Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
54 Peristiwa Rion


__ADS_3

Sofi berkata pada Arleta dengan bahagia.


"Setuju ma." kata Restandi dengan senyum di wajahnya. Arleta menatapnya tidak suka. Kalau hanya Restandi Arleta masih bisa menawar, tapi jika ibu mertua tidak mungkin di bantah. Rion memberi isyarat pada Arleta jika dia akan membantunya. Arleta senang. Berguna juga si berandal itu. Tapi kemudian Rion terdiam ketika Restandi menatapnya tajam. Restandi jadi teringat perkataan Sehun, jika Rion lebih takut padanya. Arleta masih belum bisa makan banyak. Perutnya akan protes bila dia memasukan makanan lebih banyak. Dan yang paling Restandi tidak suka Arleta jadi suka yang asam. Pada saat makan malam Rion menerima panggilan telepon lalu dia pun pergi. Setelah makan malam berakhir Restandi langsung masuk ke kamarnya. Arleta masih berusaha memisahkan kue untuk di bawa ke kamarnya. Jika nanti malam dia lapar dia tidak perlu turun ke dapur. Arleta pun ke kamar menyusul suaminya. Restandi sedang duduk di kursi kerjanya. Arleta menghampiri ingin tau apa yang Restandi lakukan. Di meja kerja tampak sebuah amplop dengan uang yang jumlahnya sangat banyak. Arleta terkejut.


"Rest untuk apa uang sebanyak itu?" tanya Arleta ingin tau. Walau itu uang Restandi namun sebagai istrinya dia ingin tau.


"Untuk bulan madu kedua bagaimana?" tanya Restandi sambil mengedipkan sebelah matanya. Tangannya menarik Arleta hingga duduk di pangkuannya.


"Bulan madu yang pertama saja belum lama sudah mau bulan madu lagi." protes Arleta.


"Aku ingin punya anak lagi." Restandi tersenyum mesra, tangannya mengusap punggung Arleta dengan sayang.


"Loh satu saja belum keluar sudah minta lagi." Arleta mencoba untuk tidak terpengaruh pada usapan Restandi di punggungnya.

__ADS_1


"Ya aku inden dulu boleh kan, kirimnya nanti-nanti tidak masalah." Restandi langsung mencium Arleta tanpa ampun. Akhirnya transaksi pun di lakukan. Setelah hubungan selesai Restandi mengatakan pada Arleta tentang uang yang ada di mejanya. Restandi tidak mau Arleta salah paham. Sebagai istri Arleta berhak tau. Uang itu untuk biaya produksi film yang di bintangi Rion. Arleta terkejut. Ternyata Restandi perhatian pada adiknya. Karena tersentuh pada apa yang Restandi lakukan Arleta pun memberi bonus pada suaminya. Restandi boleh tambah satu ronde.


"Lucu ya kamu. Aku bantu adikku malah kamu yang berterima kasih." kata Restandi tertawa. Tapi dia tidak melewatkan bonus dari Arleta. Hingga tengah malam mereka terlelap karena kelelahan. Tidak lama Arleta terbangun karena lapar. Dia pun ke kamar mandi membasuh dirinya dan berganti baju. Tengah mencari kue di lemari pendingin Arleta mendengar ponselnya berbunyi. Arleta menjawab.


"Halo." kata Arleta.


"Arleta tolong jemput aku." suara Rion di seberang sana, seperti orang sakit.


"Kamu di mana Rion?" Arleta jadi cemas.


"Arleta kamu mau ke mana?" Restandi bertanya heran. Tengah malam istrinya akan pergi keluar tentu suami ingin tau.


"Menjemput Rion." Arleta menyodorkan ponselnya yang memuat alamat Rion berada pada Restandi.

__ADS_1


"Tunggu aku." Restandi berkata tegas setelah melihat alamat itu. Dia masuk ke kamar mandi untuk membasuh dirinya lalu di kenakannya pakaian santai. Di ambilnya kunci mobil lalu di gandengnya Arleta keluar kamar. Restandi memanggil Jono, selain keamanan di rumah dia juga orang yang sering di suruh oleh Restandi. Jono yang membawa mobil, sedang Restandi dan Arleta duduk di belakang. Di perjalanan Restandi menelpon seseorang untuk menyiapkan kunci cadangan kamar tempat Rion berada. Rion ada di sebuah hotel. Tiba di hotel ada seorang pegawai hotel yang mengantar mereka bertiga ke kamar Rion. Pegawai itu hanya membukakan pintu, dia cukup tau diri untuk tidak masuk dan mencari tau. Di dalam kamar tampak Rion di tempat tidur bersama seorang wanita. Rion tampak sadar tapi dia lemas dan pusing hingga tidak dapat berjalan. Restandi menyuruh Jono untuk membantu Rion. Arleta mengamati wanita yang bersama Rion. Wanita itu tampak kelelahan hingga tidak terbangun dengan kedatangan mereka bertiga. Arleta jadi teringat pada waktu dulu memergoki Kevin. Tapi pemandangannya lebih seram dari ini. Jono memapah Rion keluar dari kamar.


"Perempuan itu bagaimana Rest?" bisik Arleta pada Restandi.


"Biarkan saja, ayo kita pulang." Restandi memberikan uang pada pegawai tadi lalu menggandeng Arleta menuju mobil. Rion di tidurkan di kursi belakang, Restandi sendiri yang membawa mobil. Jono di suruhnya membawa mobil Rion pulang. Sebisa mungkin tidak ada jejak Rion di hotel itu. Restandi tidak mau ada yang mendapati Rion di hotel bersama seorang wanita. Arleta duduk bersama Restandi di depan. Restandi tidak mengatakan apa-apa, tapi dari wajahnya Arleta tau Restandi sangat marah. Habislah kamu Rion, pikir Arleta. Di tengiknya Rion di kursi belakang, orang itu sudah tidur lagi. Karena sudah lewat tengah malam jalanan sangat sepi, Restandi membawa mobil dengan kencang hingga tiba di rumah. Di suruhnya Jono membawa Rion ke kamarnya. Dia sendiri membawa Arleta ke kamar mereka.


"Apa ini pernah terjadi?" tanya Restandi marah pada Arleta. Kemarahan yang sejak tadi di tahannya.


"Baru kali ini." Arleta menjawab sedikit takut. Belum pernah dia melihat Restandi semarah itu.


"Jujur Arleta." Restandi tidak puas dengan jawabannya.


'Iya aku jujur. Memang pernah aku bohong sama kamu?" Arleta menjawab cepat, khawatir Restandi bertambah marah. Kurang ajar kamu Rion, pikir Arleta. Kamu yang enak-enak aku yang dapet pahitnya.

__ADS_1


"Ok aku percaya. Tapi jangan lagi ada yang seperti ini. Jangan pernah berpikir untuk menjemput Rion seorang diri." kata Restandi lebih lembut. Kemarahannya telah reda. Mereka pun bersiap untuk tidur. Arleta masih belum berani bicara. Tapi kemudian Restandi meraihnya dan memeluknya sayang.


"Maaf aku marah padamu." Restandi mengecup kening Arleta. Hal itu sudah cukup bagi Arleta. Dia hanya mengangguk lalu melabuhkan wajahnya di dada Restandi. Karena lelah dan mengantuk Arleta pun segera terlelap. Tapi Restandi belum dapat memejamkan mata. Hatinya masih kesal. Dia tidak mau Arleta terlibat dengan sisi Rion yang satu ini. Sudah sebrengsek itu kah adiknya. Jika dulu dia tidak akan perduli, karena Rion mungkin melakukannya tanpa dia tau. Tapi sekarang perasaannya telah berubah. Restandi menyesal sudah mengabaikan Rion. Apalagi mengetahui hal ini dia tidak dapat membiarkannya. Restandi mencoba untuk tidur karena besok hari yang berat untuknya. Esok paginya Arleta masih terlelap ketika seseorang membangunkannya perlahan. Arleta membuka matanya, tampak Restandi yang sudah rapih akan berangkat kerja dengan setelan bajunya.


__ADS_2