Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
169. Projek Baru


__ADS_3

Rion menunduk menatap Alrest. Anak itu mengangguk sambil tersenyum senang.


"Mana dia bisa, raket tenis kan berat." Restandi protes.


"Dia punya mainan raket tenis ko. Entah siapa dulu yang kasih. Ayo boy kita ambil." Rion menuntun Alrest ke kamarnya. Restandi menatap interaksi keduanya sambil tersenyum. Ternyata Rion tau di mana Alrest menyimpan mainannya. Mereka menemukan raket tersebut.


"Ayo kita pergi. Pamit dulu sama papa." ujar Rion pada Alrest.


"Papa Alrest pegi ya." kata Alrest dengan gembira.


"Iya, jangan nakal ya." Restandi mengusap kepala putranya sayang.


"Ayo kita turun, pelan-pelan ya." Rion menuntun Alrest hati-hati menuruni tangga ke lantai satu. Restandi menatap mereka hingga tiba di lantai dasar, lalu dia masuk ke kamar. Di kamar tampak Arleta baru saja menyusui Alrista.


"Sini sama papa." Restandi mengambil Alris dengan lembut. Arleta membetulkan bajunya.


"Mimi susu papa sudah ijin belum, hm ?" Restandi menciumi Alris hingga bayi itu tertawa kegelian. Restandi membawa Alris ke balkon kamar. Mengayunkannya lembut agar bayi itu tidur. Di lihatnya di kolam renang tampak Nikolas sedang berenang. Opa bebas dari cucunya pagi ini.


"Rest kamu rapih benar mau pergi ke mana?" Arleta memperhatikan Restandi dengan kemeja dan celana panjangnya.


"Sehun mau datang." jawab Restandi, dia mencium hidung Alrista gemas.

__ADS_1


"Monika ikut?" tanya Arleta penasaran. Restandi menaikan bahunya tanda tidak tau.


"Dia tidak bilang begitu." kata Restandi kemudian. Sehun pasti punya hal penting hingga hari libur begini mendatanginya. Restandi menaruh Alrista di boxnya karena sudah tidur pulas. Restandi menghampiri Arleta yang sedang menikmati kue kesukaannya.


"Mau?" tanya Arleta sambil menyodorkan satu sendok pada Restandi.


"Manis." Restandi menggeleng.


"Yang ini saja, manis banget tapi aku suka." Restandi mencium pipi Arleta. Tidak lama-lama karena takutnya dia akan membawa Arleta ke tempat tidur. Mengingat tamunya yang akan datang, dia menahan diri. Tidak enak kalau sedang tanggung di ganggu. Restandi duduk di meja kerjanya. Membuka laptopnya dan bekerja sambil menunggu Sehun. Arleta bersantai sambil menonton tv. Terdengar pintu di ketuk. Mbok Jumi masuk sambil membawa mangkuk.


"Den, ada tamu di bawah." kata mbok Jumi sambil menyodorkan bubur kacang hijau pada Arleta.


"Nanti saja ya mbok, masih kenyang." tolak Arleta. Mbok Jumi menaruh mangkuk bubur di meja. Restandi mematikan laptopnya lalu bangkit.


"Sudah den." mbok Jumi mengekori Restandi. Tapi karena langkah kaki Restandi yang panjang dan cepat, mbok Jumi segera tertinggal. Di ruang tamu Sehun dan Ardi sedang menunggunya dengan suguhan masing-masing semangkuk bubur kacang hijau dan segelas teh.


"Tidak rugi rasanya mendatangimu di hari libur." kata Sehun sambil tertawa. Restandi paham maksudnya. Sehun suka dengan suguhannya. Ini pasti ulah mamanya, Sofi.


"Lalu ada apa kau ke sini?" tanya Restandi curiga. Apalagi datang dengan Ardiansyah, kakak sepupunya. Restandi duduk di hadapan mereka.


"Aku ingin kau melihat ini." Sehun menyerahkan map. Sesuatu yang baru dilihat Restandi. Segera dia langsung membukanya. Ternyata data sebuah stasiun TV yang sedang morat-marit keuangannya.

__ADS_1


"Mau di lepas." kata Sehun tegang menunggu reaksi Restandi. Yang di tanya terdiam sambil meneliti data tersebut.


"Sepertinya sebentar lagi kau memintaku merinci sebuah negara yang akan bangkrut." kata Restandi kesal.


"Boleh juga idenya. Akan aku riset nanti." kata Sehun merasa tertantang. Senjata makan tuan ini mah, pikir Restandi. Ardi tertawa. Dia baru melihat ambisi adik sepupunya yang luar biasa. Dia pikir Sehun akan berhenti sampai di mal. Ternyata tidak. Tapi dia jadi paham mengapa Sehun tidak mau duduk tenang di perusahaan Aria. Selain pusing tidak ada kepuasan. Saat ini Ardi mulai mengikuti sepak terjang Sehun.


"Boleh tidak aku hanya merinci saja, tapi tidak ikut bermain?" Restandi ragu.


"Tidak adik, kau partnerku." Sehun keberatan.


"Kan sudah pernah aku bilang, satu saat kau harus bisa beraksi sendirian. Apa lagi sekarang ada Ardi." Restandi berargumen.


"Aku belum bisa. Rasa percaya diriku berkurang tanpa dirimu." jujur Sehun berkata.


"Bagaimana kalau aku pikirkan dulu?" tanya Restandi.


"Tentu saja boleh. Karena ini projek besar. Tapi jangan lama-lama. Kau kan tau aku tidak suka membuang waktu." Sehun memberi syarat. Restandi setuju. Mereka berbincang yang lain sambil Sehun dan Ardi menikmati suguhan Sofi. Setelah mereka pulang Restandi kembali ke kamar. Arleta tampak sedang tidur dan Alrista juga terlelap di boxnya. Restandi menatap wajar Arleta lama. Istrinya tampak begitu damai dalam tidurnya. Restandi tersenyum, wanita ini sudah mendampingi dan melakukan banyak hal dalam hidupnya. Di usapnya pipi Arleta lembut. Apa jadinya jika dia menikah dengan wanita lain yang bukan seperti ini? Dia banyak melihat pernikahan yang tidak bahagia karena istri yang tidak bisa memahami suami. Istri yang sibuk bersosialita hingga tidak punya waktu bagi suami dan anaknya. Walaupun Arleta bukan ibu rumah tangga sejati, tapi dia bisa menempatkan dirinya dengan baik. Arleta bukan wanita yang pandai memasak. Dia di arahkan oleh Mauren untuk bisa mandiri dalam bisnis. Tapi Arleta tidak membuat pekerjaannya nomer satu dalam hidupnya. Dia bisa mendukung suami dan mengurus anak-anak. Arleta tidak suka aktif bersosialita, dia memilih menemani Sofi berbelanja atau mengantar makan siang untuk suami. Kalau istri lain senang jalan-jalan ke luar negeri dengan teman-temannya, Arleta memilih diam di rumah dan melayani suami. Karena Restandi membutuhkannya. Restandi mencium kening Arleta karena gemas rasanya menatap wanita ini tanpa berbuat apa pun. Restandi pun keluar kamar menuju ruang makan karena dia merasa lapar. Di ruang makan tampak sepi karena sudah lewat jam makan siang. Restandi minta mbok Jumi menyiapkan makan siang dan membawanya ke kamar untuk Arleta. Restandi sendiri makan tanpa semangat karena tidak ada yang menemani. Dari mbok Jumi Restandi tau Nikolas dan Sofi pergi ke luar rumah. Alrest belum pulang sepertinya Rion membawanya jalan-jalan. Restandi kembali ke kamar. Dilihatnya Arleta masih tertidur, sedangkan makanannya sudah di antar. Restandi pun menggunakan kesempatan ini untuk membangunkan Arleta. Caranya? Dia menciumi Arleta dengan gemas. Arleta yang terganggu akhirnya terbangun.


"Bangun sayang. Makan dulu, sebentar lagi kau kan harus menyusui." kata Restandi, senang usahanya berhasil. Arleta cemberut, padahal dia tengah mimpi indah. Di hadapannya terdapat banyak kue red Velvet dengan berbagai model dan ukuran. Belum di ambil dia sudah terbangun.


"Mimpi apa sih, ko kesal begitu?" tanya Restandi geli melihat Arleta merajuk.

__ADS_1


"Tadi banyak cowok cakep di depanku."


__ADS_2