
Aira terkejut mentornya datang. Anugerah tertawa geli.
"Tumben dok Rest datang, ada apa nih?" Aira jadi penasaran.
"Nengok kamu lah. Katanya kamu hanya terima pasien yang ganteng saja." Restandi duduk di depan Aira. Mata Aira tajam menatap Anugerah yang masih berdiri. Yang di tatap menggeleng, merasa itu bukan info darinya. Tapi melihat wajah Restandi Aira jadi tau mentornya menggodanya.
"Saya harus ke Korea dulu dok, operasi wajah. Baru dapat pasien yang ganteng." Aira mengakui dirinya tidak cantik.
"Tapi infonya kamu dokter ahli jantung yang banyak di cari." Restandi senang mendengarnya.
"Itu karena saya kasih voucher undian dok." Aira merendah. Malu sama mentornya.
"Dapat mobil?" Restandi menebak.
"Handphone dok." mendengar jawaban Aira mereka tertawa.
"Tadinya saya mau daftar kalau dapatnya mobil." Restandi masih menggoda.
"Saya banyak dapat pasien dokter Sehun dok. Apa lagi kalau dokter Sehun sibuk. Saya yang mengawasi pasiennya." Aira tetap merendah.
"Memang tuh dokter Sehun cari uang terus." Restandi paham kesibukan Sehun.
"Tapi kalau darurat atau kasusnya sulit dokter Sehun turun sendiri dok." Aira berkata jujur.
"Tapi mengapa Eva masih mengeluh ya?" Restandi ingat pada Eva.
"Eva itu perawat senior di sini dan kerjanya bagus. Dokter Sehun mengandalkan Eva jadi tugasnya banyak." Aira juga tau Eva dan sering minta bantuannya.
"Wah kalau begitu sulit dong buat Eva punya pasangan." Restandi iseng. Aira langsung mengerti atas perkataannya. Dia melirik Anugerah. Yang di lirik buang muka. Pura-pura tidak tau.
"Makanya dok, Eva di Carikan asisten atau tambahan tenaga perawat yang kompeten. Kasihan kan dok sudah nunggu lama, waktunya tidak ada." Aira senang godaan pindah ke Anugerah.
"Apaan sih." Anugerah protes pada Aira.
"Baiklah nanti di pikirkan, saya ke ruang dokter Sehun dulu." Restandi bangkit berdiri. Anugerah masih setia mengantar Restandi hingga bertemu Sehun.
"Hai mau minum apa?"Sehun senang Restandi mau datang. Dia tau sibuknya Restandi.
__ADS_1
"Tidak usah kita langsung bicara saja." Restandi duduk di hadapan Sehun.
"Aku sudah menghitung semuanya. Terus terang ada beberapa biaya yang harus kita cadangkan. Aku tidak mau kita seperti waktu itu. Karena itu dana kita tidak cukup, kau harus mencari investor." Restandi mengatakan penghitungannya. Sehun percaya dengan pekerjaan sahabatnya. Tapi mencari investor, berarti dia butuh nama baru bagi usaha mereka.
"Bicaralah pada Armando, aku tau usahanya sedang berkembang pesat." Restandi memudahkan Sehun.
"Armando? kau yakin dia tertarik?" Sehun belum pernah dengar Armando punya proyek bersama.
"Coba saja tawarkan. Atau kalau kau mau menunggu kita bisa tetap lakukan." Restandi sudah memperhitungkan semuanya.
"Tidak, kita tidak bisa menunggu. Sudah ada yang mengincarnya selain aku. Ku rasa aku akan bicara pada Armando." Seperti yang Restandi pahami, ambisi Sehun tidak dapat di hentikan.
"Apa sekarang Armando masih di kantornya?" tanya Sehun.
"Aku yakin masih. Pergilah." Restandi bangkit berdiri.
"Kau tidak ikut bersamaku?" Sehun pun bersiap untuk pergi, dia tidak mau membuang waktu.
"Tidak, aku akan pulang menemui Arleta." Restandi ingin menemani Arleta menjalani kehamilannya kali ini. Sehun mengerti. Mereka pun pergi dengan tujuan berbeda. Sehun tiba di kantor Armando. Dia diterima Arsen lebih dahulu, lalu di antar ke ruang Armando.
"Tidak apa, pasti ada urusan penting. Bukan kebiasaanmu mengunjungi tanpa maksud." Armando sudah tau siapa Sehun. Di pemburu uang.
"Betul, aku dan Restandi akan mengambil alih sebuah mal. Tapi dana kami tidak cukup. Kami butuh investor." Sehun tidak membuang waktu.
"Wow mal. Awalnya hotel, rumah sakit sekarang mal. Boleh juga sepak terjangmu. Kau menyeret Restandi?" Armando tau ini ambisi Sehun.
"Tidak, dia mau sendiri. Untuk apa aku menyeretnya. Dia juga butuh uang untuk anak-anaknya kan." Sehun tidak pernah memaksa sahabatnya itu.
"Maksudmu benar Arleta hamil lagi?" Armando menegaskan. Kabar itu belum sampai padanya.
"Betul. Kau tidak tau?" Sehun bingung Armando tidak tau.
"Aku sudah menduganya pada pernikahanku yang lalu. Ok, di memang butuh uang untuk anak-anaknya. Pendidikan sekarang tidak murah. Lalu maksudmu?" Armando kembali ke awal, rencana Sehun bicara padanya.
"Kami menawarkanmu kerja sama." jawab Sehun singkat. Armando terdiam.
"Jujur aku tidak pernah tertarik dengan yang seperti ini. Aku ada uang tapi itu milik Avery. Dia akan membangun cabang perusahaan ayahnya di sini. Ada baiknya kalian tawarkan padanya. Aku lebih setuju dia bergabung dengan kalian di banding membangun kantornya." Armando berpikir ini kesempatan yang datang dengan manis. Jika Avery membangun perusahaannya di sini, dia akan lelah dan fokus pada pekerjaannya. Untuk program buat anaknya Armando khawatir jadi tertunda. Maka Armando bersiasat sekarang.
__ADS_1
"Betulkah? menurutmu apa Avery akan tertarik?" Sehun merasa mendapat harapan. Dia tau Armando bukan pria yang suka omong kosong.
"Itu tergantung bagaimana kalian meyakinkannya. Aku rasa dia akan tertarik. Wanita mana yang tidak suka atau tidak butuh mal?" Armando memberi semangat. Ingat, demi misi buat anak.
"Jadi kapan kami bisa bertemu dengannya? Lebih enak kalau kau juga ikut." Sehun butuh Restandi dan Armando untuk menghadapi Avery yang dia belum tau bagaimana reaksinya.
" Nanti ku kabari. Sempurnakan saja dulu rencana kalian." Armando berjanji.
"Ok kalau begitu kabari aku." Sehun pamit dengan senang. Dia lebih senang berbisnis dengan Armando di banding mencari investor asing.
Restandi pulang ke rumah dan mencari Arleta. Istrinya sedang berbaring sambil menonton tv.
"Sayang kamu sudah makan?" Restandi memperhatikan kamarnya bersih, di meja tidak ada makanan satu pun.
"Sudah, tadi mama bikin sop. Sekarang aku harus makan yang hangat baru bisa masuk. Tapi Rest, aku ingin rendang." kata Arleta yang bangun dari tidurnya.
"Rendang? Sekarang juga?" Restandi bertanya menegaskan. Arleta mengangguk.
"Ok, aku beli sekarang ya." Restandi meraih lagi kunci mobilnya.
"Rest aku boleh ikut ya. Janji deh aku di mobil saja." pinta Arleta dengan memelas. Restandi kasihan melihat istrinya.
"Masih pusing?" tanya Restandi yang mengambil mantel untuk Arleta. Mungkin saja di butuhkan.
"Kadang-kadang." jawab Arleta. Dia mengambil tasnya dan berjalan perlahan. Di bawah mereka bertemu Sofi.
"Leta sayang, kamu mau ke mana nak?" Sofi khawatir pada menantunya.
"Leta mau beli rendang ma." Arleta jujur menjawab.
"Kamu ingin makan rendang? Mau mama buatkan?" tanya Sofi perhatian.
"Mau ma, tapi sekarang Leta beli dulu ya." Arleta tidak mau mengecewakan ibu mertuanya.
"Ya sudah, hati-hati ya Rest." Sofi mengerti ke inginkan menantunya.
"Ya ma, kami berangkat dulu." Restandi menjawab Sofi.
__ADS_1