Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
152. Fajar Dewangga


__ADS_3

"Semoga Rama bahagia nanti." Farida mengakui Sehun benar.


"Kita bicara saja dulu dengan Rama. Apa pendapatnya. Yang sabar ya Bu. Dia tetap cucu ibu. Sehun yakin Rama tidak akan lupa pada ibu." kata-kata Sehun membuat Farida lebih lega. Mereka pun mengajak Rama untuk bicara, anak usia enam tahun itu punya kesan yang kurang menyenangkan tentang om dan tantenya. Dia merasa di abaikan dan tidak di urus. Kalau boleh memilih Rama lebih suka tinggal bersama Farida. Apalagi saat ini kehidupan mereka jauh lebih baik. Diantara Sepuluh anak di sana Rama yang usianya paling besar.


"Rama papa tau kamu senang tinggal di sini. Tapi apa kamu tidak ingin punya keluarga utuh dan tinggal di satu rumah?" tanya Sehun memancing.


"Rama ingin punya keluarga yang lengkap seperti teman-teman Rama yang lain. Tapi Rama takut Rama tidak akan di sayang." jawab Rama jujur.


"Kalau begitu kita bertemu dulu dengan om dan tantemu ya. Kita lihat bagaimana sikap mereka nanti." Bujuk Sehun. Rama mengangguk.


"Bu atur saja pertemuan dengan mereka. Kita lihat keseriusan mereka untuk merawat Rama." Sehun memutuskan. Dia tidak bisa menghalangi keluarga kandung Rama untuk membawa keponakannya.


"Baik, ibu akan hubungi mereka." kata Farida sedih. Ketika di hubungi mereka ternyata bersedia datang.


"Katanya mereka akan datang sore ini Sehun. Bagaimana?" tanya Farida.


"Baik Bu saya akan temui mereka." Sehun sepakat. Karena masih ada waktu hingga sore, maka Sehun mengajak Farida dan Monika untuk pergi berbelanja kebutuhan anak-anak. Mereka pergi ke pusat perbelanjaan. Monika dan Farida sibuk memilih baju untuk anak-anak, Sehun hanya mengamati saja. Tiba-tiba seorang pria menghampiri Farida.


"Farida, ini kamu kan?" tanya pria itu sambil menarik Farida untuk memperjelas perkiraannya, karena dia hanya melihat Farida dari belakang.


"Loh mas." Farida terkejut. Wajahnya menjadi pucat. Sehun yang melihat itu langsung menghampiri.


"Sayang, bisa bawa ibu ke mobil ya?" kata Sehun pada Monika tegas. Monika yang tau aura Sehun berubah langsung menurut.

__ADS_1


"Ayo Bu kita ke mobil." Monika menuntun Farida yang juga mengikutinya. Sedang Sehun tetap menahan pria itu. Fajar Dewangga yang melihat sosok yang tampak di kenalnya, Farida. Wanita yang tengah di carinya.


"Maaf, jangan ganggu ibu dan jangan temui lagi." kata Sehun tegas. Lalu melangkah pergi meninggalkan Fajar untuk menyusul Monika dan Farida. Fajar tertegun, ibu katanya. Farida kan tidak bisa punya anak. Lalu pria itu siapa? Tidak mungkin dalam waktu perpisahan mereka Farida bisa memiliki anak seumur pria itu. Lalu apa Farida sudah menikah lagi dengan pria yang memiliki anak seusia itu. Pikiran Fajar berkecamuk. Dia harus tau yang sebenarnya. Diam-diam dia mengikuti mobil Sehun yang tiba di sebuah rumah yang besar. Mereka turun dan masuk ke dalam rumah. Ada keamanan yang menjaga rumah itu. Karena penasaran Fajar pun turun.


"Maaf mas, apa ini rumah bapak Rachmat teman saya?" tanya Fajar bersandiwara.


"Bukan pak. Ini rumah ibu Farida." jawab satpam rumah itu.


"Bukan ya, itu mobil siapa?" tanya Fajar lagi memancing.


"Itu mobil bapak Sehun anak angkat Bu Farida. Di sini hanya tinggal ibu Farida dan sepuluh cucunya. Tidak ada yang namanya Rachmat." kata satpam itu.


"Suami Bu Farida mungkin namanya Rachmat?" Fajar ngeyel.


"Ibu Farida itu janda, tidak punya suami. Bapak ini macam-macam saja." Satpam itu jengkel. Fajar tersenyum senang, Farida tidak menikah lagi.


"Sama-sama pak." satpam itu masih mengawasi Fajar berlalu. Sementara Farida di dalam rumah masih terkejut.


"Ibu baik-baik saja?" tanya Monika. Dia melihat wajah Farida pucat.


"Ibu terkejut Mon, yang tadi itu mantan suami ibu. Sudah lama tidak bertemu ibu pikir hidup ibu sudah enak sekarang. Terbebas dari masa lalu." kata Farida sedih.


"Jadi ibu benar tidak mau bertemu lagi dengan mantan suami ibu?" tegas Sehun.

__ADS_1


"Fajar nak namanya. Ya ibu tasa tidak perlu bertemu lagi. Hidup kami kan sudah masing-masing." Farida tetap pada keinginannya.


"Apa ibu masih sakit hati?" Monika bertanya ingin tau perasaan hati Farida.


"Sakit hati sih sudah tidak, tapi ibu sedih saja kalau bertemu." Farida lega bisa mengungkapkan perasaannya.


"Ya sudah, yang penting nanti kalau mau keluar ibu pergi bersama kami." Sehun memutuskan.


"Ibu rasa ibu mau di rumah dulu " Farida mencari jalan aman. Mereka beristirahat sambil menunggu tamu datang. Ada satu kamar tamu yang bisa Sehun dan Monika gunakan. Farida sendiri memilih membuat kudapan. Untuk anak-anak sore makan juga untuk di suguhkan pada tamu. Marwan dan Yanti datang sesuai janji. Mereka di terima oleh Farida. Belakangan Sehun keluar di susul Monika.


"Selamat sore, ada tamu rupanya." kata Sehun membuka percakapan.


"Sehun, ini Marwan dan Yanti. Om dan tantenya Rama." Farida mengenalkan.


"Iya mas, kami sudah bertemu ibu Farida dengan tujuan untuk mengasuh Rama kembali." Marwan berterus terang akan tujuannya.


"Sebenarnya anak-anak itu wewenang istri saya, Monika." Sehun memperkenalkan istrinya. Marwan dan Yanti pun memberi salam pada Monika. Kesempatan itu di gunakan Monika untuk mengamati pasangan itu. Pasangan yang masih muda, seumuran dirinya. Tapi mengingat mereka sudah tau tidak bisa punya anak Monika kasihan juga.


"Anak-anak memang wewenang saya. Tapi keputusan biar papanya yang ambil." kata Monika dengan ramah. Dia menyerahkan pada Sehun.


"Kami menghargai niat baik kalian pada Rama. Kami juga sudah bertanya pada Ramanya sendiri. Menurut Rama dia betah tinggal di sini bersama neneknya ibu Farida. Mungkin karena pernah punya kesan yang kurang baik di masa lalu." kata Sehun hati-hati. Yanti mulai sedih. Dia mau menangis keinginannya di tolak. Marwan memegang tangan istrinya menghiburnya.


"Apa mas tidak bisa memberi kesempatan pada kami. Memang yang lu salah kami tidak merawat Rama dengan baik dan iklas." kata Marwan mencoba peruntungannya. Sebenarnya dulu Yanti yang tidak mau merawat Rama, tapi Marwan tidak mau menyalahkan istrinya.

__ADS_1


"Kesempatan bagaimana maksud mas Marwan?" tanya Sehun ingin tau pemikiran Marwan.


"Beri kesempatan Rama mengenal kami. Maksudnya biar Rama menginap di rumah kami selama beberapa hari. Kalau dia tidak betah akan saya antar pulang saat itu juga. Kalian juga bisa bertanya nanti pada Rama apakah dia suka tinggal bersama kami." kata Marwan menjelaskan. Sehun tampak berpikir sebelum memberi jawaban.


__ADS_2