Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
134. Pertemuan


__ADS_3

"Dari yang datang mendaftar tidak ada yang masuk dalam kriteria aku." jawab Sehun.


"Bagaimana jika aku membuka kesempatan bagi para dokter di tempatku untuk juga bisa praktek di sini?". tanya Restandi.


"Itu ide bagus. Mereka kan sudah tau standar rumah sakit kita." Sehun senang dapat solusi.


"Lalu tentang Eva, kau memberinya pekerjaan berat?" point ke tiga.


"Mau bagaimana lagi. Kebanyakan yang melamar baru pemula. Terpaksa kulakukan. Karena Eva itu sangat cekatan dan dia tau apa yang harus dilakukan." Sehun sadar dia menaruh harapan terlalu tinggi, ingin semua perawatnya sebagus Eva.


"Kalau begitu kami akan buka lowongan untuk perawat, dan melatih mereka. Beberapa yang sudah senior akan di pindah ke sini." Restandi memutuskan. Sehun terpana melihat Restandi, ternyata pria itu punya jawaban dari masalah yang dia miliki.


"Ternyata aku harus belajar dari pakarnya." kata Sehun mengakui.


"Aku hanya sering memperhatikan ayahku bekerja. Dia sering membantu rekan sejawatnya bekerja." jawab Restandi santai.


"Baiklah aku harus pergi." Restandi bangkit berdiri, dia baru mengingat Jakarta macet.


"Hati-hati dok." kata Monika pada mantan bosnya. Restandi segera menangani pekerjaannya. Siangnya dia mengadakan rapat dadakan untuk memberikan kesempatan bagi para dokter untuk juga praktek di rumah sakit Sentosa 2. Setelah itu Restandi memanggil staf HRD. Membicarakan tentang lowongan perawat dan meminta data-data para perawat senior. Restandi lalu di tunggu operasi yang memakan waktu cukup lama. Restandi memutuskan untuk pulang dan meminta Norman untuk menggantikannya. Restandi membawa pekerjaan yang dapat di lakukannya di rumah. Seperti janjinya dia mampir ke toko kue. Restandi membeli Red Velvet.


"Ternyata istri saya tidak dapat berpaling." kata Restandi pada pelayan toko kue.


"Dari Red Velvet atau dari mas Restandi?" tanya pelayannya.

__ADS_1


"Dua-duanya sepertinya." Restandi membeli puding buah juga. Mungkin Arleta bisa memakannya pada saat dia mual. Restandi pun segera pulang. Tiba di rumah di lihatnya Arleta tengah tertidur. Restandi memasukan kue dan puding ke dalam lemari pendingin, lalu dia memutuskan untuk mandi. Malam ini Restandi datang ke acara berkumpulnya para pengusaha. Sebenarnya dia malas datang. Tapi Nikolas belum lega jika dia belum pergi. Karena biasanya Nikolas yang menghadirinya. Restandi menyapa beberapa rekan sejawat Nikolas. Ada juga beberapa temannya. Restandi di perkenalkan juga pada beberapa orang yang baru dilihatnya, termasuk putra-putra dan putri-,putri para pengusaha. Tujuannya jelas agar bisa berbisnis nanti, atau membantu bisnis mereka. Itulah tujuan acara ini, mencari rekan bisnis baru. Salah satu yang di kenalkan Restandi adalah Weny Arista, sebentar lagi dia menggantikan ayahnya menjadi pimpinan di perusahaan ayahnya. Restandi tidak begitu menanggapi karena dia melihat Armando. Pria itu memperkenalkan istrinya, maka dia datang. Ada Kevin juga yang datang bersama Khanza. Tapi Restandi dan Kevin saling menjaga jarak. Restandi menghampiri Armando.


"Hai Rest, Leta tidak ikut?" sapa Armando.


"Tidak dia masih suka pusing jadi biar istirahat saja di rumah. Avery bagaimana kabarmu?" Restandi menyapa Avery.


"Baik Rest, kamu datang sendiri tidak lihat banyak yang melirik padamu." Avery sudah memperhatikan banyak wanita yang memperhatikan Restandi. Armando juga dilirik, tapi karena datang bersama Avery mereka jadi segan.


"Biar saja, aku kan sudah punya ratu di rumah." kata Restandi tidak acuh. Makanya dia malas datang ke acara seperti ini karena banyak para pengusaha yang mencari jodoh untuk para putra dan putrinya. Untung saja Nikolas tidak begitu dan dia bertemu Arleta karena Sofi.


"Mana Sehun?" tanya Armando, karena malam ini adalah waktu yang di janjikan Armando untuk bicara dengan Avery.


"Mungkin sebentar lagi datang." jawab Restandi. Matanya menyapu ruang acara.


"Kalian saling kenal?" Tiba-tiba Weny ada di hadapan mereka. Gadis itu tampak berani menyapa para undangan seorang diri. Dari awal di kenalkan Restandi sudah tidak menyukainya. Mata gadis itu menyiratkan ketertarikan padanya.


"Benar, Restandi adik iparku. Dia adik ipar yang baik. Sempurna malah." Armando melihat gejala yang kurang baik. Dia tidak suka. Tidak hanya Armando, Avery pun merasa Weny bukan sosok yang tepat untuk jadi teman. Instingnya merasa tidak suka.


"Hai, kalian menunggu lama?" Sehun datang kemudian.


"Tidak juga, kami menantimu." jawab Armando.


"Kalau begitu ayo kita bicara. Monika sedang kurang sehat. Aku tidak mau meninggalkannya lama-lama." kata Sehun terus terang.

__ADS_1


"Dia sendiri di rumah?" tanya Restandi khawatir.


"Tenang, ada ibu menginap di rumah." kata Sehun sambil tersenyum. Walau begitu dia tetap tidak nyaman meninggalkan istrinya.


"Kalau begitu ayo kita pergi." kata Armando memutuskan, dia juga tidak suka berlama-lama di sana.


"Kami pergi dulu." kata Avery pada Weny mewakili semua. Mereka pun pergi meninggalkan Weny yang menatap kecewa.


"Itu kakak sepupumu, kamu tidak mau menyapanya?" Restandi menepuk lengan Sehun dan menunjuk pada seorang pria. Sehun melihatnya.


"Aku sapa dulu deh sebentar. Kalian duluan aku segera menyusul." kata Sehun yang kemudian menghampiri pria itu. Yang lain segera meninggalkan ruangan.


"Apa kabar kak?" Ardiansyah Aria, pria yang di sapa Sehun. Sering di panggil Ardi.


"Kamu yang apa kabar. Sudah lama tidak datang di acara keluarga." Ardi protes pada Sehun.


"Maaf, aku sibuk kak." Sehun beralasan. Dia malas berinteraksi dengan keluarga Aria yang lain. Ardi sebenarnya tau itu.


"Kamu bukannya bantu kakak, malah sibuk di luar sana." Ardi sudah tau sepak terjang Sehun. Andai Sehun mau membantunya dia tentu tidak kewalahan.


"Justru aku mau menarik sahamku dari sana." kata Sehun jujur. Dia sudah tidak mau terlibat lagi dengan bisnis keluarga Aria yang merepotkan.


"Apa? jangan begitu dong Sri, kakak lebih repot lagi jika begitu. Begini saja, kalau kau butuh dana kakak akan inves untukmu. Tapi jangan menarik sahamku." Mungkin sudah waktunya untuk bersiap di luar, pikir Ardi. Dia sudah lelah mengurus bisnis keluarga Aria di tengah sepupunya yang konyol.

__ADS_1


"Begitu juga bagus. Nanti aku kasih kabar pada kakak." Sehun menjadi senang. Dia tidak bilang pada Ardi jika dia akan menggarap mal.


"Aku pergi dulu ya kak, aku harus bertemu Restandi." Sehun pamit pada Ardi. Tidak sulit bagi Sehun untuk bertemu yang lain. Karena pertemuan mereka juga masih di hotel yang sama. Hotel miliknya dan Restandi. Hotel bintang lima yang megah. Sehun tidak pernah tanggung-tanggung dalam bekerja. Dia sangat total bekerja.


__ADS_2