
Norman Sati yang tampak menghampiri mereka.
"Dok, bisa bicara sebentar?" tanya Norman serius.
"Bisa. Tunggu di ruangan saya ya. Nyonya kan tidak bisa cepat-cepat jalannya." jawab Restandi sambil melirik Arleta. Norman tersenyum dan mengangguk. Dia berjalan terlebih dahulu. Pasangan itu suka berlaku mesra, bikin sakit mata. Norman menunggu di ruangan Restandi. Tidak lama Restandi masuk bersama Arleta.
"Ada yang penting?" tanya Restandi serius.
"Saya mau kasih ini dok." Norman menyerahkan undangan pernikahan dia dan Diana akan menikah.
"Saya kira ada yang penting." Restandi mengomel sambil membuka dan membaca undangan itu. Arleta tau Diana akan menikah, jadi dia senyum-senyum saja.
"Ini juga penting dok. Saya ingin mengajukan cuti. Dokter harus siap-siap nanti tanpa saya. Tapi Dio bisa menggantikan saya nanti jika dokter butuh bantuan." Norman Sati terlihat bahagia akan menikah.
"Akhirnya di ikat juga ya." goda Restandi.
"Iya dok, saya takut di ambil orang." Norman jujur.
"Di ambil siapa?" Restandi tidak punya bayangan siapa orangnya.
"Ardiansyah Aria?" tanya Arleta. Diana menggantikan dirinya mengurus klinik. Karena itu sering berurusan dengan Ardi kakak sepupu Sehun yang masih bujangan itu.
"Maaf kalau pemikiran saya salah. Tapi khawatir kan boleh." kata Norman malu. Bisa saja dia salah.
"Saya mengerti. Armando saja sempat panas tau Ardi harus kerja bareng Avery. Ternyata pesona pria itu kuat sekali ya. Tapi apa karena itu kamu menikahi Diana?" tanya Restandi.
"Bukan hanya itu. Restunya baru turun. Sebenarnya keluarga belum merestui hubungan saya dengan Diana. Mereka tampak setuju, tapi mereka pikir saya tidak serius. Saya memang tidak bilang pada Diana karena takut Diana mundur. Tapi setelah melihat kami serius akhirnya mereka setuju. Untungnya, jika tidak saya bisa di jodohkan." Norman berterus terang. Restandi dan Arleta baru tau hal ini. Ya wajar saja, Norman anak seorang Jendral. Keluarganya tentu memilih menantunya.
"Tidak ada salahnya kondi jodohkan. Buktinya saya." kata Restandi sambil melirik mesra istrinya.
"Kalau di jodohkan dengan Bu Arleta saya juga mau dok." kata Norman terus terang.
__ADS_1
"Aduh sayang saya sudah punya suami dan mau punya anak dua." kata Arleta tersenyum yang melihat wajah Restandi seperti lampu merah.
"Tenang Bu, saya tunggu jandanya ." Norman berani melanggar lampu merah. Kurang asem, pikir Restandi.
"Terus saya sama Diana begitu?" Restandi menahan marah.
"Sabar dok, cuma bercanda. Biar bagaimana Diana sudah melekat di hati saya." Norman mengakhiri candanya. Nanti dia di pecat.
"Kamu atur saja cutinya. Kalau sudah ada Dio saya tenang." kata Restandi. Dia pasti butuh bantuan. Pekerjaannya sendiri banyak.
"Ok dok, jadi ibu siap-siap saja. Nanti kalau Diana setuju ibu bersedia kan jadi yang kedua......." Norman belum selesai bicara, tapi melihat Restandi yang akan menumpuknya dia segera lari dari ruang bosnya. Arleta tersenyum merasa lucu. Tidak sadar suaminya seperti api yang menjalar ke api bensin.
"Jadi begitu ya, berani menggoda pria bujangan." Restandi berkata sambil menatap tajam. Dia bangkit menghampiri Arleta.
" Bukan pria bujangan tapi tunangan orang." jawab Arleta, hatinya berdebar melihat Restandi yang menghampirinya.
"Nah itu tau tunangan orang." Restandi tiba di hadapan Arleta. Tatapannya tetap tajam.
"Tidak malu ya sama anak?" tangan Restandi mengelus perut Arleta dengan lembut. Arleta berdesir. Di tatapnya mata Restandi dan wajah tampan suaminya. Arleta pun menyerah. Dia merangkul leher Restandi dan mencium bibirnya. Restandi menyambutnya, dia senang luar biasa. Begini hasilnya jika menyudutkan Arleta. Mereka lama terlibat adegan mesra tersebut. Arleta segera kalah dan dalam kuasa Restandi. Setelah puas mencium Arleta Restandi menyudahi serangannya.
"Kita pulang yuk." Restandi berbisik di telinga Arleta. Dia pun pasrah di bawa pulang suaminya.
"Sayang, kamu tidak bingung bawahan kamu nikah?" tanya Restandi pada Arleta. Mereka tengah bersantai di kamar.
"Iya nih, aku mau melahirkan Diana menikah." Arleta memang bingung.
"Memangnya Diana cuti berapa lama?" Restandi tidak yakin cuti Diana dan Norman sama.
"Dua Minggu. Selama ini Diana rajin, tidak pernah ambil cuti. Jadi aku ijinkan." Arleta akui, Diana memang andalannya.
"Ya itu memang hak dia. Norman juga begitu. Aduh pasangan giat kerja begitu bagaimana nanti punya anak ya?" Restandi jadi berpikir jauh.
__ADS_1
"Jangan di omong sekarang deh, aku pusing jadinya." yang sekarang saja Arleta masih belum tau.
"Minta Trisia saja bantu kamu sayang. Babynya sudah bisa di tinggal. Ada ibu Sofi yang senang merawat bayi." Restandi mengusulkan. Arleta tertawa. Kalau Sofi mendengar perkataan anaknya kuping Restandi pasti di jewer. Restandi tidak tau Sofi pernah mengeluh ketika di titipi Alrest dan Matriska. Saat itu Alrest banyak maunya dan Matris tidak mau diam dan tidur. Minta di gendong terus. Akhirnya Sofi sakit pinggang. Dia ngomel bilang "Kalian enak-enak bikin anak bayi mama yang pusing." Berbeda dengan Nikolas yang menikmati menjaga cucunya. Mungkin dulu jarang mencurahkan waktu untuk anak-anaknya, sekarang Nikolas menebusnya dengan menjaga cucu-cucunya.
"Nanti coba aku bicara pada Trisia." kata Arleta akhirnya.
"Nah gitu dong. Yang penting bawahan kamu itu milikku selamanya." Restandi berkata sambil mengedipkan sebelah mata.
"Maksud kamu apa? mau selingkuh?" Arleta terpancing.
"Maksud aku bawahan kamu yang ini sayang." Restandi menyentuh organ inti Arleta. Istrinya segera melepas tangan Restandi, bahaya nanti kalau kerja.
"Bagaimana kalau kita ketemukan dengan bawahanku?" Restandi serius.
"Boleh, tapi nanti kalau babynya sudah keluar." jawab Arleta. Dia bingung, makin ke sini Restandi jadi manja. Minta di layani terus dan cemburuan. Apa karena dulu mereka tidak pacaran?
"Itu mah lama sayang. Sekarang ya." Restandi masih merayu.
"Biar bawahan kita bulan madu dua Minggu seperti Norman dan Diana." kata Restandi lagi.
"Apa???" Arleta tidak bisa membayangkannya.
Berbeda dengan Armando yang sedang kesal. Avery sedang ngidam. Setiap hari ada saja yang di mintanya. Tapi ketika sudah di turuti ada saja protesnya. Kekesalan Armando sudah di ujung kepalanya. Karena sangat kesal Armando menggendong Avery ke dalam kamar.
"Hei kamu mau ngapain Ar?" tanya Avery bingung.
"Aku akan mengurungmu sampai besok pagi. Kamu harus memanjakan miliki." kata Armando sambil mengunci pintu kamar.
"Apa? memanjakan milikmu. Harusnya aku yang di manjakan, aku kan sedang mengandung anakmu. Lagi pula ini kan kamu yang mau." Avery sempat merajuk ketika tau dia hamil. Itu memang anak yang di inginkan Armando.
"Kalau begitu mari kita saling memanjakan." Armando meletakan Avery di tempat tidur.
__ADS_1
"Aku janji mau temani Melody main boneka."