Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
35. Rahasia Trisia


__ADS_3

Trisia tidak pernah menggunakan mobil orang lain. Dia bangga pada mobilnya sendiri.


"Ada apa dengan mobilmu?" tanya Armando pada Trisia. pertanyaan itu membuat Trisia jadi takut.


"Sedang tidak baik, jadi tidak ku gunakan". jelas Trisia cepat.


"Biar Arsen yang mengurus mobilmu. Dia akan mengirim orang untuk membereskan mobilmu. Kau masih sayang pada mobil itu kan?" Armando hanya ingin memperlihatkan bahwa dia perduli pada kepentingan Trisia. Tapi yang di lihatnya Trisia malah semakin takut. Bicara tentang mobil tiba-tiba ada yang terlintas di kepala Arsen. Ekspresi wajahnya menampakan itu, dan itu tidak luput dari dari pandangan Armando. Ketika Trisia sudah pergi Armando menatap Arsen.


"Kamu mau melihat mobil Trisia kan?" tanya Armando penuh makna. Arsen tersenyum. Bosnya memang pintar. Tanpa harus berkata banyak bosnya sudah tau apa yang harus di lakukan. Arsen mengangguk yakin. Dia memang harus memastikan sesuatu. Mereka melihat mobil Trisia ketika gadis itu sedang melakukan promo. Tidak sulit bagi Armando untuk datang ke rumah Trisia karena keluarganya berteman baik dengan keluarga Trisia. Armando juga sering mengantar Trisia pulang ketika gadis itu menjadi modelnya. Maka tibalah mereka di garasi mobil Trisia. Asisten rumah tangga membukakan pintu garasi karena Armando mengatakan ingin mengecek keadaan mobil Trisia.


"Inikah mobilnya?" tanya Armando pada Arsen ketika mereka berada di garasi.


"Betul ini mobil yang menyalib kemarin, saya ingat betul". wajah Arsen berseri-seri. Ingatannya tidak pernah salah. Tapi kenapa mobil nona Trisia pikirnya. Selama ini dia sering melihat mobil ini, tapi dia lupa kalau pemilik mobil ini Trisia.

__ADS_1


"Ok tugasmu sampai di sini saja. Untuk selanjutnya adalah urusanku". Tegas Armando. Mereka pun meninggalkan garasi itu. Armando yakin mobil Trisia tanpa di periksa pun pasti baik-baik saja.


Trisia terkejut luar biasa ketika tau Armando datang memeriksa mobilnya. Tapi Armando tidak menghubunginya atau meninggalkan pesan padanya. Mungkinkah Armando mengetahui apa yang dia lakukan? Trisia tau Armando pintar dan tidak mudah di kelabui. Tapi mungkinkah secepat ini? Trisia sibuk dengan pikirannya. Dia tidak bisa tidur dan tidak bisa makan. Sampai kemudian Armando mengundangnya makan malam. Trisia datang sesuai kesepakatan dengan Armando di sebuah restauran yang Armando pilih. Biasanya Trisia sangat senang bila Armando mengajak makan malam. Namun kali ini berbeda. Trisia serba salah, menuruti Armando Trisia takut. Tidak menuruti Armando Trisia khawatir Armando marah. Trisia berupaya untuk tenang malam ini. Duduk berhadapan dengan Armando Trisia tidak berani menatap mata pria itu. Armando tampak santai namun matanya terus memperhatikan Trisia.


"Kamu mau makan apa Trisia?" tanya Armando sambil tersenyum. Hanya mulutnya tersenyum namun matanya tampak dingin.


Trisia bingung harus memilih apa, dia tidak nafsu makan. Di pilihnya salad dan lemon tea untuk dirinya. Armando masih menunggu Trisia untuk bicara, namun gadis itu diam saja. Mereka jadi sibuk dengan menu masing-masing. Armando menunggu waktu yang tepat. Setelah mereka selesai makan Armando pun mulai bertanya.


"Trisia apakah tidak ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Armando dingin Matanya menatap tajam pada Trisia. Akhirnya saatnya tiba, pikir Trisia. Dia sudah tidak kuat lagi untuk berpura-pura tegar. Walaupun masih terdiam namun perasaan Trisia sudah hancur. Trisia menangis. Perlahan dia bangkit dan mendekati Armando. Tiba-tiba Trisia menjatuhkan tubuhnya dan berlutut di depan Armando sambil menangis.


"Trisia". Armando memegang dan membantu Trisia untuk berdiri. Ada banyak pengunjung di restauran itu, apa yang Trisia lakukan menarik perhatian mereka. Armando tidak suka itu. Dia khawatir akan ada pemberitaan media yang tidak baik. Walau bagaimana Trisia adalah modelnya. Armando membawa Trisia pada kursinya dan membantu Trisia untuk duduk.


"Jangan lakukan itu lagi". kata Armando tegas. Trisia masih terisak. Tapi dia juga berusaha menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Mengapa kau sampai melakukan hal keji itu?" tanya Armando. Yang di maksud adalah perbuatan Trisia pada Melani.


"Aku cemburu dan marah karena dia dekat denganmu". jawab Trisia pelan.


"Tapi bisa sejauh itu kau benar-benar membuatku terkejut". kata Armando tajam.


"Aku juga bingung. Sampai saat ini aku belum bisa memaafkan diriku sendiri". Trisia terus menunduk tidak berani menatap Armando. Pria itu jadi sulit menilai gadis itu. Tapi yang dia tau Trisia memang bukan gadis jahat. Reaksi gadis itu beberapa waktu ini sudah membuktikan hal itu. Trisia bukan gadis yang suka berlaku buruk pada orang lain.


"Baiklah, kau sudah mengakui apa yang kau lakukan. Akan aku pikirkan hal ini sebelum memutuskan sesuatu". kata Armando sambil bangkit berdiri. Ketika Armando akan pergi Trisia menahan tangannya.


"Maafkan aku". Trisia tau Armando sangat marah. Armando pun menoleh.


"Bukan padaku kau harus meminta maaf". kata Armando dingin. Dia lalu menepis tangan Trisia dan pergi meninggalkan gadis itu. Trisia terduduk sedih pada kursinya. Dia tau dirinya sulit di maafkan. Dia harus minta maaf pada Melani itu hal yang memalukan untuknya. Selain itu dia harus menanti apa yang Armando lakukan padanya. Tapi sebagian hati Trisia terasa lapang, dia tidak perlu lagi bersembunyi karena perbuatannya. Trisia pun beranjak pulang. Esok harinya Trisia pun pergi ke rumah sakit untuk bertemu Melani. Dia ingin menyelesaikan semuanya. Melani terkejut dengan kedatangan Trisia. Apalagi ketika Trisia meminta maaf atas apa yang sudah di lakukannya. Melani menerima permintaan maaf Trisia. Dia tidak dendam. Biar bagaimanapun itu sudah terjadi. Trisia sungguh tidak ingin menjalin pertemanan dengan Melani. Jadi ketika dia sudah selesai meminta maaf dan Melani menerimanya Trisia pun segera pergi. Trisia mengirim pesan pada Armando jika dia sudah menemui Melani dan meminta maaf. Trisia juga mengatakan pada Armando dia akan menjauh dari pria itu dan tidak akan mengganggu Armando lagi. Trisia sadar gadis yang di pilih Armando adalah Melani, bukan dirinya. Armando yang menerima pesan Trisia tidak membalas pesan itu. Dia sendiri masih belum tau apa yang akan di lakukannya. Dia telah mengenal Trisia lama dan gadis itu juga sudah mengakui kesalahannya. Ketika Armando menemui Melani, gadis itu tidak menyebut tentang Trisia sedikit pun. Melani sebenarnya sedang sibuk dengan pemikiran tentang Mauren yang menolak dirinya. Maka Armando menganggap persoalan itu sudah selesai.

__ADS_1


Kevin kesal pada Riana mamanya. Setelah kencannya dengan Nadin Riana terus mengenalkan dirinya pada gadis lain. Karena malas terus di perkenalkan Kevin pun berpura-pura suka dan kembali pada Nadin.


__ADS_2