Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
49. Curhatan Rion


__ADS_3

Tapi hal itu justru membuat Rion bosan. Rion membayangkan bagaimana membujuk Trisia agar membuka bajunya untuknya. Tapi Rion segera menghilangkan pikiran tersebut. Hidangan pun datang mereka mulai makan.


"Yang tadi itu pacarmu yang keberapa? siapa namanya? Nina?" tanya Arleta ingin tau. Rion menaikan bahunya acuh tanda tidak tau.


"Aku tidak pernah menghitung berapa pacarku." jawabnya jujur.


"Kenapa kamu putusin dia?" kata putusin menurut Arleta tepat karena Rion yang meninggalkannya.


"Aku melihat dia pelukan dan ciuman sama pria lain. Sebenarnya itu alasanku saja, kebetulan dia selingkuh jadi aku bisa mutusin dia. Aku baru tau ternyata dia murahan." jawab Rion santai. Memangnya kamu tidak murahan, pikir Arleta dalam hati. Peluk sana peluk sini, bukan main adiknya Restandi ini.


"Rion kamu pernah jatuh cinta?" Arleta penasaran. Rion menatap Arleta, sepertinya dia berpikir.


'Aku merasa suka, tapi cinta rasanya tidak pernah." jawab Rion mudah saja. Arleta jadi semakin penasaran.


"Suka lalu kamu pacarin." Arleta agak kesal juga melihat Rion yang menganggap enteng hubungannya dengan wanita.


"Iya, tapi jika rasa sukaku hilang ya aku putusin." Perkataan Rion membuat Arleta berpikir untuk menumpuknya dengan sendok atau gelas.


"Kenapa kamu seperti ini? wanita itu kan punya perasaan." Arleta menatap Rion tajam.


"Arleta mereka itu mengejarku tanpa malu dan menawarkan semua yang mereka punya. Aku hanya menyambut yang mereka tawarkan. Mereka itu seperti mamaku. Terus terang aku hanya memanfaatkan mereka untuk bersenang-senang." kata Rion dengan wajah sinis.


"Kamu tidak suka mama kamu?" Arleta terkejut.

__ADS_1


"Bukan tidak suka, tapi benci." Rion menegaskan.


"Kamu benci mama kamu? kenapa?" Arleta tidak habis pikir. Biasanya seorang anak benci pada ibu tirinya.


"Kenapa dia harus mengganggu rumah tangga orang lain. Kau tau Arleta, aku merasa kelahiranku menjadi sumber kesedihan bagi keluargaku. Papa terpaksa menikahi mama karena aku. Papa jadi menyakiti perasaan mama Sofi. Mama Sofi jadi menahan sakit karena harus membesarkanku. Dan kakakku Restandi tidak pernah suka padaku karena sakit yang mamanya rasakan. Papa sendiri tidak pernah suka padaku karena aku sebuah kesalahan. Hidup seperti itu bagaimana rasanya?" Rion bercerita dengan nada suara sendu.


"Kau tidak berusaha mengambil hati papa?" Arleta jadi kasihan pada Rion, padahal tadi dia kesal luar biasa.


"Percuma, anak yang paling dia sayang adalah Restandi. Anak dari wanita yang di cintainya. Dan anak itu begitu sempurna. Jadi aku memutuskan untuk melakukan apa yang aku mau. Dalam hidup harus ada yang kita suka kan." Rion mulai tersenyum. Arleta paham. Rion menolak untuk melakukan yang Nikolas inginkan karena tetap saja dia tidak akan di puji. Tapi dia memilih untuk melakukan apa yang dia suka karena dengan begitu hidupnya lebih berarti. Pencapaiannya juga sebetulnya tidak buruk. Moralnya yang buruk.


"Aku tetap tidak setuju dengan apa yang kau lakukan dengan para wanita." protes Arleta.


"Arleta, mereka pada dasarnya bukan perempuan baik. Mereka tetap akan melemparkan diri mereka padaku walau aku sudah punya istri. Aku tidak pernah mendekati wanita baik-baik." kata Rion, tapi dalam hatinya dia berkata kecuali Trisia. Rion mendekati Trisia karena dia tertarik pada gadis itu. Tapi itu tidak akan pernah di katakannya pada Arleta atau siapa pun. Mendengar perkataan Rion Arleta menyerah. Memang tidak mudah merubah seseorang. Apalagi jika orang itu merasa hidupnya baik-baik saja. Rion melihat Arleta sudah menghabiskan makannya.


Armando duduk di hadapan Avery. Tatapannya tajam menatap gadis itu. Avery jadi salah tingkah. Ini karena Melani yang tidak mau bertemu Armando. Sudah dua kali Armando mengunjungi ruang kerjanya. Untung ayahnya sedang tidak ada.


"Sudahlah Armando, dia tidak mau bertemu denganmu." kata Avery setengah memohon. Dia tidak bisa bekerja jika Armando mendatanginya terus.


"Biarkan aku bicara dengannya." kata Armando keras kepala.


"Berikan dia waktu. Lagi pula apa yang dapat kau berikan padanya. Pernikahan?" Avery mulai kesal.


"Itu pasti akan terjadi, dia hanya perlu bersabar." kata Armando tegas.

__ADS_1


"Tapi keluargamu tidak akan menerimanya." Avery kagum pada Melani yang mencintai pria keras kepala ini.


"Itu menurut Melani, tidak menurutku." Armando berkeras akan menikahi Melani.


"Aku akan membujuknya. Kau pergi saja dulu." Avery tidak tau harus bagaimana lagi. Dia merasa terjebak di antara dua orang yang keras kepala.


"Baiklah aku pegang kata-katamu. Aku harus kembali pulang, tapi aku akan kembali. Katakan padanya jangan harap bisa menghindariku." Armando bangkit berdiri lalu melangkah keluar dari ruang kerja Avery. Gadis itu bernapas lega. Dia harus bicara pada Melani. Dia tidak mau Armando terus mengganggunya. Bisa-bisa nanti ayahnya mengira dialah kekasih Armando. Sebetulnya Avery terkesan pada Armando. Tapi dia kekasih adiknya. Lagi pula Armando mencintai Melani. Terlihat dari caranya yang berkeras untuk bertemu Melani. Ah Avery jadi sakit kepala. Adiknya bodoh atau bagaimana sih. Kali ini dapat pria yang baik malah di tinggalkan. Ketika Avery menemui Melani, adiknya itu tampak sedang melamun.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Avery pada Melani.


"Apakah Armando marah?" Melani sangat ingin tau.


"Tentu saja dia marah. Aku juga akan begitu jika mengalami hal seperti ini. Dia cukup sabar dan tidak mengacaukan kantorku." kata Avery kesal.


"Maaf." Melani merasa bersalah.


"Mel ini tidak bisa terus begini. Aku jadi repot dan tidak bisa bekerja. Jika ayah tau bagaimana?" Avery tidak tau harus berkata apa pada ayahnya jika dia bertemu Armando.


"Akan aku pikirkan bagaimana caranya. Tapi jangan sampai Armando bertemu ayah." kata Melani cemas.


"Sebenarnya Armando tidak buruk. Ayah akan suka padanya. Masalahnya adalah dirimu." kata Avery menilai.


"Kau tau kan keluarganya dan apa kesalahanku?" Melani menatap kakaknya dengan sedih.

__ADS_1


"Armando berjanji bahwa kalian akan tetap menikah, kau hanya perlu bersabar." Avery yakin Armando akan menepati janjinya. Melani menatap Avery sejenak.


__ADS_2