Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
108. Kejutan Manis


__ADS_3

Dari pada tengah malam dia harus keluar. Rion baru saja kembali dan langsung menuju kamarnya di lantai tiga. Karena sang istri tengah menunggu. Arleta pun sedang menuju ke kamar Rion untuk melihat keadaan Trisia yang tidak keluar kamar sedari pagi. Kalau bukan Sofi yang memintanya Arleta malas melakukannya. Menurutnya pasangan itu sudah dewasa dan Trisia tanggung jawab Rion. Maka Arleta pun jadi mendengar prahara rumah tangga adik iparnya itu.


"Sayang , ini martabaknya sudah aku belikan. Kau makan ya." kata Rion dengan manis pada Trisia. Arleta mengurungkan niatnya mengetuk pintu kamar Rion. Ingin tau percakapan pasangan baru itu.


"Aku tidak mau." jawab Trisia gusar. Rion terkejut dan kesal.


"Tadi kan kamu minta martabak sayang. Aku sudah membelikannya untukmu." Rion melihat Trisia merajuk tanpa alasan.


"Iya aku ingin martabak tapi aku tidak ingin kau yang membelikannya." kata Trisia yang tengah duduk di tempat tidur.


"Lalu kalau bukan aku siapa yang membelikannya?" tanya Rion bingung.


"Aku ingin Armando yang membelikannya." jawab Trisia tanpa rasa malu dan canggung.


"Hai itu anakku bukan anak Armando. Kenapa pria itu yang harus membelikan martabak untukmu?" Rion naik darah.


"Pokoknya aku mau Armando yang belikan." kata Trisia berkeras, dia menyembunyikan dirinya di balik selimut. Tidak mau melihat Rion. Di perlakukan demikian Rion jafi bernafsu untuk menghukum istrinya. Di terjangnya Trisia di tempat tidur. Di lemparnya selimut dan mulai menghujani Trisila dengan ciumannya. Dia harus membuat Trisia melupakan Armando.


"Rion apa yang kau lakukan. Aku sedang hamil, nanti bayinya keluar." Trisia panik mendapat serangan Rion.


'Biat saja, itu kan anak Armando bukan anakku." Rion pun tetap menjalankan serangannya. Ingin menandaskan kepemilikan atas ibu dan bayinya. Arleta pun membatalkan niatnya untuk masuk. Perlahan dia turun ke bawah masuk ke kamarnya. Di sana Restandi sedang bermain bersama Alrest.


"Jadi nasibnya begitu ya jika merebut istri orang" kata Arleta sambil tersenyum geli.

__ADS_1


"Ada apa lagi istri cantikku ini. Ada saja yang kamu bahas kalau sudah ke kamar Rion." kata Restandi heran sambil menatap Arleta.


"Trisia ingin yang membelikan martabak Armando bukan Rion. Tentu saja adikmu marah-marah." Arleta menjeladkan.


"Lalu aku sudah merebut tunangan orang bagaimana dong nasibnya?" tanya Restandi bercanda.


"Kamu cukup mujur dokter, karena kadar sebal aku pada Kevin cukup tinggi. Tapi entah anak kedua nanti." jawab Arleta membalas Restandi.


"Tapi dia sudah punya pacar tuh." kata Restandi teringat pada Khanza.


"Itu asistennya, bukan pacarnya." bantah Arleta.


"Arleta, aku laki-laki. Aku bisa melihat tatapan Kevin berbeda dari apa yang di sebut asisten." Restandi berkata serius. Arleta terpaku.


"Sayang, kamu tidak mau Kevin bahagia?" Restandi bertanya lembut. Ingin tau perasaan Arleta.


"Dia sudah membuat Arleta Mahira Kamajaya patah hati, harusnya hukumannya lebih lama. Tapi aku senang ko kalau Kevin sudah bisa jatuh cinta lagi. Kasihan juga sendiri."kata Arleta pada akhirnya. Tepat seperti yang di pikirkan Restandi. Istrinya lembut hati. Itu yang membuat Restandi khawatir. Arleta mudah kasihan pada orang lain.


"Sayang Alrest ngantuk nih." Restandi mengalihkan pikiran Arleta dengan menyerahkan putranya. Arleta pun sibuk menidurkan Alrest. Restandi cukup puas dengan rumah tangganya yang belum lama di bangun dan masih harus terus di jaganya. Ketika Alrest sudah tertidur ada kejutan menanti Arleta. Armando datang bersama Avery dan Melody. Keluarga Gutama terkejut. Rion berupaya agar Trisia tidak keluar kamar. Dia tidak mau istrinya bertemu Armando. Rion khawatir istrinya tidak hanya minta martabak pada Armando. Tapi minta di bawa pulang. Namun Trisia kelelahan karena terjangan Rion tadi, dia tertidur lelap. Armando memenuhi janjinya pada Nikolas untuk membawa putrinya.


"Benar dia cantik Armando, kau akan kesulitan ketika dia besar nanti." kata Nikolas pada Armando. Mereka berkumpul di ruang keluarga.


"Apa kakak akan membawanya pada mama?" tanya Arleta hati-hati. Armando mengangguk dengan yakin.

__ADS_1


"Sudah waktunya kan mereka tau tentang Melody." perkataan Armando menyiratkan keinginannya untuk hidup bersama putrinya kini. Arleta melihat kekhawatiran di wajah Avery ketika Armando berkata demikian. Wajar saja, selama ini Avery yang merawat Melody.


"Avery aku senang kau ikut datang ke sini." kata Arleta pada Avery.


'Aku lari dari ayahku. Belakangan ini dia senang mengatur kencan buta untukku." kata Avery. Dia berkata jujur, tapi selain itu juga dia belum mau berpisah dari Melody.


"Apakah itu buruk?" tanya Restandi ingin tau. Dia dulu tidak keberatan di jodohkan dengan Arleta.


"Sebenarnya tidak buruk. Tapi mereka terlalu ambisius. Aku kan bukan barang." jawab Avery kesal. Restandi jadi bisa menangkap apa yang di alami gadis itu. Siapa yang tidak mau di jodohkan dengan putri Zakhary Cody yang cantik dan pintar serta kaya raya. Tapi yang mereka lihat mungkin apa yang di miliki Avery tanpa melihat perasaan gadis itu. Melody melihat Avery dan mulai memanggil.


"Mommy, mommy." katanya sambil memainkan jarinya di mulut.


"Itu bukan mommy, itu Nany." kata Armando tanpa perasaan. Avery menatapnya dengan wajah penuh permusuhan. Dia sayang pada Melody seperti pada putrinya sendiri. Maka dia tidak keberatan Melody memanggilnya mommy, karena sosok mungil itu sudah kehilangan ibunya. Yang tidak di sukai Avery dari Melody adalah ayahnya. Pria yang menyebalkan dan tidak punya perasaan. Sebenarnya apa yang di lakukan Armando hanya ingin mempersingkat waktu. Avery satu saat akan kehilangan Melody karena Melody akan hidup bersama Armando. Jadi Armando tidak mau memanjakan perasaan Avery pada Melody. Kali ini dia membawa Melody Armando mengijinkan Avery ikut karena Melody belum terbiasa terus bersama Armando. Tapi nanti Avery harus pulang tanpa Melody.


"Ayo kita harus ketemu Oma Mauren." kata Armando pada putrinya.


"Kalian nanti pulang ke mana,?" tanya Arleta. Dia ingin menahan kakaknya lebih lama.


"Ke apartemen." jawab Armando singkat.


'Avery juga ke sana?" tanya Arleta lagi.


"Iya dong, dia itu kan nanynya Melody. Masa jauh-jauh di bawa ke sini untuk liburan?" betulkan Armando menyebalkan. Tapi Avery berusaha sabar pada Armando. Karena dia sudah melihat betapa terpukulnya Armando kehilangan Melani. Jauh lebih terpukul di banding keluarga Cody sendiri. Jadi Avery diam saja jika Armando menyebalkan. Arleta masih menawarkan Avery untuk bermalam di rumah keluarga Gutama. Tapi Armando menolak. Dia tetap akan membawa Avery ke apartemennya. Mereka pun pergi menuju rumah keluarga Kamajaya untuk mengejutkan Mauren. Armando menggendong Melody memasuki rumah di iringi Avery. Orang tuanya tengah bersantai.

__ADS_1


__ADS_2