
Arlan dan Revita bertanya tentang keadaan Arleta. Restandi menjelaskan. Selain itu Restandi meminta keluarga Gutama untuk pulang. Dia akan memberi kabar jika Arleta siuman. Rion pun berpesan untuk menghubunginya jika butuh sesuatu. Sebagai gantinya Jono siaga di depan ruang rawat Arleta. Armando pulang sebentar, tapi lalu balik kembali. Dia belum tenang jika Arleta belum sadar. Restandi memindahkan pekerjaannya di ruang Arleta. Dia tidak mau meninggalkan istrinya sedikit pun.
"Bagaimana perkembangan kasusnya Rest?" tanya Armando.
"Belum ada kabar terbaru. Oknumnya masih di cari." jawab Restandi.
"Sudah jangan khawatirkan itu, biar jadi urusanku." kata Armando. Dia akan mengejar pria itu. Sementara Raul sedang marah-marah. Masalahnya pria yang di bayarnya meninggalkan jejak. Selain itu Raul juga menerima kemarahan dari Weny. Dia tidak menyangka cara Raul membantunya seperti itu.
"Kita harus bagaimana ini? kalau pria itu tertangkap bagaimana nasib kita?" tanya Weny panik.
"Tenang sayang, pria itu sedang sembunyi." kata Raul menenangkan. Dia pun sebenarnya cemas. Tapi dia berupaya kelihatan tenang di hadapan Weny.
"Apa perlu kita kirim dia ke luar negeri?" tanya Weny lagi.
"Bagaimana jika kita pergi ke luar negeri dan menetap di sana?" Raul balik bertanya. Weny terdiam.
"Ayolah sayang kehidupan kita di sana lebih nyaman." bujuk Raul.
"Aku harus bilang apa sama papa?" tanya Weny bingung.
"Kau bisa beralasan untuk bisnis di sana." Raul tidak hilang akal. Raul berpikir untuk pergi sendiri jika Weny tidak bersedia pindah.
Malam hari Rion datang ke rumah sakit membawa Alrest.
"Kak putramu tidak mau tidur. Dia menangis terus. Mungkin dia rindu pada mamanya." kata Rion yang menggendong Alrest.
__ADS_1
"Alrest kenapa sayang?" Restandi menggendong putranya. Alrest tampak senang.
"Mama." kata Alrest sedih.
"Alrest kangen sama mama sayang?" tanya Restandi. Hati Rion ngilu mendengarnya. Mungkin Alrest dapat merasakan penderitaan mamanya. Restandi mendekatkan Alrest pada tempat tidur Arleta.
"Mama sedang tidur sayang." Restandi memperlihatkan Arleta pada Alrest. Tapi dia tidak menurunkan putranya. Dia khawatir Alrest mengganggu Arleta yang sedang hamil.
"Mama." kata Alrest, matanya tidak lepas menatap Arleta. Restandi duduk di sebelah tempat tidur Arleta.
"Sayang Alrest mencari kamu nih." kata Restandi lembut.
"Mama." Alrest memanggil lagi. Dia bingung mengapa mamanya tidak merespon.
"Biar kubawa saja ke rumah, gabung sama Melody. Mungkin dia tidak akan rewel." kata Armando mengusulkan.
"Besok saja. Malam ini dia akan membangunkan seisi rumahmu." kata Restandi.
"Keras kepalanya seperti siapa sih?" tanya Rion sambil tersenyum.
"Seperti omnya lah." jawab Restandi tidak mau di salahkan.
"Kamu pulang saja, tapi besok pagi datang bawa sarapan untuk Alrest." kata Restandi pada Rina, pengasuh Alrest.
"Alrest, om Rion pulang ya. Jangan nakal." Rion mencium kepala Alrest yang masih di gendong Restandi. Keponakannya sudah terlelap di bahu papanya. Rion pun pulang. Armando juga memutuskan untuk pulang, karena sekarang ada istri yang menunggunya. Restandi membaringkan Alrest pada tempat tidur yang telah di sediakan untuknya. Restandi juga membaringkan dirinya di sebelah putranya. Di ciumnya Alrest sebelum dia terlelap. Jono masuk ke dalam ruangan. Ketika di lihatnya Restandi sudah tidur, dia pun merebahkan dirinya di sofa. Di depan pintu ruang rawat sudah ada yang menjaga. Armando mengatur penjagaan, khawatir orang yang mencelakai Arleta masih penasaran.
__ADS_1
Weny berupaya memperbaiki kontraknya dengan Sentosa 2. Dia tidak mau lagi membuat masalah. Walau sebetulnya masalah yang di dapat bukan perbuatannya. Tapi dia tau, Raul melakukannya untuk dirinya. Weny tidak sanggup jika kehilangan Raul. Satu-satunya sosok yang dekat dengannya. Weny mulai mempertimbangkan untuk pergi bersama Raul. Karena Weny sudah melihat Raul bertekat untuk pergi. Weny juga tidak merasa tenang lagi, dia merasa takut jika semua terbongkar. Dia terus mencari tau perkembangan Arleta. Kali ini Weny berharap Arleta baik-baik saja.
Rion datang pagi bersama Nikolas, Sofi dan Rina sang pengasuh Alrest. Restandi sudah memandikannya dan Alrest lebih tenang karena sudah bertemu orangtuanya. Restandi menyerahkan Alrest pada Rina. Karena Arleta pagi ini ada yang menjaga Restandi pergi ke ruang kerjanya. Ada pekerjaan yang harus di tindak lanjuti. Restandi di bantu Rani.
"Dokter sudah sarapan?" tanya Rani, dia sudah semakin dewasa dan cekatan kerjanya.
"Belum." jawab Restandi singkat. Tangannya masih memeriksa berkas-betkas.
"Sarapan dulu dok." Rani menyerahkan semangkuk bubur ayam yang masih panas. Sungguh menggoda.
"Jono sudah bawakan saya sarapan. Tapi yang ini saya makan juga. Saya butuh tenaga ekstra Rani." kata Restandi mengingat istrinya yang belum sadar.
"Dokter makan dulu, biar saya yang memilah berkasnya." kata Rani. Restandi segera pindah ke sofa menikmati bubur ayamnya. Rani sekarang yang duduk di kursi Restandi. Hal ini sering di lakukannya jika harus membantu Restandi. Sudah cocok dia jadi nyonya bos. Hanya bosnya saja yang belum bertemu Rani. Norman masuk mencari Restandi.
"Wah bosnya ganti, cantik lagi." kata Norman menggoda Rani. Gadis itu hanya memanyunkan bibirnya. Tidak berani membalas karena ada Restandi di sana.
"Ada yang bisa saya bantu dok?" tanya Norman pada Restandi.
"Banyak. Tuh sama Rani." jawab Restandi yang sudah hampir menghabiskan buburnya.
"Bos cantik, ada pekerjaan tidak buat saya?" tanya Norman jail. Rani segera menyerahkan berkas yang penting untuk segera di tangani. Sumpah, kalau tidak ada Restandi dia ingin menimpuk Norman dengan benda apa saja yang ada di meja Restandi. Asal jangan foto. Nanti di marahin. Walau jabatan Norman wakil direktur rumah sakit, tapi karena hobinya yang suka menggangu Rani membuatnya susah untuk bersikap hormat dan takut pada pria itu. Norman gemas melihat Rani yang mungil tapi gesit itu. Mungkin karena dia anak bungsu dan tidak punya adik perempuan, Rani jadi sasarannya.
"Terima kasih ya bos." Norman mengedipkan sebelah matanya pada Rani, lalu pergi meninggalkan ruangan. Restandi selesai dengan buburnya.
"Rani saya mau lihat Arleta dulu, kamu teruskan saja." Restandi bangkit berjalan menuju ruang perawatan Arleta. Saat ini waktunya kedatangan dokter. Rani menatap kepergian pimpinannya dengan wajah sedih. Rasanya dia baru saja mendapat coklat dari Arleta, wanita itu sekarang terbaring diam. Ketika Restandi masuk sudah ada Lukman Aria dan Arman Zaki di sana. Melihat Restandi datang Arman menggelengkan kepalanya. Pertanda belum ada kemajuan pada Arleta. Restandi menghembuskan napas kesal. Karena tidak ada yang dapat dilakukan.
__ADS_1