
Restandi keluar dari kamar Rion sebelum amarahnya meledak. Di tenangkan dirinya sebelum masuk ke kamarnya. Arleta sedang hamil dia tidak tega jika marah-marah. Ketika Restandi masuk ke dalam kamar, Arleta tampak tengah menatap ke luar jendela. Wajahnya luar biasa kesal. Restandi menariknya pelan agar Arleta menatapnya.
"Sejak kapan kau tau tentang ini?" tanya Restandi sambil menatap tajam.
"Sudah beberapa waktu. Dia memang pernah mengatakan kekagumannya pada Trisia." jawab Arleta cepat. Kena nih aku, pikir Arleta.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku?" Restandi memburu Arleta.
"Aku tidak menyangka dia akan senekat itu." kata Arleta menyesali ketidakberdayaannya. Arleta lalu menangis. Dia kesal dan mungkin karena sedang hamil juga. Restandi terkejut, di peluknya Arleta.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Restandi lembut.
"Aku kesal. Kenapa dia begitu bodoh." kata Arleta dengan tersedu.
"Sudah, sudah. Dia sudah bertekat. Aku yakin bila waktu bisa diulang dia akan melakukan hal yang sama." kata Restandi yang paham akan adiknya. Arleta pun menghentikan tangisannya. Dia merasa rugi menangisi adik iparnya yang bodoh. Restandi duduk dan menarik Arleta agar duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Jangan lakukan hal yang seperti tadi ya. Kami seperti wanita hamil yang mengejar suami yang selingkuh." Restandi merasa ngilu teringat Arleta yang berlari di tangga dengan perut besarnya.
"Suamiku selingkuh dengan artis papan atas. Tentu saja aku kalah pamor." kata Arleta geram. Dia berpikir tentang Rion dan Trisia.
"Kamu kan punya anak, masa kalah." kata Restandi sambil tersenyum. Tangannya mengelus perut Arleta.
"Pria jaman sekarang tidak ingat punya anak. Yang penting nafsunya pada wanita cantik." kata Arleta kesal.
"Masak sih? Aku tidak begitu. Aku malah mau inden lagi biar anakku banyak." Restandi menggunakan kesempatan ini untuk membawa Arleta ketempat tidur. Sudah beberapa waktu Arleta menolaknya dengan alasan indennya sudah melewati limit. Padahal dia ingin limit tidak terbatas seperti kartu yang dia berikan pada Arleta. Namun kali ini Arleta membiarkannya karena merasa bersalah telah menutupi adik iparnya yang berandal itu. Restandi begitu merindukan istrinya, walaupun sekarang gendut. Besok paginya Arleta masih cemas dengan Rion. Restandi mengatakan bukan kapasitas mereka untuk membereskan apa yang di kacaukan Rion.
"Sudah pikirkan saja bayi kita. Itu urusanku. " kata Restandi menenangkan. Biar bagaimana Rion adalah adiknya. Selama Restandi belum mengatakan apa pun Rion gelisah. Rion masih menebak-nebak apa yang akan Restandi putuskan. Seperti yang Restandi katakan pada Arleta, Rion sendiri yang harus menyelesaikan masalahnya. Rion harus bicara pada Trisia untuk mengatakan yang terjadi pada Armando. Sebelum Armando mengetahuinya dari orang lain. Karena Restandi sendiri beranggapan jika itu terjadi padanya, dia tidak ingin mendengarnya dari orang lain. Restandi memberikan waktu bagi Rion dan Trisia untuk membereskan masalah mereka. Trisia sendiri ketika pulang dari luar kota, dia sudah tau dia melakukan perselingkuhan. Walaupun Armando tidak memperlakukannya selayaknya seorang istri namun dia tetap salah. Trisia merasa ragu sekarang, mungkin dia harus melepas Armando. Jika Armando mengetahui hal ini Armando akan segera menceraikannya. Saat ini Trisia merasa bersalah. Telah berlaku tidak patut di belakang Armando. Hari itu entah mengapa Armando merasa harus pulang. Hatinya menginginkan untuk pulang. Maka Armando pulang ke rumah. Namun Trisia yang merasa bersalah malah tidak berani menghadapi Armando. Trisia bahkan tidak berani menatap Armando. Maka dia mengurung diri di kamar dengan alasan lelah dan ingin istirahat. Armando melihat Trisia baik-baik saja merasa bingung. Mengapa hatinya tidak nyaman? Atau ada sesuatu dengan Melani? Armando pun menghubungi Melani. Tapi Melani ternyata juga baik-baik saja. Melani bahkan dengan ceria bercerita persiapannya menyambut bayi mereka nanti. Armando jadi merasa dirinya yang aneh. Setelah mengetahui kedua istrinya baik-baik saja, Armando pun memutuskan untuk mengobrol dengan Melani.
"Kamu mau melahirkan di mana Mel?" tanya Armando pada istri kesayangannya.
"Kamu keberatan jika aku ingin melahirkan di sini?" Melani balik bertanya.
__ADS_1
"Aku ikutin kamu saja. Yang kamu rasa nyaman." jawab Armando.
"Aku di sini saja, nanti kalau anak kita sudah lahir baru aku ikut kamu pulang." kata Melani mantap. Dia merasa bisa menghadapi Mauren dengan membawa bayinya. Tapi dia memang lebih percaya diri jika datang dengan bayinya.
"Aku akan datang sesuai jadwal, atau kamu mau aku datang lebih cepat?" tanya Armando tentang jadwal kedatangannya menengok Melani.
"Tidak perlu, datang ketika aku akan melahirkan saja. Kamu pasti sibuk di sana." Melani ingin ketika melahirkan Armando mendampinginya.
"Kamu tidak perlu khawatir Mel, aku akan atur semuanya. Aku sambil kerja di sana juga bisa." Bagi Armando keadaan Melani lebih penting.
"Ingat ya Mel, jangan memaksakan diri. Juga jangan terlalu lelah. Beberapa hari lagi aku datang." pesan Armando.
"Iya aku janji akan berhati-hati. Sudah ya jangan khawatir." janji Melani. Dia tersenyum mengetahui kekhawatiran Armando. Percakapan itu di tutup dengan pesan Armando untuk menghubunginya jika ada sesuatu. Setelah melihat bahwa semua baik-baik saja, Armando pun memutuskan untuk beristirahat. Trisia tetap menghindari Armando sampai saat keberangkatan menengok Melani. Padahal Armando pulang setiap hari. Saat berangkat ke Australia pun Armando membawa kopernya di depan Trisia. Tapi Trisia tetap tidak mengatakan apa pun. Bahwa dia ingin cerai dari Armando. Hal ini membuat Rion marah. Di sela-sela syuting Rion menyekap Trisia dan menggauli gadis itu lagi. Rion menghukum Trisia dengan caranya. Dengan buaiannya dia memberi kenikmatan pada gadis itu agar Trisia semakin terjerat padanya. Tapi memang setelah Rion meniduri Trisia, dia semakin tergila-gila pada Trisia. Rion tengah mengatur gerakannya agar lembut, kecupannya merajai tubuh Trisia. Gadis itu pasrah, Trisia merasa mendapat kesenangan dari sentuhan Rion. Kenikmatan yang belum pernah di rasakan ya. Di dalam hati Trisia pernah membayangkan jika Armando yang melakukannya. Tapi Trisia segera sadar karena rayuan manis Rion di telinganya.
"Kamu nikmat sayang." kata Rion, lalu mengecup Trisia sesuka hatinya.
__ADS_1
"Kau harus segera bercerai dari Armando." kata Rion lagi. Dia tidak mau menggauli Trisia sembunyi-sembunyi seperti ini terus. Dia ingin menggauli Trisia di tempat tidurnya sendiri. Walaupun Trisia diam tapi membenarkannya dalam hati. Armando pun akan menceraikannya jika tau. Kalau boleh memilih Trisia ingin keduanya. Kenikmatan dari Rion tapi tetap bersama dengan Armando.