Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
106. Salah Paham


__ADS_3

"Bang ini siapa?" tanya Revita curiga melihat pada Khanza.


"Asisten aku." jawab Kevin singkat. Dia tidak mau memperkenalkan pada Revita, khawatir jadi gosip di rumah. Revita tersenyum pada Khanza. Gadis itu membalas sopan.


"Bang kemarin itu ke mana?" tanya Revita pada Kevin.


"Abang ke Australia, ada urusan bisnis." jawab Kevin. Khanza menatap Kevin horor. Khanza jadi kasihan pada Revita yang menurut Khanza sudah di bohongi Kevin. Bang kamu tuh kencan di sana, kata Khanza dalam hati sambil menatap Revita. Mendengar jawaban Kevin Revita manggut-manggut. Yah kacian, dia percaya batin Khanza. Revita dan Kevin terlibat obrolan, Khanza jadi merasa sedang menunggui orang pacaran.


"Vita Abang pulang dulu ya. Masih harus mengantar pulang. Kamu sendiri tidak apa?" tanya Kevin pada Revita. Dia kasihan pada Khanza , pasti sudah lelah.


"Tidak apa bang, pulang saja." jawab Revita iklas. Kevin mencium kepala Revita dengan sayang, lalu membawa Khanza pulang. Kevin tidak mau Revita bettanya-tanya tentang Khanza. Sekali lagi Khanza melihat dengan salah paham. Egois benar pacarnya di tinggal, pikir Khanza. Dia jadi perlu merasa berhati-hati pada Kevin. Apalagi pada setiap urusan bisnisnya di luar Kevin selalu membawa dirinya. Kevin sendiri bingung. Dia melihat Khanza sudah membuat banyak kemajuan. Pekerjaannya juga bagus. Tapi Kevin belum bisa melepaskannya. Seperti saat ini, dia hanya memiliki pertemuan dengan Revan. Hanya evaluasi dari kerja sama mereka. Tapi Kevin tetap membawa Khanza. Mereka janji bertemu di sebuah cafe, Kevin sengaja datang untuk sarapan pagi bersama Khanza. Kevin merasa belakangan ini Khanza lebih diam, dan seperti ingin menjaga jarak dengannya. Kevin ingin tau ada apa. Kevin diam-diam mengamati Khanza. Tetap cantik, selama ini Khanza tidak pernah membuat Kevin malu dengan penampilannya. Dari pembawaan dirinya, cara bicaranya yang sopan. Khanza tidak separah yang Revan katakan. Atau mungkin karena dia bekerja pada orang lain. Revan datang kemudian. Dia terkejut melihat Kevin bersama Khanza, sedang duduk manis menantinya.


"Kalian dari kantor atau dari rumah?" Revan tidak percaya sepagi itu Khanza sudah ada di sana.


"Tentu saja kami dari kantor." jawab Kevin bingung.


"Khanza juga?" tanya Revan lagi.

__ADS_1


"Tentu saja, dia kan bekerja jadi harus hadir di kantor dong." Kevin semakin bingung.


"Maksud aku sepagi ini dia sudah datang ke kantor dan ikut bersamamu." jelas Revan. Kevin jadi mengerti.


"Khanza Setipa pagi datang ke kantor tepat waktu." Kevin menjelaskan pada Revan.


"Kakak ini kenapa sih?" tanya Khanza kesal. Dia tidak tau jika keadaan dirinya yang sekarang membuat Revan takjub. Sepertinya Kevin bisa mengubah Khanza, pikir Revan. Dia jadi tidak khawatir lagi pada adiknya. Bekerja beberapa waktu bersama Khanza, jujur Kevin tertarik pada gadis itu. Awalnya dia hanya prihatin pada Revan tentang adiknya. Namun sekarang Kevin tidak dapat memungkiri dia tertarik pada Khanza. Gadis itu cantik dan pintar. Itu sudah menarik perhatian Kevin. Di tambah cara kerjanya yang bagus, Kevin merasa Khanza tepat berada di sampingnya. Walau urusan hati Kevin Arleta tetap jadi ratunya. Kevin hanya tertarik bukan jatuh cinta. Kevin merasa kehadiran Khanza dapat mengurangi kekosongan hatinya. Merasa lebih nyaman karena ada seseorang di sampingnya. Masalahnya adalah Khanza yang membatasi dirinya pada Kevin. Jika Kevin ingin Khanza tetap di sampingnya maka dia harus berupaya. Paling tidak membuat Khanza jatuh cinta padanya. Kevin sudah bertekad, tidak akan menjalani hidupnya lagi sendirian. Pilihannya jatuh pada Khanza.


"Khanza, kita sudah lama kerja bersama. Kamu jangan panggil saya bapak dong. Kamu panggil saya Abang saja seperti adik saya Vita." kata Kevin pada Khanza ketika mereka tengah makan siang bersama. Ini salah satu trik Kevin untuk lebih dekat dengan Khanza.


"Saya tidak enak pak, kita kan atasan dan bawahan." Khanza menolak. Justru dia ingin menandaskan hubungan mereka.


"Paling tidak jika kita berdua saja jangan panggil bapak bisa kan?" Kevin mempermudah Khanza. Itu lebih baik pikir Khanza. Dia tidak mau dilihat sok akrab pada atasannya.


"Abang makan siang?" Tiba-tiba Revita mengejutkan. Kevin dan Khanza jelas terkejut.


"Mandi, sudah tau makan siang." jawab Kevin. Dia menoleh pada Revita, ternyata adiknya datang bersama Arleta. Wajah Kevin langsung berseri-seri. Rasa rindunya terobati.

__ADS_1


"Kita juga makan siang bang. Tapi kita pisah meja saja ya bang. Soalnya kita pasti berisik bang." kata Revita beralasan. Padahal dia tidak enak pada Arleta jika harus semeja dengan Kevin. Tentu saja Kevin kecewa. Dia melihat pada Arleta dan tersenyum.


"Abang tidak keberatan ko berisik juga." Arleta tambah cantik pikir Kevin. Arleta balas tersenyum pada Kevin. Dia sudah tidak ada perasaan apa pun pada Kevin. Tapi kalau makan satu meja rasanya akan canggung.


"Lain kali ya bang, kita ada yang mau di rumpiin." kata Revita lagi. Revita dan Arleta duduk tidak jauh dari meja Kevin Untungnya tidak jauh jadi Kevin bisa melirik Arleta. Begini kalau gagal move on. Tapi Kevin sadar dan ingat akan hidupnya ke depan.


"Itu adik saya Revita, kamu ingat kan yang kita ketemu di hotel waktu itu." kata Kevin pada Khanza. Mendengar itu Khanza jadi sadar dia sudah salah paham.


"Iya saya ingat." Khanza tersenyum malu pada Kevin, membuat kevin bingung.


"Yang satunya adalah Arleta, mantan saya. Wanita yang belum bisa saya lupakan." kata Kevin berubah sendu. Khanza terkejut, dia jadi memperhatikan Arleta. Melihat sosok Arleta Khanza paham, yang seperti itu memang sudah untuk dilupakan.


"Pak Kevin tidak coba untuk balikan?" tanya Khanza penasaran.


"Dia menolak lalu menikah dengan dokter Restandi Gutama. Pernah dengar namanya?"kata Kevin lesu. Tentu saja Khanza tau Restandi Gutama.


"Dokter Restandi itu mentor kakak saya Aira." kata Khanza menjelaskan. Ternyata yang di bicarakan tiba-tiba datang bersama Arlan. Kevin sudah kesal tidak bisa melirik Arleta lagi. Restandi terkejut melihat Kevin juga ada di tempat yang sama dengan istrinya. Tapi dia abaikan dan menghampiri meja istrinya. Ternyata mereka ada janji makan siang bersama, pikir Kevin. Pantas Revita menolak duduk bersamanya. Melihat Khanza yang sudah selesai makan, Kevin pun mengajak untuk pergi. Tapi sebagai bentuk kesopanan tentu dia harus pamit pada yang lain. Kevin pun menghampiri mereka dengan diikuti Khanza.

__ADS_1


"Maaf kami duluan karena masih ada pertemuan." kata Kevin menyapa. Empat orang itu pun menoleh pada Kevin. Restandi baru melihat Kevin bersama seorang gadis. Dia pun mengamati.


__ADS_2