Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
86. Perceraian


__ADS_3

Aira menjawab ramah pada Paramita.


"Kenapa bukan dokter Restandi yang menangani ayah saya?" tanya Paramita protes. Aira menatap Paramita sesaat. Cantik, pikir Aira. Ini sih calon pelakor.


"Untuk saat ini ayah anda saya yang menangani. Dokter Restandi masih ada pasien yang lebih serius keadaannya." Aira jadi semakin ingin tetap menangani Darma Huzen. Aira beranggapan wanita ini bisa bikin mentornya sakit kepala. Paramita jelas kecewa, dia sudah berdandan cantik hari ini ternyata tidak bertemu Restandi.


"Tapi saya maunya dokter Restandi yang menangani ayah saya." kata Paramita protes.


"Sama saja mbak, jika keadaannya genting biasanya dokter Restandi yang akan turun tangan." Aira melihat wanita ini mulai menjengkelkan. Dasar anak orang kaya manja, sok cari perhatian. Umpat Aira dalam hati. Paramita tidak berkata apa-apa lagi. Dia akan mencari cara untuk bertemu dengan Restandi lagi. Hari itu Restandi mengantar Arleta. Mereka sudah akan pulang.


"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Restandi.


"Boleh apa saja?" Arleta balik bertanya.


"Apa dulu yang mau kamu makan." jawab Restandi.


"Aku pingin makan bakmi." kata Arleta mengatakan keinginannya.


"Boleh tapi jangan sering-sering." Restandi baik hati. Mereka pun menuju Restauran bakmi yang Arleta mau. Sejak hamil Arleta tidak kesulitan makan. Dia juga tidak ngidam yang abeh-aneh. Hanya kadang makanan yang tidak di sukainya tiba-tiba di inginkannya. Mereka menikmati bakmi.

__ADS_1


"Habis ini kita pulang ya Rest, aku rasanya cape." pinta Arleta.


"Kamu tidur saja di mobil." kata Restandi. Dia pun membawa Arleta pulang. Arleta merasa belakangan ini dia cepat lelah. Restandi merasa kasihan melihat istrinya yang sudah membesar perutnya.


"Besok kita ke dokter Lukman lagi." kata Restandi pada Arleta. Di rumah Restandi menunggu Arleta tertidur, kemudian keluar dari kamar. Sehun menghubungi Restandi, mengatakan dia dan Monika akan berangkat untuk bulan madu. Satu Minggu lagi Sehun baru akan kembali, mengingat pekerjaannya yang banyak. Restandi bisa mengerti. Sementara itu Armando telah menerima surat perceraiannya dengan Trisia. Hari ini mereka resmi bercerai. Armando pun segera meninggalkan rumah. Trisia sedih, Armando bukan hanya meninggalkan rumah tapi juga meninggalkan hidupnya. Trisia resmi menjadi janda. Trisia pun memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Hal ini di utarakan Trisia pada Rion. Mendengar itu Rion bersemangat. Rion pun segera bicara pada Restandi tentang niatnya untuk melamar Trisia. Restandi mengatakan pada Rion untuk bicara pada Nikolas dan Sofi. Keputusan apa pun yang diambil Nikolas, Restandi tidak akan ikut campur. Rion bingung, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia pun bicara pada Nikolas dan Sofi. Dia mengatakan semua yang telah dia lakukan tanpa menyembunyikan satu pun. Nikolas dan Sofi kecewa. Mereka tidak menyangka sang putra kedua akan begitu berani berbuat. Mereka tidak membuat keputusan. Nikolas memutuskan untuk memikirkan dulu. Nikolas pun memanggil Restandi dan Arleta. Mereka bicara bertiga di ruang kerja Nikolas. Sofi terlalu kecewa memilih masuk ke kamarnya.


"Kamu tau apa yang di lakukan Rion?" tanya Nikolas pada Restandi.


"Kami tau pa, bahkan Arleta yang sering memantau Rion. Tapi papa tau sendiri kan putra papa seperti apa." kata Restandi sinis pada ayahnya. Restandi memaksudkan putra ayahnya dengan wanita lain. Walau Restandi tau ayahnya tidak mencintai wanita itu, tapi pengkhianatan tetaplah pengkhianatan. Nikolas menghela napas panjang.


"Papa dan mama tidak tau akan hal ini. Maaf Arleta atas apa yang Rion lakukan." kata Nikolas dengan menyesal pada Arleta.


"Baiklah, sekarang papa rasa Rion harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Trisia akan masuk dalam keluarga ini kalian suka atau tidak. Apa kalian keberatan jika Trisia tinggal di rumah ini?" tanya Nikolas. Sebenarnya yang dia tanyakan adalah Restandi. Tapi Restandi justru memikirkan Arleta.


"Aku tidak keberatan, entah Arleta. Menurutmu bagaimana sayang?" tanya Restandi pada Arleta, karena Arleta mantan adik ipar Trisia.


"Aku sih tidak masalah. Kak Armando menikah dengan Trisia bukan karena saling mencintai, tapi terpaksa karena mama. Tidak ada alasan bagiku untuk sakit hati atau merasa tidak enak. Hanya saja aku tidak suka karena dia tidak menjaga dirinya dengan baik. Itu saja." Arleta menjawab jujur. Nikolas mengangguk paham. Ini menjadi pertimbangannya.


"Baiklah papa sudah tau pendapat kalian. Papa akan bicara dulu pada mama, apa yang mama mau." kata Nikolas mengakhiri pembicaraan mereka. Restandi dan Arleta pun kembali ke kamar. Nikolas bicara dengan Sofi, yang ternyata Sofi setuju dengan Arleta. Sofi kecewa bukan hanya pada Rion tapi juga pada Trisia. Sofi merasa kurang nyaman tinggal satu atap bersama menantu keduanya. Maka Nikolas memutuskan Rion dan Trisia akan menempati bangunan di sebelah mereka. Rumah berlantai dua yang dulu dia siapkan untuk istri keduanya. Rion pun di panggil. Kali ini Nikolas bicara berdua saja dengan Rion.

__ADS_1


"Papa sudah pikirkan, walau papa dan mama kecewa tapi kami setuju kalian harus segera menikah." kata Nikolas pada Rion. Pria itu tersenyum.


"Maaf pa, Rion salah." katanya merendah.


"Kamu tau itu salah tapi kamu lakukan juga. Kamu benci pada ibumu, tapi mengapa kamu melakukan hal yang sama nak?" kata Nikolas sedih. Rion tidak membantah, tapi menyangkalnya dalam hati. Keadaannya berbeda. Armando tidak pernah mencintai Trisia. Dan Trisia tidak pantas berada dalam pernikahan yang tidak membuatnya bahagia. Sedangkan dia, akan membuat Trisia bahagia.


"Ini pertama dan terakhir Rion lakukan pa. Tidak akan terjadi lagi. Rion akan bahagia bersama Trisia." janji Rion pada ayahnya.


"Semoga kamu tidak salah pilih istri nak." itu doa Nikolas bagi putra keduanya, Marionata Gutama. Hasil keputusan Nikolas Gutama keluar. Rion akan menikahi Trisia, jika lamarannya di terima. Jika tidak di terima ya isi di luar tanggung jawab keluarga Gutama. Artinya jika Trisia mengandung ya keluarga Gutama tidak mau tau. Sekarang giliran Restandi yang memanggil Rion.


"Kamu tidak mau mengurus rumah sakit?" tanya Restandi pada Rion.


"Itu bukan bidangku. Lagipula itu hak kakak sebagai putra pertama papa. Aku tidak akan minta sedikit pun." jawab Rion. Dia merasa bukan siapa-siapa di keluarga Gutama.


"Tapi kamu punya hak. Bagaimana kalau kamu punya rumah produksi sendiri?" tanya Restandi lagi. Mata Rion berbinar.


"Kalau itu sih aku tidak menolak." jawab Rion cepat. Jika punya rumah produksi sendiri dia tidak perlu melakukan adegan yang sutradara minta demi kebaikan rating. Dia bisa memilih sendiri filmnya.


"Baik, kamu persiapkan saja yang di butuhkan."

__ADS_1


__ADS_2