Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
103. Terulang Lagi.


__ADS_3

"Dia adik temanku, anak manja yang harusnya bertemu denganku tapi malah tidak datang." kata Kevin lagi sambil tersenyum menenangkan Avery.


"Aku kira aku menghambat pekerjaanmu." Avery meneruskan makannya.


"Kakaknya sudah menyerahkan adiknya kepadaku. Dia kesal karena gadis itu kerjanya bersenang-senang. Kali ini dia ingin mengajarkan arti tanggung jawab pada adiknya." Kevin melirik Khanza. Gadis itu telah menerima pesanannya dan menikmatinya. Kevin jadi kesal melihatnya. Tidak ada rona cemas pada wajah gadis itu. Khanza tampak santai.


"Persia seperti Melani. Tapi kamu tidak kasihan, gadis itu sepertinya manis." Avery melirik Khanza sejenak. Gadis itu sampai menyusul Kevin ke Australia, upayanya patut di puji.

__ADS_1


"Biar saja, dia urusanku." Kevin masih menilai Khanza diam-diam. Revan sudah mengatakan padanya tentang adiknya ini yang sudah bikin pusing orangtuanya. Kevin pun meminta data Khanza pada Revan. Ada perjanjian tidak tertulis antara Kevin dan Revan tentang Khanza. Walau pun terlihat santai, Khanza sebenarnya kesal dan bertanya-tanya, apa Kevin akan menandatangani kerja sama itu atau tidak. Apa susahnya sih tanda tangan sebentar, pikir Khanza. Tapi dia tidak ingin Kevin marah. Karena tugas ini sangat penting baginya. Tugas ini pundi uangnya. Jika gagal dia tidak tau bagaimana bisa mendapat uang saku. Sambil berbincang dengan Avery Kevin menilai Khanza. Gadis itu cantik, dengan rambutnya yang bergelombang. Khanza sangat mirip dengan teman baiknya Revan. Yang Kevin dengar Aira kakak keduanya tidak secantik Khanza. Tampak gadis itu memang sudah terbiasa ke luar negeri, tidak gugup atau merasa asing. Kevin jadi gemas sendiri.


"Kevin aku sudah selesai, aku akan kembali ke hotel dan tidur. Aku rasa kau bisa membereskan urusanmu dengan gadis itu." kata Avery sambil tersenyum manis.


"Kapan kau pulang?" tanya Kevin serius.


"Ok terima kasih waktumu Avery. Sampai jumpa lain waktu." Kevin berdiri akan melepas Avery pergi. Avery pun mencium pipi Kevin tanda perpisahan, karena mungkin tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat. Avery pun pergi meninggalkan cafe. Khanza yang melihat itu terkejut. Sang wanita telah pergi, mungkinkah kini waktunya untuk bicara. Khanza melihat Kevin memberi isyarat agar dia pindah dan duduk di hadapannya. Khanza pun mematuhinya.

__ADS_1


"Kekasihku telah pergi, karena kau mengganggu kami. Maka kau harus menemaniku sarapan besok pagi. Di mana kau menginap?" tanya Kevin dengan wajah di buat kesal. Khanza bingung, dia tidak percaya hanya karena kedatangannya kekasih pria itu marah. Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk.


"Mengapa dia marah? Aku bisa jelaskan padanya kedatanganku hanya karena pekerjaan." Khanza memberikan kartu nama hotelnya sebagai bukti dia tidak berbohong.


"Terlambat, dia sudah pergi. Ternyata kita menginap di hotel yang sama." Kevin membaca kartu nama itu. Kevin lalu memanggil pelayan untuk membayar pesanannya. Kevin memberikan uang pada pelayan cafe dan memberi isyarat untuk memasukan pesanan Khanza dalam tagihannya.


"Aku akan kembali. Ingat besok pagi jangan terlambat." Kevin pun pergi meninggalkan Khanza.

__ADS_1


"Hei tunggu....." Khanza ingin menahan Kevin karena dia sebenarnya tidak berminat bertemu Kevin lagi besok pagi. Dia ingin pekerjaannya segera selesai. Tapi Kevin berjalan cepat dan menghilang. Khanza terdiam dan kesal. Pelayan cafe mempersilahkan untuk kembali menikmati makanannya. Khanza pun duduk dan makan kembali. Dia berpikir apa yang akan dia lakukan saat ini. Mumpung dia jauh dari rumah. Soal tanda tangan biar besok pagi urusannya. Khanza tidak langsung kembali ke hotel, dia melihat-lihat pertokoan kemudian mengunjungi club'. Bukan untuk minum atau mabuk. Khanza hanya ingin keramaian saja. Dia hanya memperhatikan keadaan sekitarnya sambil mengobrol di handphonenya dengan sahabatnya. Tentu saja yang di obrolin adalah Revan, yang sudah menjadi kakak tirinya. Khanza melihat ada pasangan yang sedang bercumbu mesra tidak jauh darinya. Diam-diam dia memotretnya dan mengirimkan pada temannya. Obrolan pun jadi tambah ramai. Khanza tertawa dengan perbuatan isengnya. Tiba-tiba dia melihat ada sepasang mata yang menatapnya. Sepasang mata dari seorang pemuda tampan. Pemuda itu tersenyum kepadanya, tapi Khanza tidak membalasnya. Dia khawatir pemuda itu akan menghampirinya jika dia membalas senyumnya. Khanza sibuk lagi dengan ponselnya. Membalas obrolan yang semakin panas. Ketika Khanza menoleh pria itu tersenyum lagi padanya. Khanza jadi gelisah. Tampaknya pemuda itu terus memperhatikannya. Khanza melihat jam tangannya. Sudah waktunya dia kembali. Dia pun memasukan ponselnya ke dalam tas lalu beranjak pergi. Dari club' ke hotel tidak jauh, Khanza memutuskan untuk berjalan kaki. Di nikmatnya udara malam dan pemandangan berbeda dari tempat tinggalnya. Tidak lama Khanza tiba di hotel, dia pun segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Karena besok dia harus bertemu tuan menyusahkan yang di butuhkan tanda tangannya. Kevin sendiri sudah terlelap di kamarnya. Dia terbangun pagi hari. Karena ingat memiliki janji dengan Khanza maka dia bersiap dan turun ke bawah. Kevin menunggu Khanza untuk sarapan bersamanya. Tapi Khanza tidak kunjung datang. Kevin curiga gadis itu sudah pulang karena kesal, jadi dia bertanya di lobby. Ternyata Khanza masih menginap di sana dan catatan kembalinya tadi malam sangat larut. Kevin jadi bisa menebak mengapa Khanza tidak datang. Gadis itu pasti belum bangun sesuai predikatnya anak manja. Kevin jadi memahami posisi Revan yang harus mengurus Khanza. Kevin pun kembali ke kamar, dia memutuskan untuk bekerja di kamarnya pagi itu. Khanza sendiri madih terlelap di balik selimut. Ponselnya terus menyala pertanda ada yang menghubunginya. Tapi karena dalam mode senyap tentu saja tidak bersuara. Revan sedang bingung karena Khanza tidak memberi kabar. Harusnya pagi ini sudah selesai dan Khanza bisa pulang. Revan tau dari Kevin kalau tugas itu belum selesai karena Khanza tidak muncul lagi pagi ini. Akhirnya Revan menulis pesan bagi adiknya, entah kapan di bacanya. Revan jadi pusing. Khanza akhirnya bangun madih dengan malas dia perlahan bangkit. Diambilnya ponselnya dan di buka. Ternyata banyak panggilan dari Revan dan terakhir Revan memberi pesan jika dia akan menghentikan uang saku Khanza. Gadis itu terkejut dan teringat jika dia punya janji sarapan pagi dengan Kevin. Khanza melihat jam, ternyata sudah siang. Khanza langsung berlari ke kamar mandi. Dia segera mandi dan bersiap. Dia yakin Kevin pasti sudah tidak ada di tempat sarapan. Tapi dia tidak tau harus mencari Kevin ke mana. Khanza pikir dia akan bertanya ke lobby, untuk tau nomer kamar Kevin. Semoga Kevin masih ada di hotel itu.


__ADS_2