkan red Velvet pada jamuan malam ini. Dia segera menikmatinya.


"Sayang kami isi tenaga buat nanti di kamar ya?" Restandi berbisik di telinganya.


"Di rumah maksudnya?" tanya Arleta malas.


"Kebiasaan, kalau pergi ke hotel maunya buka kamar." Arleta menggerutu.


"Tergantung, perginya sama siapa. Kalau sama Sehun tidak mungkin aku buka kamar." kata Restandi tertawa geli. Restandi terus membujuk Arleta, karena dia tau setiba di rumah nanti Arleta sibuk dengan dua anak mereka. Arleta mulai tergoda ketika Restandi dengan tidak sabar menariknya keluar dari ruang pesta. Mereka menuju lobby dan memesan kamar. Alamat pulang berantakan nih, pikir Arleta. Mereka memesan kamar lalu segera menuju kamar tersebut. Tanpa membuang waktu Restandi segera membuka setelan jasnya, lalu dasi dan kemejanya.


"Ayo sayang, layani suamimu dengan baik ya." Restandi membantu Arleta melucuti gaun pestanya. Arleta jadi kesal. Dia mau melayani suaminya tapi bukan dengan buru-buru seperti ini.


"Sabar dong Rest, kamu seperti melarikan istri orang saja." protes Arleta.


"Aku kan orang. Sudah tidak tahan. Lihat kamu pakai gaun itu aku jadi ingin." Arleta mengenakan gaun pesta dengan punggung halusnya yang terlihat, lalu dadanya yang tercetak sempurna. Apalagi dia sedang menyusui, dadanya bertambah besar. Walau dia tadi sudah mengeluarkan susunya cukup banyak tapi ukuran dadanya masih tetap besar. Itu sebabnya Restandi panas dingin. Jadi terbayang tubuh Arleta tanpa busana.

__ADS_1


"Kalau kamu melayaniku dengan baik akan aku ajak jalan- jalan." rayu Restandi.


"Jalan-jalan ke mana?" Arleta terpancing.


"Ke nirwana." jawab Restandi mesra. Arleta mencubit lengan Restandi. Tanpa menunda lagi Restandi segera beraksi. Malam itu Arleta jadi permainan Restandi. Cukup lama Restandi bermain dengan Arleta. Ini sudah tengah malam. Arleta tampak sudah lelah.


"Kita mandi ya." Restandi membantu Arleta bangun. Dengan manis dia memandikan istrinya.


"Mau tidur di sini atau pulang?" tanya Restandi lembut.


"Pulang." jawab Arleta singkat. Mereka pun bersiap untuk pulang. Restandi malas mengenakan jas dan dasinya. Dia menenteng jasnya, dasinya di masukan Arleta dalam tas tangannya. Rambut Arleta masih basah, makanya dia ingin cepat pulang dan mengeringkan rambutnya.


"Tidak ingin menunggu hingga waktu sarapan pak?" tanya resepsionis ketika Restandi mengembalikan kunci. Hotel sudah di bayar di awal olehnya. Restandi tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Istri saya ingin pulang. Kangen sama anak-anak " jawab Restandi jujur. Sang resepsionis tersenyum maklum. Dia melihat pasangan serasi itu dengan iri.


"Ayo sayang." Restandi mengulurkan tangannya yang di sambut Arleta. Mereka bergandengan keluar dari hotel. Di depan lobby mobil Restandi sudah siap. Restandi membukakan pintu bagi Arleta. Dia lalu memberi tips untuk staf hotel yang menyiapkan mobilnya. Staf hotel itu sudah cukup mengenal Restandi. Kalau Restandi ada pertemuan atau undangan di hotel itu, dialah yang mengurus mobil Restandi. Tapi wanita yang di bawa Restandi selalu wanita yang sama. Staf itu berkesimpulan Restandi pria yang setia.


"Kamu seksi dengan rambut basah seperti itu." kata Restandi sambil menjalankan mobilnya. Jalanan lengang tengah malam seperti ini. Arleta tersipu. Sekarang si dokter tambah genit.


"Tidak mau tidur dulu, nanti sampai rumah aku bangunkan." tanya Restandi yang mengerti Arleta lelah.


"Biar kami bisa lirik sana sini ya?" Arleta asal saja meledek Restandi.


"Lirik siapa tengah malam begini." Restandi tertawa mendengar ledekan Arleta.

__ADS_1


"Tadi resepsionisnya bilang apa? cantik ya dia." Arleta memancing.


"Biasa saja, cantikan pramugari yang kemarin." Ini namanya memancing ikan dapatnya buaya, pikir Arleta yang kesal.


__ADS_2