
"Oleh sebab itu wanita itu di haruskan mengikuti kemana pun ayahku pergi. Jadi kami punya ibu tapi seperti tidak punya ibu." Avery tersenyum sinis.
"Apakah hubungan kalian tetap buruk?" Armando mengangkat piringnya yang sudah kosong untuk di cuci.
"Sudah lebih baik, dia sudah menyesali sikapnya. Tapi hubungannya dengan Melani tidak berubah. Maksudku Melani yang tetap tidak bisa menerimanya." Avery pun beranjak membereskan piringnya.
"Kau sendiri bagaimana?" Armando duduk di sofa sambil menatap Avery yang sedang membersihkan meja makan.
"Aku sih biasa saja, tapi aku tetap mengawasinya." Avery berkata sambil mengeringkan matanya pada Armando. Pria itu tersenyum melihat ulah gadis itu.
"Kita tidak tau apa yang ada di pikirannya, dan sekarang aku satu-satunya pewaris ayah." Avery menyambung perkataannya. Dia membuat teh hangat untuknya dan Armando. Lalu membawanya dan duduk di sofa bersama Armando.
"Lalu bagaimana dengan kencan butamu? Apakah tidak ada yang menarik?" Armando ingin tau. Gadis cantik di depannya ini kan menawan. Avery tertawa.
"Sebenarnya tidak semua buruk, ada juga yang kelihatannya tulus. Tapi tetap saja aku tidak tertarik. Aku sudah sejak lama menutup hatiku untuk pria. Maka aku tidak mendapat kesulitan seperti adikku." kata Avery sambil menatap Armando.
"Maksudmu karena terlibat denganku?" tanya Armando menantang.
"Bukan hanya denganmu tapi juga Kevin dan si brengsek Lordy Vin." tadinya Avery ingin bertanya apa Armando tau peristiwa penculikan Melani oleh Lordy. Tapi Avery takut Arleta terbawa dan ketahuan membantu Melani pulang. Armando hanya tertawa. Dia sendiri tidak menyesal bertemu Melani walau ceritanya tidak nyaman karena menyangkut Arleta.
__ADS_1
"Ar, kalau boleh tau siapa wanita tadi?" tanya Avery tiba-tiba. Armando terdiam sesaat. Tapi dilihatnya Avery menunggu jawabannya.
"Dia wanita yang pernah ada dalam hidupku. Keira cinta pertamaku." jawaban Armando mengejutkan Avery.
"Tapi kau menolak bicara padanya. Biasanya cinta pertama itu sulit di abaikan." kata Avery semakin ingin tau.
"Dia kekasihku, kami lama menjalin kasih. Tapi tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar. Aku tidak suka caranya meninggalkanku. Aku merasa cintaku tidak berharga di hatinya jadi aku malas bicara dengannya." jelas Armando. Avery bisa memahami perasaan Armando. Sebenarnya Avery terkesan pada Armando, sejak pertama kali bertemu. Tapi ketika tau Armando kekasih adiknya Avery membuang perasaannya. Apa lagi dia melihat Armando sangat mencintai Melani. Avery merasa tidak ada harapan. Armando masih menatap Avery, ingin tau apa yang ada di pikirannya. Armando merasa aneh, gadis secantik Avery tidak tersentuh pria. Apa yang membuat gadis itu menutup hatinya rapat-rapat. Tapi untuk mengetahuinya tentu tidak mudah. Avery sepertinya tidak mau rahasia hatinya di ketahui. Karena sudah malam mereka pun memutuskan untuk tidur. Esoknya seperti biasa Avery membuatkan sarapan untuk mereka. Armando sudah membuat tempat bermain bagi putrinya. Sehingga Melody bebas bermain tanpa takut terbentur.
"Seorang direktur harus repot mengurus bayi dan memasak." Armando meledek Avery. Mereka tengah sarapan pagi.
"Ya kau harus menghakimi." balas Avery sambil mengawasi Melody.
"Aku akan pulang cepat hari ini. Kita bisa makan malam di luar. Atau mungkin kau mau ke suatu tempat." Armando berkata serius.
"Dia sudah seharian di bawa pergi kemarin. Hari ini biar dia istirahat di rumah." Armando ikut memperhatikan putrinya. Tidak lama Armando pun berangkat. Avery duduk di sofa sambil melihat Melody yang sibuk dengan mainannya. Kemarin mereka berbelanja banyak keperluan Melody. Tiba-tiba bel pintu berbunyi, Avery pun membukakan pintu. Ternyata wanita yang kemarin menyapa Armando.
"Hai aku Keira, boleh aku masuk?"tanya Keira dengan tersenyum. Avery tidak suka melihatnya tapi dia tidak punya alasan untuk menolak wanita itu.
"Baiklah, silahkan masuk." kata Avery tanpa senyum. Keira pun masuk dan duduk. Avery duduk di hadapan Keira, dia melihat Keira tampak mengamati apartemen Armando. Seperti mencari sesuatu. Pandangannya terpaku pada Melody yang asik bermain.
__ADS_1
"Ada keperluan apa anda datang?" tanya Avery tidak sabar. Dia tidak bisa pura-pura baik pada orang yang tidak dia suka. Entah mengapa Avery merasa dia tidak suka pada Keira.
"Maaf aku mengganggumu, namaku Keira, aku kekasih Armando. Tapi aku sempat pergi dan baru kembali belum lama ini. Apa itu putri Armando?" tanya Keira menunjuk Melody.
"Itu putri kami. Aku tidak mengerti maksudmu. Kau sudah berpisah lama dengan Armando. Lalu tujuanmu apa?" tanya Avery ketus. Mendengar jika Melody putri Armando dan Avery Keira langsung pucat.
"Sebenarnya aku ingin tau apa benar Armando sudah menikah. Aku tidak yakin dengan omongan orang." kata Keira dengan terus terang. Avery semakin tidak suka. Darahnya naik ke kepala.
"Armando sudah menikah dan memiliki seorang putri. Kau bisa melihat Armando sangat menyayangi putrinya. Kau tidak berhak untuk masuk dalam kehidupan Armando lagi." Avery bicara dengan wajah penuh permusuhan. Keira melihat Avery seperti istri yang cemburu.
"Maaf aku tidak bermaksud membuatmu marah." Keira datang hanya untuk memastikan jika Armando sudah menikah.
"Kalau kau masih mencintai Armando, mengapa kau dulu pergi?" tanya Avery ingin tau. Tidak mungkin Keira hanya bertanya tentang Armando tanpa memiliki maksud tertentu.
"Ada sesuatu yang membuatku harus pergi." Keira tidak mau mengatakan alasannya. Ada banyak yang Keira sembunyikan. Tanpa dia tau Avery juga menyembunyikan beberapa fakta. Misalnya Armando yang tidak terikat dengan siapa pun. Lalu kenyataan bahwa dia bukan ibu kandung Melody.
"Jadi kau istri Armando?" tanya Keira penasaran.
"Ya aku istri Armando." jawab Avery ketus. Dia tidak ingin Armando terlibat lagi dengan wanita seperti itu. Avery melihat jika Keira bukan wanita yang tulus.
__ADS_1
"Aku rasa kita tidak perlu bicara lebih banyak lagi. Aku harus mengurus putriku. Jangan datang lagi ke sini dan jangan hubungi Armando lagi." percuma bicara dengan Keira jika dia tidak mau jujur, pikir Avery.
"Baiklah aku pergi. Maaf aku menyita waktumu." Keira pun bangkit berdiri dan pergi. Avery geram bertemu dengan Keira. Sungguh wanita yang tidak tau malu. Avery berusaha meredakan kemarahannya dengan memperhatikan Melody. Keira sebenarnya ingin bertemu Armando. Tapi dia harus yakin dulu jika Armando benar sudah menikah. Maka dia datang ke apartemen Armando untuk bertemu istrinya lebih dahulu. Dan dugaan Keira tepat, Armando tinggal di apartemennya. Sekarang Keira menuju kantor Armando. Dia akan bertemu dengan pria yang masih di cintainya itu. Armando tengah sibuk bekerja, ketika Arsen menyampaikan ada Keira datang .