Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
40.Sang Don Juan


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama Restandi dan Arleta sudah turun ke ruang makan. Di sana ada Nikolas dan Sofi. Mereka menyambut pasangan baru itu dengan tersenyum.


"Selamat pagi sayang, ayo sarapan." Sofi menyambut mereka dengan wajah bahagianya. Keinginannya sudah tercapai, putranya Restandi menikah dengan gadis pilihannya Arleta. Apalagi Arleta bersedia untuk tinggal bersama mereka. Restandi dan Arleta duduk dengan manis.


"Papa akan ke rumah sakit?" tanya Restandi pada Nikolas. Sekarang Arleta tidak heran lagi dengan sikap Restandi pada papanya.


"Ya hanya sebentar, setelah itu papa ada acara dengan mama." jawab Nikolas dengan tersenyum. Sikapnya pada Restandi tetap hangat, meskipun putranya bersikap dingin padanya. Pada waktu mereka menikmati sarapan Rion tiba-tiba datang dan di sebelah Sofi. Restandi tidak memperdulikannya. Arleta menatapnya kesal. Rion sepertinya sudah biasa di acuhkan keluarganya. Dia tau Arleta menatapnya kesal. Rion menatap Arleta sambil tersenyum manis. Rion tau Arleta kesal pada tingkahnya di balkon tadi.


"Kamu mau pergi hari ini nak?" tanya Sofi pada Rion. Sikap keibuannya sangat terlihat. Arleta bisa melihat Sofi sangat memperhatikan Rion.


"Aku di rumah saja hari ini ma, belum ada jadwal syuting lagi." jawab Rion sambil menikmati sarapannya. Hal itu mengundang tatapan heran dari keluarganya. Rion maklum, dia memang jarang ada di rumah. Jarang pulang dan jika pulang hanya bila ada yang penting saja. Tapi kali ini dia ingin tetap tinggal di rumah karena ada yang menarik hatinya. Arleta kakak iparnya. Rion penasaran dengan wanita cantik ini. Bagaimana dia bisa menarik hati kakaknya, karena Rion bisa melihat Restandi sayang pada Arleta. Selesai sarapan Nikolas pergi bersama Sofi. Restandi tiba-tiba harus ke rumah sakit karena keadaan pasiennya yang kurang baik.


"Kamu tidak apa di rumah saja?" tanya Restandi pada Arleta.


"Aku lebih suka begitu. Kamu pasti sibuk di sana." jawab Arleta penuh pengertian. Arleta merasa sungkan, baru saja menikah tadi malam pagi ini sudah datang ke rumah sakit. Restandi mencium pipi Arleta.


"Ya sudah kamu istirahat saja di rumah." Restandi pun berlalu. Sebenarnya dia berat meninggalkan Arleta, tapi tugas tidak bisa di tolaknya. Lagi pula Arleta kan sekarang istrinya yang akan ada di sisinya. Di tinggalkan sendiri Arleta mencari kesibukan di kamarnya. Setelah bosan dia pun keluar menuju kolam renang. Di sana tampak Don Juan yang tebar pesona Rion . Arleta jadi memperhatikan Rion, ternyata dia memanfaatkan ketenaran dan ketampanannya pada para wanita. Pasti dia membuat kepala Sofi pusing. Arleta jadi ingin tau mengapa Rion sangat berbeda dengan Restandi. Rion mengetahui Arleta memperhatikannya. Di simpannya ponselnya yang sejak tadi dia perhatikan. Rion menghampiri Arleta.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Rion ramah. Arleta menggeleng. Tapi ada yang terlintas di kepalanya, yang membuatnya penasaran.

__ADS_1


"Siapa sih gadis yang tadi pagi mencarimu?" tanya Arleta terus terang.


"Mantan pacar aku. Aku sudah putus dengannya tapi dia belum bisa terima sepertinya." Rion tidak menutupi keadaan yang ada. Dia menjawab dengan santai tanpa merasa bersalah telah mengecewakan hati seorang wanita.


"Pantas aku lihat wanita itu berbeda dengan yang ku lihat di toko sepatu. Jadi yang itu pacar barumu." Arleta jadi teringat wanita yang Rion bawa di mal. Rion terkejut tidak menyangka Arleta melihatnya.


"Dia model yang sedang laris, tapi aku tidak serius dengan dia." Rion berkata santai yang membuat Arleta ingin naik darah. Tapi mengingat ini hari pertama di rumah mertua Arleta harus sabar.


"Oya kakakmu Armando bertunangan dengan Trisia ya. Aku suka dia. Cantik, anggun dan tidak murahan. Dia akan menjadi pasanganku di filmku yang baru." Rion berkata dengan antusias tentang Trisia


"Mereka di jodohkan, seperti aku dan Restandi." jawab Arleta.


"Jadi kamu mengagumi Trisia? " Arleta menatap Rion ingin tau seberapa besar rasa sukanya.


"Tentu saja aku mengaguminya, dia cantik. Sebenarnya tidak mudah di dekati. Trisia sangat berbakat, selain sebagai model dia bisa berakting dengan baik." Rion jelas-jelas memperlihatkan kekagumannya.


"Wah berarti kakakku beruntung bertunangan dengannya." kata Arleta bangga.


"Benar dia pria beruntung." Rion memuji. Masih memperhatikan Rion tiba-tiba Arleta mendengar kedatangan seseorang dari dalam rumah. Itu pasti Restandi, pikirnya. Arleta pun berjalan masuk mencari suaminya. Tampak Restandi memasuki rumah, dia tersenyum melihat Arleta

__ADS_1


"Maaf aku agak lama. Kau sudah makan? kita makan yuk aku lapar." Restandi merangkul Arleta mengajaknya keruang makan.


"Aku tunggu kamu." Arleta lega Restandi sudah pulang. Mereka pun ke ruang makan dan menempati kursi bersebelahan. Arleta mengambilkan nasi untuk Restandi, dia sudah hafal porsi makan suaminya.


"Kamu ngapain saja?" tanya Restandi ingin tau.


"Aku beres-beres di kamar, karena bosan jadi aku ke kolam renang." jawab Arleta, dia tidak berniat menceritakan percakapannya dengan Rion. Arleta merasa itu tidak penting untuk di ketahui Restandi. Mereka menikmati makan siang hanya berdua. Rion tidak tampak. Sore hari Restandi dan Arleta pergi mengunjungi orangtua Arleta. Mereka akan makan malam bersama sebagai pasangan baru. Kedatangan mereka di sambut oleh keluarga Kamajaya, khususnya Mauren. Armando juga tampak menyambut adiknya. Dia senang sekarang Arleta betul-betul ada yang menjaganya. Mereka makan malam sambil berbincang tentang kehidupan baru Restandi dan Arleta. Selesai makan malam para pria berkumpul untuk bicara tentang bisnis. Mauren menghampiri Arleta dengan membawa satu map berkas.


"Arleta ini hadiah pernikahan kamu." Mauren menyerahkan map itu pada Arleta.


"Apa ini ma?" Arleta menerima map itu dan membukanya. Ternyata berkas kepemilikan klinik yang di kelolanya.


"Klinik itu jadi milikmu sekarang. Mama tidak mengurusnya lagi." kata Mauren meyakinkan


"Ma ini tidak salah." tanya Arleta tidak percaya.


"Tidak Leta, kamu sudah memenuhi harapan mama dengan menikahi Restandi. Mama harap pernikahan kamu bahagia " kata Mauren sambil tersenyum. Beginilah Mauren, dia akan puas bila anak-anaknya bisa mengikuti keinginannya.


"Terima kadih ma, tapi bukankah ini berlebihan?" Arleta masih sungkan.

__ADS_1


"Tidak Leta, siapa lagi yang akan menjalankannya jika bukan kamu. Sudah waktunya mama alihkan pada kamu. Mama akan bangga jika kamu bisa membuatnya lebih maju." Mauren tidak mau lagi di bantah. Ini tantangan buat Arleta membuat klinik itu maju. Walau selama ini dia tidak main-main.Apa lagi sekarang klinik itu sudah menjadi miliknya sendiri.


__ADS_2