
Armando tanpa menunggu jawaban pergi ke kamarnya. Larasati sudah tau pria itu pelit bicara. Hanya pada istri dan putrinya Armando banyak bicara.
"Kau suka kuenya?" tanya Avery pada Larasati. Dia sambil membereskan tisyu yang di pakai Melody.
"Aku suka." jawab Larasati sopan.
"Di sini hanya kue-kue seperti itu saja. Tidak seperti di Indonesia banyak kue yang enak. Aku jatuh cinta pada kue-kue kalian." Avery memuji.
"Aku bisa membuat kue-kue itu. Walau tidak semua aku bisa." kata Larasati dengan bangga.
"Betulkah? kau mau buatkan untukku?" mata Avery berbinar.
"Nanti akan ku buatkan." janji Larasati. Wah Lionel beruntung, kalau bisa punya istri seperti ini pikir Avery. Karena tau waktu yang di milikinya singkat, Lionel banyak menggunakan waktu untuk Larasati. Lionel mengajak Larasati makan malam, menonton. Bahkan siang ini Lionel membawa Larasati ke kantornya. Larasati terpukau melihat kantor Lionel yang megah dan indah. Lionel menggandeng tangan Larasati di bawah tatapan para staf di sana. Selama ini jika pergi Lionel selalu menggandeng tangan Larasati. Dia sebenarnya tidak keberatan Lionel bersikap manis dan akrab, asal masih dalam batas wajar. Tapi kali ini melihat tatapan yang penuh rasa ingin tau dan ada juga yang tidak suka membuat Larasati panas.
"Lionel, mereka menatap kita." kata Larasati, di sela sapaan para staf pada Lionel.
"Biar saja. Bukan urusan mereka. Jangan pedulikan." Lionel yang tampan keponakan pemilik perusahaan tentu saja jadi incaran para wanita di sana. Tapi belum ada yang menarik hatinya. Kemunculannya dengan menggandeng tangan seorang gadis cantik tentu saja mengundang pertanyaan.
"Kita ke ruanganku ya." kata Lionel sambil menarik lembut tangan Larasati untuk masuk ke dalam lift. Dari sapaan pada Lionel, Larasati bisa melihat Lionel memang orang penting di sana. Apa lagi ketika melihat ruangan kerja Lionel. Ruangannya besar dan rapih. Ada lambang perusahaan di belakang meja kerja Lionel. Di atas meja kerjanya banyak berkas yang bertumpuk menunggunya. Lionel memanggil sekretarisnya. Tidak lama wanita itu masuk.
"Sherry tolong buatkan minum untuk nona Larasati." kata Lionel pada Sherry. Larasati memperhatikannya. Wanita muda yang cantik, bajunya modis tapi sopan.
__ADS_1
"Baik tuan, saya akan antarkan." bicara Sherry juga sopan. Mengapa Lionel tidak menaruh perhatian pada Sherry. Atau mungkin gadis itu sudah punya pacar. Larasati jadi berpikir yang tidak-tidak.
"Kau suka ruanganku?" tanya Lionel tiba-tiba. Larasati jadi melihat padanya.
"Ruanganmu nyaman. Tapi aku rasa memang harus begini ya. Kalau tidak kau akan sulit bekerja." komentar Larasati. Lionel pasti membutuhkan waktu yang banyak di ruangan ini.
"kalau aku sudah kelelahan sofa itu jadi tempat tidurku." Lionel menunjuk sofa yang Larasati duduki. Sherry masuk dengan dua cangkir minuman. Kopi untuk Lionel dan teh untuk Larasati.
"Silahkan nona, teh anda." kata Sherry sopan pada Larasati. Dia sedang menebak-nebak siapa nona ini sebenarnya.
"Terima kasih." jawab Larasati sambil tersenyum.
"Hai Paula kau sibuk ya hari ini. Aku mau ke dalam." sapa Lionel pada seorang wanita yang duduk di depan ruang Zakhary. Usianya sekitar empat puluhan tapi tetap cantik dan modis. Mungkin sekertaris Zakhary.
"Tuan Lionel, anda bersama siapa?" tanya Paula heran. Dia bangkit berdiri dari duduknya dan mengamati Larasati.
"Dia Larasati yang akan menggantikan dirimu." kata Lionel pura-pura serius.
"Anda bergurau kan tuan Lionel." Paula terkejut, dia baru mendengar info itu.
"Tentu saja aku bergurau. Yang ini tidak boleh jauh-jauh dariku. Kau mengerti kan maksudku." Lionel tersenyum lebar.
__ADS_1
"Saya sangat mengerti tuan Lionel." Paula tersenyum, dia mengerti maksud Lionel. Mereka masuk ke ruang Zakhary. Ruangan itu lebih besar dari ruangan Lionel. Tampak Armando sedang bekerja di balik meja dan Avery yang duduk di depannya tengah membantu memilih berkas.
"Enak kan mereka bisa bekerja berdua. Sedang aku sendiri." komentar Lionel membuat Armando dan Avery menoleh.
"Kau juga sudah bawa teman sekarang." balas Armando sambil tersenyum.
"Kalau begitu aku juga mau berduaan. Memangnya kalian saja yang bisa." kata Lionel sambil menarik tangan Larasati keluar. Larasati hanya mengangguk sopan pada Armando dan Avery. Dia malu sebenarnya dengan tingkah Lionel. Tapi dia tidak bisa protes. Ini dunianya Lionel, Larasati juga ingin tau. Di tinggal Lionel, Armando dan Avery saling menatap penuh arti.
"Dia gerak cepat juga ya." kata Avery melihat tingkah Lionel.
"Ya dia kan harus menggunakan waktu yang ada." Armando maklum, Lionel di buru waktu. Mereka pun memusatkan perhatian lagi pada pekerjaan. Kembali ke ruangannya Sherry sudah menanti dengan laporannya.
"Tuan sebentar lagi ada rapat dengan divisi keuangan." kata Sherry sopan.
"Baik kita,akan ke sana. Siapkan berkasnya. Tunggu saya sebentar lagi." kata Lionel, dia sudah tau ada rapat itu sebabnya dia membawa Larasati ke kantor. Selain tidak mau melewatkan waktu bersama gadis itu, dia juga harus menghadiri rapat. Sherry keluar, dia menunggu Lionel di ruangannya seperti titah bosnya.
"Lara aku tinggal sebentar ya, kau tunggu di sini , tapal ini tidak bisa ku hindari. Nanti setelah rapat aku akan turuti ke mana pun kau mau." bujuk Lionel pada Larasati. Tangannya meraih dan memegang tangan Larasati.
"Tenang saja Lio aku akan menunggumu di sini." jawab Larasati yang membuat hati Lionel hangat.
"Baiklah aku segera pergi agar cepat kembali. Setelah itu kita makan siang ya." Lionel segera keluar dan menghilang. Larasati tersenyum, dia duduk kembali dan minum tehnya. Larasati mengambil majalah bisnis yang ada. Dia membuka majalah itu untuk melewatkan waktunya. Mata Larasati terpaku pada sebuah artikel yang memuat tentang Lionel. Ada foto pria itu dengan wajah serius. Padahal Larasati selalu melihat wajah pria itu yang penuh senyum. Di artikel tersebut di bahas tentang sepak terjang Lionel di dunia bisnis. Dia menjabat sebagai wakil Zakhary saat ini. Dan di buru para pebisnis untuk membantu di perusahaan mereka. Jadi Lionel bukan beralasan ketika berkata padanya pekerjaannya menghalanginya untuk mendapat pacar. Tapi dengan statusnya yang cukup terkenal pasti ada banyak wanita yang berminat padanya. Atau mungkin bukan itu yang Lionel mau. Ada juga pria yang ingin mendapatkan wanita yang betul-betul bisa menerima dirinya apa adanya. Bukan karena jabatan atau statusnya. Di sebutkan di artikel itu belum ada wanita yang menyentuh Lionel.
__ADS_1