Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
99. Penawaran


__ADS_3

Itulah sahabat. Setelah menengok Nikolas, mereka menengok bayi Arleta. Monika dengan senang menimang bayi itu. Sehun dan Restandi justru obrolannya berbeda.


"Aku rasa bagian HRD sudah bisa membuka lowongan pekerjaan." kata Sehun.


"Aku setuju. Kalau bisa peralatan medis minggu ini terpasang semua. Aku sudah bicara dengan Armando kemarin tentang obat-obatan." kata Restandi bersemangat. Dia senang Sehun sudah kembali. Beberapa pekerjaan akan segera selesai.


"Oya ada beberapa obat yang aku ingin untuk di tambah jumlahnya. Kapan kita bisa bertemu?" tanya Sehun.


"Kau hubungi saja, kadang malam-malam dia datang untuk menunggui Arleta." jelas Restandi.


"Wah, dia masih mengawasi adiknya." Sehun tidak percaya Armando begitu sayang pada adiknya.


"Aku rasa dia enggan sendirian. Yang aku lihat luka hatinya masih belum sembuh." Restandi mengingat pancaran wajah Armando.


"Semoga bisnis kali ini bisa mengalihkan lukanya." kata Sehun. Kembalinya Sehun justru bertambah sibuk. Karena mereka akan mempersiapkan rumah sakit baru untuk segera beroperasi. Sehun harus mengawasi peralatan medis yang masuk, apakah sesuai kontrak atau tidak. Kalau soal obat sih Sehun tidak khawatir karena dia percaya pada Armando. Bagian HRD juga sibuk dengan para pelamar pekerjaan. Restandi mengumpulkan asistennya. Karena Claudio menolak di pindahkan maka Restandi harus menentukan penggantinya. Saat ini Restandi sedang bicara dengan Eva di ruang kerjanya.


"Eva, apa kamu mau pindah ke rumah sakit yang baru. Di sana kamu akan jadi perawat senior. Gaji kamu naik dan tetap ada mess kalau kamu tetap ingin tinggal di mess." kata Restandi sambil menatap Eva.


"Saya naik jabatan dok?" tanya Eva tidak percaya.

__ADS_1


"Yang tadi saya bilang apa?" Restandi tidak mau mengulang kata-katanya.


"Saya tidak percaya saja. Ko bisa?" Eva heran.


"Kalau tunggu naik jabatan di sini persaingannya ketat. Lebih baik di sana kamu mengepalai para perawat baru." Restandi menjelaskan pemikirannya.


"Saya mau dok." jawab Eva. Ini kesempatan baginya untuk menambah penghasilan. Tapi dia akan tetap hidup sederhana dengan tinggal di mess.


"Baik, nanti kalau sudah waktunya kamu akan di pindah." kata Restandi yang sibuk lagi dengan pekerjaannya. Eva pun keluar. Ketika melewati lobby, senior di sana memanggilnya.


"Ada apa mbak?" tanya Eva.


"Trus urusannya apa sama saya?" tanya Eva pura-pura tidak tau maksud seniornya.


"Yang pertama di tanya itu kamu loh Eva, bukan dokter Restandi mentornya." kata seniornya lagi.


"Ah mbak ini ada-ada saja. Sudah saya mau kerja lagi." Eva tidak menanggapi gurauan seniornya. Dokter Anugrah Respati adalah asisten Restandi. Pria berkulit sawo matang dan bermata elang ini tengah bertugas di luar kota. Mengunjungi puskesmas di daerah untuk menyalurkan bantuan. Itulah tugasnya. Kadang-kadang dia juga turun sebagai dokter yang di perbantukan pada rumah sakit kecil. Dia menyukai pekerjaannya. Hal itu berbeda dengan bekerja di kota dan bersaing untuk jadi dokter yang komersil. Anugrah bukan berasal dari keluarga kaya. Dia membangun karirnya dengan kerja keras. Anugrah sekolah kedokteran dengan uangnya sendiri hasil bekerja di sana-sini. Itu sebabnya apa yang di kenakannya terlihat baik dan mahal. Maka dia suka pekerjaannya yang dekat dengan orang-orang kecil. Tapi dengan adanya rumah sakit baru, dia di tarik untuk menempati posnya semula. Asisten dokter Restandi. Tapi dia tidak tau jika dia akan di pindahkan menggantikan Claudio.


"Jadi saya akan di pindah bersama Aira dok?" tanya Anugrah memastikan.

__ADS_1


"Iya, kamu keberatan?" Restandi berharap Anugrah tidak keberatan.


"Tidak masalah sih. Bagi saya sama saja, karena itu kan masih milik dokter , saya tidak lepas dari dokter sama sekali." jawab Anugrah.


"Masak kamu mau jadi asisten terus. Kamu juga harus berkembang. Bantu dokter Sehun di sana. Ini tantangan besar buat dia karena memulai dari awal." kata Restandi menghimbau asistennya yang akan meninggalkannya.


"Apa benar perawat Eva juga di pindah ke sana dok?" Anugrah ingin tau.


"Dari mana kamu tau?" tanya Restandi heran. Anugrah hanya tersenyum saja. Dia tidak tau. Dia hanya menebak saja ternyata benar. Gadis yang sudah lama menarik perhatiannya. Tapi gadis itu tidak pernah menanggapinya. Entah kenapa. Anugrah berharap dengan di tariknya dirinya kembali ke rumah sakit, dia punya kesempatan untuk memiliki gadis itu.


Nikolas sudah boleh pulang, Arleta pun ikut pulang. ini membuat Restandi harus menahan rindu seharian. Makan siang sendirian, kadang bersama Sehun. Tapi Sehun sedang memusatkan perhatian pada rumah sakit yang baru. Karena mereka ingin rumah sakit itu segera beroperasi. Restandi jadi suka menghubungi Arleta di rumah. Sekedar berbincang dengan Arleta atau melihat putranya yang lucu. Di rumah Sofi sedang mempersiapkan diri untuk melamar Trisia. Sofi khawatir dengan putranya yang sering menculik Trisia jika hasratnya sudah memuncak. Maka berangkatlah Nikolas, Sofi dan Rion untuk melamar Trisia. Orang tua Trisia terkejut, mereka tidak tau jika Trisia memiliki hubungan dengan Rion. Apalagi hubungan itu sudah terlalu jauh. Mereka pikir Trisia masih kecewa dengan pernikahannya yang gagal bersama Armando. Mereka malu dengan apa yang di lakukan Trisia, maka mereka menerima saja pengaturan dari pihak keluarga Gutama. Sebenarnya mereka cukup puas dengan menantu yang kedua ini. Apalagi Trisia tetap di perlakukan dengan baik. Pernikahan di lakukan secara tertutup karena Trisia belum lama bercerai dari Armando. Pernikahan pun segera di rancang. Sementara Sofi mengurus acara pernikahan, Rion dan Trisia mengurus rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka . Rumah itu di cat ulang sesuai keinginan mereka berdua. Trisia menanti pernikahannya dengan berdebar, karena ini awal kehidupannya yang baru. Dia berharap akan bahagia. Orangtuanya sudah berpesan, hendaknya ini pernikahannya yang terakhir. Trisia belum mencintai Rion, tapi dia tau Rion sangat mencintainya. Rion masih terus berusaha merebut cinta Trisia. Mengalihkannya dari bayang-bayang Armando. Hari pernikahan pun tiba. Bunga-bunga bertebaran. Dari halaman, di dalam sampai kolam renang di hias dengan cantik. Walau yang di undang hanya keluarga dan teman dekat saja tapi tetap pernikahan putra Gutama. Menu pilihan mulai di persiapkan untuk di hidangkan. Rion dan Trisia sedang bersiap di kamar mereka mading-masing. Arleta pun ke kamar Rion. Kamar itu akan di sulap jadi kamar pengantin, karena rumah mereka belum siap. Rion tampak sibuk dengan busananya.


"Sini aku bantu." kata Arleta dengan tulus membantu Rion.


"Trisia bagaimana?" tanya Rion gugup.


"Sudah sukses melarikan diri." jawab Arleta jail.


"Arleta." Rion protes.

__ADS_1


"Sedang di rias. " jawab Arleta untuk menenangkan adik iparnya.


__ADS_2