Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
146. Tragedi Arleta


__ADS_3

Dengan seksama Raul memperhatikannya. Dia terkejut. Pria tampan dengan kekayaan luar biasa. Boleh juga incaran Weny. Ini sih kalau dapat jangan di lepas. Raul jadi tertarik membantu Weny. Di carinya informasi tentang pria itu, siapa istrinya. Ketika melihat foto Arleta, Raul tertawa. Tentu saja Weny kalah jauh. Raul juga ingin punya wanita cantik seperti ini. Tapi melihat dia sudah mendapatkan Restandi tentu saja dia tidak akan mau pria cecunguk seperti Raul.


"Kamu maunya bagaimana?" tanya Raul kemudian.


"Wanita itu harus di singkirkan." kata Weny yang semakin mabuk. Maksud dia Arleta harus di jauhkan dari Restandi, tapi Raul menangkapnya berbeda.


Arleta sudah merasa lebih baik. Maka dia memutuskan untuk berangkat ke klinik seorang diri dengan mobilnya. Jono tengah mengantar Sofi. Akan lama jika dia menanti Sofi kembali. Maka dia pun berangkat. Arleta menjalankan mobilnya dengan santai. Hingga satu jam kemudian Restandi menerima kabar Arleta kecelakaan. Arleta di bawa ke ruang UGD di rumah sakitnya. Restandi bergegas ke sana. Ketika tiba tampak Kevin tengah duduk di depan ruang UGD. Kevin juga terkejut melihat Restandi, tapi kemudian dia maklum.


"Jangan bikin aku jadi salah paham." kata Restandi marah pada Kevin.


"Cih, salah paham apa? Aku yang bawa Arleta ke sini. Aku hanya kebetulan melihat istrimu di celakai orang, pasti aku akan membantunya. Aku yakin kau pasti juga akan melakukan yang sama pada Khanza." jelas Kevin kesal. Dia sudah baik hati malah di curigai.


"Apa maksudmu?" tanya Restandi terkejut.


"Dengar, aku dan Khanza sedang dalam perjalanan pulang dari rapat penting. Di tengah jalan aku melihat mobil Arleta diikuti oleh mobil tidak di kenal. Aku dan Khanza merasa curiga, kami mengikuti dari belakang. Tiba-tiba mobil itu menabrak mobil Arleta. Mobil istrimu rusak parah, mobil asing itu hendak kabur aku lalu menabrakkan mobilku pada mobil itu agar dia tidak kabur. Mobil itu rusak hanya saja pengemudinya sempat kabur. Aku lebih memilih membantu Arleta. Sekarang dia dan Khanza sedang di periksa di dalam." jelas Kevin. Restandi merasa tidak percaya ada yang ingin mencelakai Arleta.


"Aku lihat keadaannya dulu." Restandi akan melihat Arleta. Kevin hanya mengangguk. Di ruang UGD Arleta terbaring dengan tidak sadarkan diri. Ada dokter Lukman Aria yang sedang memeriksa Arleta. Restandi langsung cemas mengingat Arleta sedang hamil.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Arleta dok?" tanya Restandi pada Lukman Aria.


"Dia luka-luka karena pecahan kaca, tapi untungnya kandungannya selamat. Hanya saya sarankan dia banyak beristirahat. Karena dia cukup terguncang. Saat ini Arleta belum sadarkan diri." Lukman Aria menjelaskan. Restandi melihat tubuh Arleta yang terluka serasa mau menangis. Istri yang di cintainya tidak berdaya.


"Saya rasa Arleta sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan. Kamu masih beruntung, lukanya tidak terlalu parah." Lukman Aria menepuk bahu Restandi. Hal itu membuat Restandi sedikit lega. Di sebelah tempat tidur Arleta tampak Khanza yang masih berbaring. Pemeriksaan pada dirinya telah selesai. Khanza mulai duduk walau masih lemas.


"Khanza kau baik-baik saja?" tanya Restandi khawatir. Kevin nekat juga menabrakkan mobilnya padahal dia membawa istrinya.


"Aku baik dok, hanya lemas dan kaget saja. Bagaimana dengan mbak Arleta?" tanya Khanza, wajahnya masih pucat.


"Maaf kami sudah mencegah tapi orang itu bisa kabur." kata Khanza lagi yang sepaham dengan Kevin tentang apa yang di perbuat hari ini. Restandi jadi terharu, mereka berdua tulus ingin membantu Arleta tanpa memikirkan diri mereka.


Terima kadih ya Khanza, kamu istirahat dulu ya agar lebih tenang." Restandi tau Khanza pasti terkejut. Khanza mengangguk pelan. Restandi keluar dari ruang UGD untuk menemui Kevin.


"Kau ini seenaknya menabrakkan mobil tanpa memikirkan istrimu." tegur Restandi.


"Itu darurat, aku yakin Khanza akan mengerti. Bagaimana Arleta?" tanya Kevin penasaran.

__ADS_1


"Dia baik dan kandungannya juga selamat, hanya belum sadarkan diri." jawab Restandi sendu.


"Apa, Arleta sedang mengandung?" Kevin terkejut. Dia tidak dapat membayangkan jika terjadi sesuatu pada bayinya.


"Ya, usia kandungannya empat bulan lebih." Restandi harus bersyukur Arleta dan bayinya baik-baik saja.


"Brengsek, orang itu biadab. Aku sudah menceritakannya pada pihak kepolisian tadi. Mereka sedang melacak pemilik mobil itu." Kevin berkata dengan marah.


"Terima kasih kau sudah menolong Arleta." kata Restandi tulus. Dia tidak dapat membayangkan jika tidak ada Kevin bagaimana nasib istrinya.


"Seperti yang aku katakan, kau juga akan melakukan yang sama pada Khanza." jawab Kevin. Perseteruan antara Restandi dan Kevin berakhir hari itu. Yang mereka harapkan sama, kesembuhan Arleta. Saat ini Arleta ada di ruang rawat dan sedang di periksa oleh dokter Arman Zaki.


"Tubuhnya tidak apa-apa. Untung dia mengenakan sabuk pengaman. Tapi psikisnya yang harus kita pantau. Sabar ya." dokter Arman menepuk bahu Restandi lalu dia pergi. Perawat masih mengganti perban Arleta pada luka yang terkena kaca. Restandi menatap Arleta dengan sedih. Arleta tidak bilang jika hari itu akan keluar. Kevin sudah pulang membawa Khanza, karena istrinya itu di nyatakan baik-baik saja. Restandi pun menghubungi Rion. Tidak lama keluarga Gutama mendatangi rumah sakit. Restandi juga menghubungi Armando. Pria itu datang sendiri. Armando langsung dari kantornya. Avery sedang kurang sehat. Armando tidak memberitahunya. Orangtuanya juga sedang di luar kota, Armando tidak mau mereka cemas. Tunggu saja mereka kembali. Setelah mendengar apa yang terjadi pada adiknya, Armando segera menghubungi Kevin. Untuk mengetahui kronologis yang terjadi pada Arleta secara rinci. Armando geram. Ada yang mencelakai adiknya. Pihak kepolisian juga datang. Sebenarnya mereka ingin berbicara dengan Arleta, ingin tau apa Arleta mengenal pria yang menabraknya. Tapi ternyata Arleta belum sadar. Pihak kepolisian sudah mengetahui pemilik mobil tersebut. Seorang pria muda yang bekerja lepas di sebuah club' malam. Pria itu bertugas untuk menghalau pelanggan yang mabuk, melakukan penagihan atau mengantar tamu club' yang mabuk pulang. Pihak club' tidak mengakui pria itu pegawai tetap mereka. Dan saat ini keberadaan pria itu tidak di ketahui. Sepertinya pria itu sangat percaya diri sehingga menggunakan mobil pribadinya untuk mencelakai Arleta. Sialnya ada Kevin yang melihatnya sehingga dia tidak bisa lolos. Dengan terpaksa dia meninggalkan mobilnya. Pria itu tau polisi sedang mencarinya, maka dia bersembunyi entah di mana. Arlan dan Revita datang. Revita tampak sedang mengandung.


"Pantas tidak pernah kelihatan, ternyata sedang sibuk sendiri." sindir Restandi.


"Bukan begitu, Revita tidak sekuat Arleta. Kandungannya riskan maka tidak banyak kegiatan." jawab Arlan.

__ADS_1


__ADS_2