
"Itu sebabnya langsung bapak bawa pulang, dari pada keduluan yang lain." kata Heru lagi.
"Loh, ibu mau bapak bawa pulang?" Sehun bingung. Apa zaman dulu sudah edan ya.
"Ya mau, kan pulang ke rumahnya. Supaya bapak tau alamatnya." kata Heru santai. Rendra tertawa geli melihat Sehun terjebak oleh bapaknya. Sehun tersenyum kesal. Ini namanya jebakan calon mertua.
"Kamu sendiri ketemu Monika di mana?" tanya Heru pada Sehun.
"Ya di rumah sakit." jawab Sehun jujur.
"Tidak romantis." kata Heru meledek Sehun. Lah ini seperti pembalasan dendam.
"Apa yang kamu suka dari Monika?" tatapan Heru menyelidik.
"Saya lihat Monika itu sama kaya bapak ada getar- getar." kata Sehun mengikuti penggambaran Heru.
"Trus kamu bawa pulang tidak?" pertanyaan jebakan.
"Bawa pak, saya suruh masak. Ingin tau masaknya enak atau tidak." jawaban bunuh diri sebenarnya ini.
"Masakannya enak?" tanya Heru mencecar Sehun.
"Enak pak, saya sudah tidak bisa lepas dari masakannya Monika. Jadi Monika boleh terus masak buat saya kan pak." Sehun berharap.
__ADS_1
"Boleh, kalau sudah ada maharnya." jawab Heru singkat. Ini maksudnya lampu hijau ya, batin Sehun. Sebenarnya ini percakapan yang dalam antara Sehun dan Heru. Sehun di sini mengutarakan hubungannya yang sudah sangat dekat dengan Monika, hingga Monika datang ke apartemennya untuk memasak. Heru sendiri walau yakin putrinya bisa menjaga diri, tapi dari pada terjadi sesuatu maka dia ingin hubungan Monika dan Sehun di perjelas. Yaitu Sehun melamar Monika.
"Secepatnya pak." kata Sehun mantap. Heru mengangguk puas. Sehun bekerja setelah tiga hari menghilang. Restandi sangat kesal karena Sehun tidak bisa dihubungi.
"Kamu mencariku Rest?" Sehun datang ke ruang Restandi. Melihat gelang di tangan Sehun, Restandi bertambah kesal. Itu sama dengan yang Monika gunakan. Restandi jadi tau urusan mendesak apa yang Sehun lakukan. Awalnya dia sudah curiga dengan libur mereka yang bersamaan.
"Lihat nih laporan hotel, aku yakin ada yang tidak beres. Ke mana saja kau aku hubungi tidak bisa." kata Restandi kesal. Sehun tidak menjawab, matanya sibuk menelusuri laporan di tangannya. Benar kata Restandi, laporan ini mencurigakan.
"Aku akan kesana." kata Sehun memutuskan. Dia pun keluar menuju ruang kerjanya. Di panggilnya Ronal asistennya.
"Coba kamu periksa laporan ini dan selidiki siapa yang membuatnya." kata Sehun pada Ronal.
"Baik pak." Ronal langsung pergi membawa laporan itu. Ronal ini asisten Sehun luar dalam. Artinya dia mengerjakan tugas Sehun di dalam rumah sakit dan di luar rumah sakit. Sehun berpikir sebentar, tapi lalu dia sibuk dengan laporan pasiennya yang dia titipkan selama tiga hari. Dia melihat laporannya sangat bagus dan terinci. Siapa yang Restandi tugaskan mengurus pasiennya, Sehun mencari tau nama pembuat laporan. Aira Wiguna. Sehun puas dengan pekerjaannya. Sore hari Ronal datang dengan laporan yang di bawanya tadi pagi beserta laporan susulan hasil penyelidikannya. Ternyata direktur hotel yang bekerja di sana melakukan penggelapan. Jumlahnya lumayan besar dan bisa mempengaruhi operasional hotel. Yang membuat laporan adalah kaki tangannya di hotel itu. Sehun murka. Kurang ajar pikirnya. Dia harus bicara pada Restandi.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Rion berbisik. Rion bertanya-tanya, apakah Trisia benar sakit atau ada yang di pikirkannya. Tanpa sadar Rion mencium kening Trisia, lalu hampir saja akan mencium bibir Trisia jika saja tidak ada yang menegur.
"Rion." Teriak Arleta melihat ulah Rion. Karena terkejut Rion segera menjauhkan wajahnya dan melihat pada Arleta.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arleta marah.
"Sorry aku kebablasan." kata Rion menyesal. Dia menjauh dari Trisia dengan berat hati.
"Kenapa Trisia?" tanya Arleta.
__ADS_1
"Dia sakit. sepertinya demam. Asistennya tidak ikut karena ada urusan keluarga." Rion menerangkan mengapa dia bersama Trisia.
"Lalu kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan?" tanya Arleta tajam. Rion tersenyum malu. Yg kalau tidak ada Arleta dia sudah bisa mencium bibir Trisia yang indah itu.
"Kami ngapain di sini?" tanya Rion kesal.
"Bagus aku yang di sini, kalau Jono kamu tau kan bagaimana akhirnya?" tanya Arleta menantang. Rion tau, Jono akan melaporkannya pada Restandi.
"Lalu bagaimana dong?" tanya Rion bingung.
"Coba pakai minyak angin." usul Arleta. Rion mencari minyak angin untuk menyadarkan Trisia. Arleta keluar, dia tidak mau Trisia melihatnya. Dia sudah berjanji tidak akan mencampuri urusan antara Armando dan Trisia. Arleta menelpon Arsen, agar dia memberi tau Armando jika Trisia pingsan di lokasi syuting. Arleta juga berpesan pada Arsen untuk tidak memberi tau Armando jika Arleta yang mengabarkan hal itu. Arsen pun paham. Armando sudah kembali dari menengok Melani, tapi dia memang belum pulang ke rumah. Jadi Trisia tidak tau jika Armando sudah kembali. Armando terkejut di beri tau Trisia pingsan di lokasi syuting. Dia pun langsung pergi ke lokasi syuting. Arleta menunggu Rion di dalam mobil bersama Jono. Rion tidak mau meninggalkan Trisia seorang diri. Trisia sendiri sudah sadar berkat minyak angin yang Rion dapatkan dari kru. Tapi Trisila masih lemas.
"Kamu sakit." kata Rion mesra. Dia mengusap keringat di dahi Trisila dengan tisyu. Armando yang baru datang tidak suka melihat itu.
"Trisia." kata Armando sambil menghampiri. Trisia dan Rion terkejut dan menatap Armando. Rion melihat Armando yang tidak suka kepadanya pun mengalah. Dia beranjak menjauhi Trisila. Armando mendekati Trisia.
"Kamu kenapa?" tanya Armando lembut pada istrinya. Di lihatnya wajah Trisila pucat.
"Aku pusing." jawab Trisia pelan. Dia terkejut Armando datang. Dia tidak tau Armando sudah kembali.
"Di mana asistenmu?" tanya Armando sambil memperhatikan sekitar. Ternyata tidak ada orang. Jadi Trisia berdua saja dengan Rion.
"Dia ada urusan keluarga." jawab Trisia, dia juga merasa tidak enak pada Armando berdua saja dengan Rion. Bodoh kamu Trisia. Kenapa harus pingsan kata Trisia dalam hati.
__ADS_1
"Ayo kita pulang." Armando pun menggendong Trisia keluar. Sekarang Rion yang tidak suka melihat Armando yang menggendong Trisia dan membawanya pergi. Arsen membukakan pintu mobil bagi Armando dan Trisia. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Arsen pun menjalankan mobil Armando dengan baik.