Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
57. Kemelut Revita


__ADS_3

Revita tidak bawa mobil. Tadi dia di jemput Restandi dan Arleta di kantornya. Arlan masih memanggil Revita. Dia membayar makanannya tapi pada saat keluar Revita sudah tidak ada. Di dalam mobil Revita diam, tapi Restandi dan Arleta tau dia menangis. Restandi membawa mobilnya dalam keheningan. Arleta sibuk dengan pikirannya setelah sadar ternyata sudah sampai di rumahnya.


"Loh ko kita pulang Rest?" tanya Arleta bingung.


"Bawa Revita ke kamar tamu." kata Restandi tegas. Arleta tidak membantah, dia membuka pintu belakang dan menggandeng Revita untuk masuk ke dalam rumah. Revita tidak menolak, ke mana pun Arleta membawanya dia tidak keberatan. Setelah membawa Revita ke kamar tamu di lantai dua, Arleta ke kamarnya. Di lihatnya Restandi sudah selesai mandi.


"Kita tidak mengantar Revita pulang?" tanya Arleta masih penasaran.


"Memang Revita mau bertemu Arlan sekarang. Dia pasti menyusul Revita pulang. Lalu jika Revita menolak bertemu Arlan apa keluarganya tidak bertanya-tanya?" pertanyaan Restandi membuat Arleta jadi paham pemikiran suaminya.


"Lebih baik Vita di sini, dari pada di tempat lain yang kita tidak tau." kata Restandi lagi. Arleta mengambil bajunya untuk di pakai Revita, lalu dia menemui sahabatnya di kamar tamu.


"Vit ini baju untuk salin." Revita menerima baju yang Arleta sodorkan.


"Terima kasih ya." wajahnya masih sedih.


"Kamu mau cerita sama aku?" tanya Arleta lembut. Revita mengangguk lesu. Restandi datang membawa kue dan teh hangat.


"Ini ada kue jika kamu lapar. Di minum dulu tehnya biar kamu lebih tenang." kata Restandi lembut.


"Aku mau cerita pada kalian berdua." kata Revita dengan yakin. Restandi dan Arleta pun mendengarkan cerita Revita tentang hubungannya dengan Arlan.

__ADS_1


"Vita kamu istirahat di sini saja dulu sambil pikirkan hubunganmu dengan Arlan, mau bagaimana nantinya. Setelah itu kamu bicara pada Arlan untuk menyelesaikan persoalan ini." kata Restandi tegas. Revita mengangguk. Restandi dan Arleta pun meninggalkan Revita untuk istirahat. Seperti dugaan Restandi, Arlan menyusul Revita ke rumahnya. Tapi Revita belum pulang. Arlan memutuskan menunggu Revita di luar rumahnya di dalam mobil. Revita tidak dapat di hubungi, Arlan jadi merasa bersalah dan khawatir. Seharusnya tadi dia pulang saja atau mengontak Revita. Hingga larut malam Revita belum pulang. Arlan memutuskan untuk pulang ke rumah. Besok pagi dia masih ada pekerjaan. Besok saja di kantor dia bertemu Revita. Pagi hari Revita ikut sarapan bersama keluarga Gutama. Hari ini keluarga Gutama lengkap. Revita batu bisa melihat Rion secara jelas. Tampan , pikir Revita. Tapi kabarnya aktor tampan ini sering Gonta ganti pacar. Pagi itu Restandi harus segera ke rumah sakit.


"Aku pergi ya sayang. Kamu di rumah kan?" Restandi mencium kening Arleta lalu pipinya. Sebenarnya dia ingin mencium yang lainnya tapi takutnya Arleta marah. Revita melihat kemesraan Restandi pada Arleta. Dia suka melihatnya. Sayangnya Arlan tidak mesra seperti Restandi. Walau begitu Revita mencintainya. Arlan bukan sosok yang romantis, pria biasa yang menjalani sesuatu dengan apa adanya. Revita kadang iri melihat sikap Restandi pada Arleta. Tapi dia sudah merasa nyaman dengan Arlan. Revita ingin membangun dunianya sendiri dengan pria pilihannya. Tapi pria itu tidak peka. Baru tunangan saja dibuat begini sudah sakit, bagaimana Arleta ya. Revita jadi mengerti mengapa Arleta sampai benci pada abangnya. Dan abangnya tidak termaafkan. Dia baru melihat Arlan makan malam berdua Raina saja sudah sakit hati. Bagaimana yang lebih dari itu. Arleta menepuk bahu Revita yang membuat gadis itu sadar dari lamunannya. Rion tampak bangkit dari kursinya.


"Kamu syuting nak?" tanya Sofi pada Rion.


"Iya ma aku berangkat ya." Rion beranjak pergi sambil membawa bekal.


"Ma Rion bawa bekal sekarang ?" tanya Arleta heran.


"Iya di suruh suamimu. Sekarang syuting juga di antar Jono. Mama juga heran kenapa begitu." kata Sofi sambil menatap Rion yang semakin jauh. Tentu saja Arleta tau alasannya. Rupanya Restandi sedang mengawasi adiknya.


"Ok ma." Arleta tersenyum, lalu dia mengajak Revita ke taman dekat kolam renang.


"Perasaanmu sudah lebih baik?" tanya Arleta. Mereka duduk di gazebo di taman.


"Sudah tapi aku masih malas ngomong sama Arlan." jawab Revita lesu.


"Jadi kamu maunya bagaimana?" Arleta ingin tau.


"Aku bingung, baru tunangan saja Arlan sering mengabaikan perkataanku. Bagaimana jika sudah menikah?" kata Revita bimbang.

__ADS_1


"Coba saja bicara dulu pada Arlan, mungkin saja dia bukan sengaja melakukan itu." Arleta tidak ingin hubungan sahabatnya berakhir.


"Aku rasa Restandi benar, aku harus bicara pada Arlan. Kalau dia tidak berubah juga baru aku pikirkan lagi." Revita yakin dengan keinginannya. Mereka masih sibuk berbincang. Sedangkan Arlan di kantor sudah mencari Revita. Ternyata Revita tidak masuk. Di hubungi juga tidak bisa. Nampaknya Revita benar-benar marah padanya. Arlan lalu berusaha mengingat-ingat apa yang Revita katakan. Lalu dia memeriksa jadwal kerjanya belakangan ini. Dia baru sadar perkataan Revita benar. Di saat-saat dia bertemu Revita justru dia sibuk, tapi pada jam kerja dia tidak memiliki pertemuan penting. Dia ingin bicara pada Revita, tapi dia tidak tau gadis itu di mana. Akhirnya karena kesal Arlan pun mengatakan pada Raina untuk mengosongkan jadwalnya hari itu. Arlan pun mendatangi Restandi di rumah sakit. Hal yang mengejutkan bagi Restandi. Biasanya mereka bertemu di cafe.


"Hai tumben ke sini." kata Restandi ramah.


"Aku ada perlu Rest sama kamu." wajah Arlan tampak kusut.


"Perlu apa tuh." Restandi berusaha netral, tidak berpihak.


"Tolong tanyakan Arleta di mana Revita." Arlan berkata lesu.


"Arleta bisa salah paham nanti sama aku jika aku tanya tentang Revita." Restandi tidak mau mengatakan bahwa Revita di rumahnya. Biar Revita tenang dulu.


"Kalau aku yang tanya pasti Arleta tidak akan kadih tau." Arlan bingung sekarang, bagaimana menemukan Revita.


"Kalau bertemu memang kau mau bilang apa?" Restandi sebenarnya kasihan pada Arlan.


"Aku ingin meluruskan kesalahpahaman semalam. Sebenarnya aku ada pertemuan penting dengan investor di sana. Setelah selesai aku makan karena lapar tapi aku tidak mengajak sekretarisku untuk makan bersama. Dia hanya menungguku karena akan menumpang hingga di depan mal. Tapi pasti Revita berpikir aku makan malam berdua." jelas Arlan dengan sendu.


"Lan aku prihatin dengan persoalanmu, tapi menurutku kau yang harus mengendalikan keadaan. Bukan di kendalikan keadaan. Mungkin kau sibuk dengan pekerjaan tapi Revita harus jadi prioritasmu. Memang kau mau jika kehilangan dia?"

__ADS_1


__ADS_2