
Arleta terkejut. Harusnya sih tidak mengingat pertemanan antara Mauren dan Sofi. Tapi Arleta terkejut karena mamanya menyimpan rahasia itu.
"Jadi menurut mama tidak masalah aku masuk dalam keluarga Gutama?".
"Tentu saja tidak masalah, kamu akan menikah dengan Restandi putra pertama dan putra sah keluarga Gutama. Kalau keluarga Gutama meminta kamu untuk Marionata mama tidak akan setuju". Sekarang jelas bagi Arleta pandangan Mauren.
"Tapi ma Rion juga putra sah".
"Arleta dia tidak pernah di perkenalkan. Statusnya berbeda dengan Restandi. Apa kamu dekat dengan anak itu?". tanya Mauren curiga.
"Aku baru bertemu beberapa hari yang lalu. Dari situ Leta jadi tau tentang Rion". jelas Arleta, dia khawatir Mauren salah paham.
"Ingat ya Leta calon kamu itu Restandi. Jadi perhatikan dia saja". Mauren menutup percakapan. Arleta tengah berjalan menuju kamarnya di lantai atas ketika asisten rumah tangga di rumahnya mengatakan jika Restandi datang mencarinya. Arleta menemui tunangannya itu di ruang keluarga. Sepertinya Armando sudah menghilang lagi. Jika tidak dia pasti menemani Restandi. Pria tampan itu tersenyum manis ketika Arleta menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
"Kamu kenapa sih sayang, beberapa hari ini mengacuhkan aku. Apa karena pembicaraan kita yang terakhir?". tanya Restandi lembut. Arleta jadi bimbang menjawabnya. Dia memang terpengaruh dengan pembicaraan terakhir, sepertinya dia harus jujur pada Restandi.
"Iya sih, aku jadi punya pemikiran yang aneh dari pembicaraan kita". jawabnya jujur.
__ADS_1
"Apa yang aneh, atau apa yang mengganjal di hatimu?" Restandi bertanya dengan penuh pengertian.
"Perasaanku jadi aneh saja, tau bahwa kamu mau bertunangan denganku karena ingin membuat mama senang". Arleta agak susah menggambarkan perasaan hatinya. Tapi tampaknya Restandi bisa menangkap maksudnya.
"Arleta kita berawal dari tidak saling mengenal itu kenyataan yang tidak dapat di pungkiri. Aku mau mengenal dirimu benar karena mama yang memilihmu. Tapi aku kan sudah pernah mengatakan padamu aku tidak menerima keinginan mama begitu saja. Aku mau mengenalmu dan sekarang aku sudah sayang padamu, tidak ada yang salah kan?" Restandi mengambil dan meremas tangan Arleta lembut. Arleta paham perkataan Restandi benar, dia juga sebenarnya bingung kenapa dia merasa kecewa. Apa karena dia mulai jatuh cinta pada Restandi.
"Tidak ada yang salah. Mungkin aku saja yang jadi berpikir terlalu jauh". Arleta tersenyum kecil berusaha meyakinkan Restandi hatinya sudah baik-baik saja.
"Lalu perasaan kamu sendiri sampai saat ini bagaimana sama aku?" tanya Restandi penasaran. Arleta terpana. Hatinya? Arleta tersipu.
"Kamu sudah jadi bagian dalam hidupku". jawab Arleta diplomatis. Restandi tersenyum. Dia merangkul Arleta sayang. Restandi tidak akan memaksa Arleta untuk mengakui perasaannya. Tapi Restandi sudah bisa merasakan perhatian yang Arleta berikan bukan hanya karena dia tunangannya. Gadis itu menurut padanya bukan karena harus, tapi ingin menyenangkan hatinya. Restandi merasa bersyukur perjalanan cintanya terasa manis. Sampai nanti mereka saling mencintai. Dan semua ini kan karena mamanya.
"Kamu yang harus tentukan waktunya, kamu yang lebih sibuk". jawab Arleta senang. Dia sudah sangat ingin membereskan hal yang satu ini agar lebih tenang dalam persiapan pernikahannya.
"Ok nanti aku atur waktunya". Restandi memutuskan.
"Kamu dari rumah sakit? sudah makan belum?" tiba-tiba Arleta tersadar.
__ADS_1
"Tadi ada pertemuan dengan para dokter. Aku belum makan malam tapi liat kamu saja sudah senang". Restandi tersenyum. Yang Arleta lakukan hal yang sederhana tapi hati Restandi senang.
"Kamu harus makan. Ayo aku siapkan untukmu". Arleta menarik tangan Restandi ke ruang makan. Di suruhnya pria itu duduk dengan manis sementara dia mengambilkan makanan. Restandi menurut saja, dia rindu pada Arleta dan ingin menghabiskan waktu lebih lama. Arleta datang membawa sepiring nasi dengan lauk serta air minum untuk dokter tampannya.
"Sayang aku kan cape nih, siapin dong". Restandi tidak membuang kesempatan untuk mengganggu Arleta. Dia juga penasaran apa Arleta mau melakukannya.
"Ya sudah sini aku suapin". Arleta mengalah dan mulai menyuapi Restandi. Mauren yang melewati ruang makan berhenti dan memperhatikan ulah putrinya. Dia tersenyum. Arleta putrinya anak yang baik. Itu sebabnya dia tidak menerima pria yang dekat dengan Arleta begitu saja. Mauren merasa putrinya sangat berharga. Itu sebabnya dia tidak menyukai Kevin. Tiga tahun menjalin hubungan tanpa ada keseriusan membuat Mauren tidak suka. Maka dia membuka kesempatan bagi Restandi untuk mendapatkan Arleta. Calon menantunya yang satu ini tau betul arti Arleta untuk masa depannya dan segera mengikat Arleta. Mauren jadi senang, apalagi dia melihat pribadi Restandi sepadan untuk putrinya. Mauren pun berlalu tidak ingin mengganggu.
"Kalau staf rumah sakitmu melihat bosnya di siapin begini gimana ya?" tanya Arleta menyindir.
"Sudah biasa ko, di rumah sakit juga aku suka minta di suapin". balas Restandi santai.
"Apa?" Arleta menjatuhkan sendoknya pada piring sehingga berbunyi nyaring. Tadinya dia mau marah tapi di pikir lagi tidak mungkin Restandi melakukan hal itu. Pasti hanya menggodanya saja. Restandi senyum-senyum melihat reaksi Arleta. Kalau di tanya kamu cemburu? pasti gadis itu mengelak. Arleta pun mengambil lagi sendok yang tadi di lepasnya.
"Sudah habiskan cepat". katanya kesal. Restandi melihat Arleta seperti mamanya. Tapi yang ini lebih galak.
Mauren merasa urusan putrinya sudah beres. Dia tinggal mengurus putranya yang keras kepala. Walaupun Mauren wanita aktif dan sibuk dia tidak pernah lalai mengurus anak-anaknya. Menurut Mauren suami biar sibuk mengurus bisnis untuk keluarga. Anak-anak di bawah kendali dirinya. Dia tidak akan membiarkan urusan anak-anaknya menjadi beban pikiran suaminya. Armando yang aneh belakangan ini tidak luput dari perhatiannya. Armando jarang pulang dan lebih tertutup. Mauren sudah menugaskan orang kepercayaannya untuk mencari tau apa saja yang di lakukan Armando. Siang ini Mauren mengunjungi rumah sakit. Ke kamar di mana Armando menghabiskan malamnya. Orang yang menjaga kamar Melani tampaknya sudah tau siapa yang datang, maka mereka membiarkan Mauren masuk. Mauren pun memasuki kamar Melani. Gadis itu sedang duduk di pembaringannya, Dita membantunya minum obat yang diantar oleh perawat. Dita sudah lama bekerja pada Armando, dia tau siapa yang datang. Dita pun mengangguk hormat yang di balas dengan anggukan kecil oleh Mauren. Melani tidak tau siapa wanita cantik dan anggun yang masuk dalam kamarnya.
__ADS_1
"Anda siapa?" tanya Melani dengan ramah. Mauren belum menjawab, dia masih mengamati Melani. Gadis ini yang di sukai putranya Armando. Mauren memberi isyarat agar Dita meninggalkan mereka. Dita pun patuh segera keluar. Melani merasa wanita ini cukup penting.