Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
168. Arti Keluarga


__ADS_3

"Kamu minta nomer telponnya dong." Arleta mulai panas.


"Loh, dia dong yang minta nomer aku. Ngapain aku yang minta nomer dia." jawab Restandi angkuh.


"Biar bisa ketemuan gitu?" Arleta mulai kesal sendiri.


"Bukan, minta biaya tambahan. Kan aku minta pindah tempat duduk." kata Restandi santai. Ternyata yang di dapat bukan buaya. Mungkin sejenis ikan lumba-lumba. Eh tapi kan lumba-lumba suka cium orang. Panas lagi deh Arleta. Restandi meraih tangan Arleta, di ciumnya mesra tangan itu. Tidak ada niatan dalam hatinya untuk genit-genitan pada wanita lain. Yang di sampingnya saja sudah begitu menakjubkan. Untung ada pria bodoh yang walau tidak bermaksud untuk melepaskan Arleta tapi membuat dirinya kehilangan kesempatan untuk bisa memilikinya. Sampai matipun penyesalan itu akan di bawanya. Sekarang tinggal mendinginkan hati yang panas.


"Kamu semakin pintar melayani suami." ini baru kata pembuka, tapi Arleta sudah menghangat hatinya.


"Kamu tuh tidak absen ganggu aku." Arleta bingung Restandi tidak terlihat lelah dengan kerjanya yang banyak itu. Malah sering minta jatah.


"Kalau ganggu istri itu puasnya lahir bathin. Kalau sudah puas kerja jadi semangat. Penat rasanya hilang. Kerja keras juga terbayar. Kamu tuh yang bikin aku jadi segar lagi." Restandi kembali mencium tangan Arleta. Ternyata Restandi jago menangani Arleta. Sudah begini Arleta tidak bisa berkata apa-apa.


"Kamu ko tidak pernah sih sayang, kalau aku pulang kamu tuh sudah menunggu tanpa sehelai benang pun." Restandi mengerling nakal.


"Kamu di kantor nonton yang begituan ya?" tanya Arleta curiga. Restandi tertawa.


"Mana sempat, kerjaanku banyak. Pasienku pria semua." Restandi heran dengan tuduhan istrinya. Tapi dia rasa lucu juga.


"Kamu tidak mau kita bulan madu lagi?" tanya Restandi penuh harapan. Dia rindu menguasai Arleta sepenuhnya.


"Nanti ya kalau Alrista sudah lepas asi. Sekarang begini saja dulu ya. Seru juga kan." Arleta menghibur Restandi. Tidak ada salahnya membuat cinta mereka semakin kuat.


"Janji ya." Restandi sudah senang idenya di terima.


"Iya. Akunya biar bit dulu ya. Kamu pasti gila-gilaan nanti." Sekarang saja Arleta sudah kewalahan.

__ADS_1


"Ok sayang " Restandi kembali mencium tangan Arleta. Mereka tiba di rumah, tentu saja penghuni rumah sudah tidur. Mereka langsung ke kamar. Di sana tampak Sofi yang sedang menunggui Alrista. Sofi menonton film sambil terkantuk-kantuk.


"Loh mama di sini. Di mana Rina?" tanya Restandi terkejut.


"Kalian sudah pulang. Rina sedang kurang sehat. Jadi mama yang tunggu Alris." Sofi bangkit sambil menguap. Restandi menghampiri ibunya, memeluknya sayang dan mencium pipinya. Pemandangan manis bagi Arleta.


"Terima kasih ya mama sudah jaga Alris." kata Restandi lembut.


"Iya nak. Filmnya bagus tapi mama ngantuk " Sofi berkata ketika Restandi melepaskan pelukannya.


"Nanti Rest cariin seriannya, jadi mama bisa nonton dengan santai." Restandi berjanji.


"Papamu temani Alrest tidur, mereka kelelahan tadi berenang. Mama mau ke kamar ah, mau tidur sendiri." Sofi berlalu kuat kamar. Arleta mengganti bajunya dan mulai mengeringkan rambutnya. Restandi berjalan ke kamar sebelah lewat pintu penghubung. Dia membuat pintu itu ketika Alrest lahir. Tampak putranya tidur pulas di temani opanya. Restandi menghampiri tempat tidur dia mencium putranya, lalu pindah ke sisi tempat tidur yang di tempati Nikolas. Tempat tidur Alrest memang besar. Restandi membetulkan selimut agar Nikolas tidak kedinginan, tapi ternyata hal itu justru membangunkan ayahnya.


"Rest, kamu sudah pulang. Mamamu mana?" tanya Nikolas sambil bangkit dan duduk.


"Enak saja dia mau tidur sendiri. Papa balik ya ke kamar." Nikolas langsung keluar dari selimutnya, berdiri dan melangkah cepat keluar dari kamar. Restandi tertawa. Terlihat sekali Nikolas sangat cinta pada Sofi. Keluar kamar Alrest tampak Rion turun dari lantai atas.


"Kamu ngapain di situ?" tanya Nikolas heran.


"Tadi Matris mengantuk. Di ajak tidur di atas tidak mau pulang. Mungkin sepi di rumah." jawab Rion, dia sendiri juga merasa begitu.


"Makanya punya anak yang banyak, biar rumah kalian ramai." kata Nikolas menggurui.


"Papa sendiri punya anak dua. Itu juga punya aku karena kecelakaan." protes Rion.


"Dasar anak tidak sopan. Itu karena mama sudah tidak bisa melahirkan lagi. Kamu mau ngapain?" Bicara sama Rion kadang membuat Nikolas kesal. Dengan Restandi berbeda. Dia lebih matang dan kalem. Nikolas bisa melihat jika Restandi tidak suka pada perkataannya dari raut wajahnya. Walau Restandi tidak membantah tapi dari raut wajahnya Nikolas tau putranya tidak setuju.

__ADS_1


"Aku lapar, mau cari makanan." jawab Rion.


"Ayo papa temani." Nikolas pura-pura baik hati, padahal dia juga lapar. Rion tersenyum, dia tau papanya pura-pura. Mereka menuju ruang makan.


"Kue sudah habis, makanan berat aku tidak mau. Roti saja ya pa." kata Rion setelah melihat lemari pendingin.


"Ya roti saja." Nikolas setuju. Rion pun segera memindahkan roti, piring dan beberapa selai ke atas meja makan. Mereka pun sibuk mengoles roti dengan selai pilihan masing-masing.


"Pa, kalau aku pindah lagi ke sini bokeh tidak? Di sini lebih hangat rasanya." Rion berkata dengan hati-hati.


"Boleh tapi ada syaratnya." jawab Nikolas serius.


"Apa syaratnya?" Rion bersemangat.


"Kasih papa cucu yang banyak." Nikolas berkata tanpa melihat Rion, sibuk dengan rotinya.


"Itu sih sama saja tidak boleh. Kalau anakku banyak papa pasti usir aku tinggal di rumah sebelah." Rion kesal.


"Kamu boleh tidur di sini sesekali. Tapi rumah itu punya kamu. Tolong hargai pemberian papa." Nikolas hanya ingin menunjukkan rasa sayangnya pada putra keduanya. Rion mengerti.


"Terima kasih ya pa." Rion tersenyum tulus pada Nikolas. Dulu Nikolas tidak suka putranya yang satu ini karena sering membantahnya dan tidak pernah menuruti perkataannya. Tapi sekarang Nikolas menyadari dia sangat egois ingin putra-putranya menurutinya. Walaupun Rion nakal tapi dia bisa berprestasi atas pilihannya. Nikolas harus mengakui itu. Sampai sekarang sudah banyak film yang di buat Rion yang meledak di pasaran. Rion tidak perlu capek-capek bekerja sekarang. Dia hanya mengatur anak buahnya bekerja dengan baik. Tingkah Rion juga sudah berubah. Dia mulai berhenti berulah ketika mengenal Trisia. Nikolas cukup puas melihat kehidupan putra keduanya ini. Pagi hari Restandi keluar kamar bersama Alrest. Dilihatnya Rion turun dengan setelan olah raganya.


"Mau kemana kamu?" tanya Restandi iseng.


"Mau main tenis sama temanku." jawab Rion sambil mengayunkan raket yang di bawanya. Rion menatap Alrest yang melihatnya takjub.


"Boy, mau ikut uncle main tenis?" tanya Rion.

__ADS_1


__ADS_2