
Mereka pun mengatur hari di mana keluarga Lukman Aria akan datang melamar Monika. Heru senang, karena Sehun menepati janjinya melamar Monika. Dan seperti permintaan Heru acara lamaran di lakukan secara sederhana. Pada hari itu Sehun dan Monika bertunangan, sambil menunggu hari pernikahan yang masih belum di tentukan. Tapi yang jelas Sehun sudah mengikat Monika. Karena mereka sudah bertunangan, maka tidak ada alasan bagi Sehun dan Monika untuk menutupi hubungan mereka. Awalnya Monika khawatir karena Sehun merupakan target nomer satu di rumah sakit sebagai pria tampan yang di sukai. Restandi sebenarnya juga pria yang patut di buru, namun karena sikapnya yang tegas dan dia anak dari pemilik rumah sakit mereka tidak berani mendekatinya. Apalagi Restandi sudah menikah. Ketika mulai berpacaran dengan Sehun Monika masih menyembunyikan hubungannya dengan Sehun. Tapi Sehun meyakinkan Monika, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Arleta menerima kabar tentang Monika dan Sehun dengan gembira. Berbeda dengan Restandi, dia mulai cemas akan kehilangan asistennya. Rumah sakit yang mereka bangun hampir selesai. Sudah jelas Sehun yang akan memimpin rumah sakit tersebut. Pertanyaannya, maukah Sehun berpisah dengan Monika? Akhirnya Restandi harus berdebat dengan Sehun tentang hal itu.
"Kamu bisa tarik Aira untuk menggantikan Monika." kata Sehun.
"Kau tau Aira itu dokter yang handal. Aku justru akan memindahkannya ke sana untuk membantumu." kata Restandi menolak. Aira Wiguna adalah satu dari lima asisten Restandi selain Norman Sati. Gadis manis yang pintar ini kebanggaan Restandi. Dia akan di pindahkan ke rumah sakit yang baru untuk membantu Sehun. Di rumah sakit yang baru Sehun akan butuh dokter handal untuk membantunya. Lalu jika Sehun berkeras membawa Monika Restandi butuh asisten baru.
"Katamu adik Monika sudah lulus kuliah, kenapa tidak kau tarik saja ke sini? Biar Monika melatihnya untuk jadi asistenku." usul Restandi pada Sehun. Betul juga pikir Sehun.
"Rani maksudmu?" tanya Sehun menegaskan.
"Terserah." jawab Restandi.
"Ok, aku akan bicarakan pada Monika." kata Sehun lagi. Menurutnya Rani yang cocok untuk posisi itu. Sehun juga membicarakan tentang hotel pada Restandi.
"Rest soal penggantian pimpinan hotel bagaimana?" tanya Sehun. Sebenarnya dia sudah memiliki rencana.
"Aku tidak punya waktu, kau atur saja." jawab Restandi. Sebentar lagi Arleta akan melahirkan. Istri dan anaknya nanti pasti butuh perhatian.
__ADS_1
"Terus terang aku krisis kepercayaan saat ini. Bagaimana kalau posisi itu di tempati ayah Monika? Kau tau pak Heru kan?" tanya Sehun sedang menjalankan rencananya.
"Aku tau pak Heru. Ya dia memang bagus dalam pekerjaan. Tapi apa pak Heru bersedia?"Restandi seperti bisa melihat jalan pikiran Sehun.
"Nanti aku bicara padanya." kata Sehun sambil tersenyum penuh arti.
"Wah kau betul-betul tidak rela di tinggal Monika sedetik pun ya. Sampai keluarganya kau pindahkan ke sini." tebak Restandi. Mendengar itu Sehun tertawa lepas.
"Betul itu, mengingat nanti tugasku banyak mungkin aku tidak punya waktu mengantar Monika bertemu keluarganya. Kalau mereka di sini tidak sulit bagi Monika bertemu mereka." kata Sehun menjelaskan rencananya.
"Aku akan bicara dengannya." kata Sehun. Ternyata Restandi benar, tidak mudah membujuk Heru agar mau menempati posisi baru alias pindah pekerjaan.
"Nak memimpin perusahaan dan memimpin hotel itu berbeda. Tanggung jawabnya juga lebih besar. Bapak tidak yakin bisa melakukannya." Heru bukan orang yang silau akan gaji besar.
"Saya yakin bapak pasti bisa." kata Sehun berkeras.
"Di usia bapak ini harusnya sudah mengurangi pekerjaan dan hidup santai." Heru beralasan.
__ADS_1
"Bapak bisa melatih Rendra untuk menggantikan bapak suatu hari nanti." Sehun tidak kurang akal. Dia sudah kecewa dengan orang yang di pilihnya yang lalu. Mereka harus kehilangan banyak uang, padahal rumah sakit sendiri masih membutuhkan banyak biaya yang juga besar.
"Bapak pikirkan dulu ya nak." kata Heru pada akhirnya.
"Baik pak, tapi kalau bapak menolak saya akan menyekap Monika di apartemen saya." ancam Sehun. Ancamannya sangat menguntungkan dirinya.
"Lebih enak jika bapak menolak dong jika seperti itu?" tanya Heru merasa terjebak. Tapi dia yakin itu hanya ancaman Sehun saja. Sehun menatap Heru dengan sejuta makna.
"Pak, saya hanya ingin Monika tidak jauh dari keluarganya." Sehun menjelaskan keinginannya. Heru mendengar itu jadi terdiam. Memang sejak Monika kuliah dia merasa putrinya itu sudah jauh darinya. Mereka jarang berkumpul. Apa lagi sebentar lagi akan berkeluarga. Akhirnya Heru setuju, demi Monika. Heru pun mengatur pengunduran dirinya. Sehun mencari rumah yang nyaman untuk di tempati calon mertuanya. Monika bisa tinggal dengan keluarganya untuk sementara, sebelum pernikahan mereka. Semua terlaksana seperti rencana Sehun. Keluarga Heru Pranata pindah ke Jakarta. Heru dan Rendra bekerja di hotel. Monika melatih Rani untuk menjadi asisten Restandi. Monika pun tinggal dengan keluarganya sekarang. Hari ini Monika mampir ke apartemen Sehun untuk memasak. Mereka duduk bersama menonton drama Korea setelah makan malam. Mereka duduk berdekatan di sofa. Tepat pada saat adegan sang wanita menyerahkan dirinya pada kekasihnya Sehun mematikan drama itu. Sehun menarik Monika duduk di pangkuannya, di peluknya Monika erat.
"Yang kamu ngapain?" tanya Monika terkejut.
"Aku tidak sabar, ingin kita cepat menikah. Tapi pekerjaanku masih berantakan." Sehun mengeluh. Terbawa suasana drama tadi Sehun pun mencium Monika mesra.
"Boleh minta duluan?" tanya Sehun mesra pada Monika. Tunangannya menggeleng. Monika menyembunyikan wajahnya di dada Sehun. Khawatir Sehun tau, jika Sehun memaksa Monika akan menyerah. Sehun mencari leher Monika, menenggelamkan wajahnya di sana dengan kecupan-kecupan mesra. Tangannya sibuk membuka kancing blus Monika. Setelah berhasil dia pun bermain di dada Monika. Sehun melakukan apa yang dia suka. Monika sendiri menahan debaran jantungnya yang hebat, tapi dia tidak khawatir karena dia di tangan dokter jantung yang tepat. Monika mulai mendesah karena apa yang Sehun lakukan. Hal itu membuat Sehun semakin rajin. Di sekolah Sehun ini murid yang pintar loh. Dia bisa menyerap pelajaran walau di terangkan satu kali saja. Karena permainannya ini bukan saja Monika yang panas dingin, tapi Sehun jadi semakin ingin. Sehun menatap Monika dengan tatapan sendu dan sejuta pesona gairah di matanya. Sehun pun berbisik.
"Monika............aku mandi dulu." Sehun meletakan Monika pada sofa dengan lembut, lalu bergegas ke kamarnya untuk mandi. Sebelum terlambat. Sehun mengantar Monika pulang. Sudah agak malam karena jalanan macet. Heru menatap Sehun curiga ketika mengantar Monika pulang. Melihat dan wajah Monika insting seorang ayah otomatis langsung on.
__ADS_1