Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 101 - Tak Seperti Rumor


__ADS_3

Billa dah lama mengenal Rin. Sejak mereka bertemu di masjid sekolah beberapa bulan lalu. Awal ketemu, Billa sih cuek-cuek aja, cuma satu hal yang membuat dia kagum. Kok ada juga sih cowok ganteng tapi doyan maen ke masjid?


Biasanya sih Masjid sekolah bakalan didominasi oleh anak-anak dari kelas A sampai ke C. Tapi seingat Billa, dia tidak pernah melihat Rin di ketiga kelas itu. Baru akhir-akhir ini, Billa tahu kalau Rin ternyata berasal dari kelas J. Kelasnya anak-anak ‘spesial’ karena orang tuanya.


Billa selama ini selalu memandang rendah anak-anak dari kelas J. Apa sih yang kalian banggakan? Toh kalian mendapatkan perlakuan khusus dari sekolah cuma gara-gara orang tua kalian, bukan gara-gara usaha kalian sendiri. Apa yang bisa kalian banggakan?


Tapi sedikit demi sedikit, sikapnya terhadap kelas J sedikit berubah sejak dia makin dekat dengan Rin. Ternyata ada juga anak dari kelas J yang tidak seperti anggapannya. Dan akhirnya, Billa setuju untuk jalan bareng Rin hari ini. Yang akhirnya membawa Billa kepada suasana yang terasa sangat runyam ini.


Amel berdiri dan berjalan mendekat ke arah Rin dan Billa, Amel kemudian mengulurkan tangannya, “salam kenal, namaku Amel,” kata Amel sambil tersenyum.


Billa terkejut, dia sama sekali nggak menyangka kalau Amel duluan yang mengajaknya berkenalan, bukannya dia si cewek angkuh kan? Tapi Billa nggak mungkin juga membiarkan niat baik Amel terabaikan. Kalau seperti itu, sama saja kan kalau dirinya yang jahat?


“Bi, Billa,” jawab Billa dengan suara sedikit bergetar.


Rin menarik napas lega sambil memberikan pandangan penuh rasa terimakasih ke Amel.


“Yuk, sini. Kami nggak gigit kok,” kata Amel sambil menggandeng tangan Billa dan mengajaknya bergabung ke meja mereka.


Setelah sampai di meja mereka, Amel mendelik ke arah A Long, “geser Long. Biar Billa duduk disini,” kata Amel.


“Apaan sih Mel? Kan gue dulu yang duduk disini,” protes si A Long, tapi tetap saja dia berdiri dan memberikan kursinya untuk Billa.


Billa dengan canggung duduk di sebelah Amel. Sesekali dia melirik ke arah Munding yang terlihat cuek dengan muka netral yang duduk di sebelah Amel.

__ADS_1


“Kenalin deh, ini Munding,” kata Amel sambil mengenalkan Munding yang duduk di sebelahnya.


Billa mengulurkan tangannya ingin berjabatan tangan dengan Munding. Tapi Munding menangkupkan tangannya di depan dada sambil tersenyum, “bukan mahram.”


Muka Billa memerah, sebenarnya dia juga tahu soal itu, tapi kan dia berusaha keras membaur dengan orang-orang sarap di sekitarnya ini. Dia takut nanti bakalan kenapa-kenapa kalau nggak sengaja menyinggung salah satu diantara mereka. Dia tahu kalau mereka-mereka ini punya cukup pengaruh untuk melakukan sesuatu di luar jam sekolah dan di luar pagar sekolah.


Orang tua Billa cuma karyawan biasa. Dia nggak ingin menciptakan masalah untuk keluarganya karena kesalahan yang sebenarnya nggak penting, yang mungkin Billa lakukan tanpa sengaja.


Melihat muka Billa yang memerah karena malu, Amel mendekat dan berbisik ke Billa, “anggep aja orang aneh, Munding memang gitu, nggak mau dia sentuhan sama cewek. Kalau lagi sholat digangguin aja ngamuk dianya.”


Ha? Preman terkuat di muka bumi, eh salah, itu sih gelarnya si Maell Lee, preman terkuat di Harsa ngamuk kalau sholatnya diganggu? Dan lagi, itu artinya Munding rajin sholat dong. Suatu hal yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh si Billa.


Setelah itu, sikap Billa berubah terhadap Munding, dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


Memang kasihan banget si Rin, dia kebagian kursi kosong disitu. Lha si A Long cuma geser satu kursi. Jadi cuma ada satu kursi kosong di sebelah Amel.


Mendengar kata-kata Rin yang penuh emosi, justru si Billa yang melotot ke Rin, “Munding tu emang bener, bukan mahram nggak boleh sentuhan. Kamu ni gimana sih Rin?”


Dan si Rin, jagoan Taekwondo yang garang dan merasa dirinya seorang pembunuh bayaran itu, langsung menciut dan mengkeret sekalinya kena tegur sama si Billa.


Semua anak ketawa-ketawa melihat mereka berdua. Keliatannya, Rin dan Billa memang pasangan cocok deh. Si Rin beneran mati kutu di depan cewek berjilbab dan berkacamata itu.


“Ini si Wowo, dia dari Sriwijaya, ini si Citra, dia dari kelas J, ini..” kata-kata Amel mengambang ketika dia ingin mengenalkan cewek manis di sebelah A Long, “Long, kamu tu ya? Dari tadi sama sekali nggak ngenalin cewekmu. Tega bener sih?” tegur si Amel.

__ADS_1


A Long cuma nyengir kuda, “kalau setiap kali gue bawa cewek, terus gue ngenalin ke kalian, kasihan sama kaliannya. Soalnya setiap kali kita ngumpul, cewek gue mungkin ganti orang,” jawab si A Long tanpa merasa berdosa.


Cewek manis yang ada di sebelah A Long memukul dada A Long dengan tas kecilnya ketika mendengar kata-kata A Long. Setelah itu dia berdiri dan berniat meninggalkan tempat itu.


A Long cuma tertawa kecil, “becanda Lin, becanda,” kata A Long sambil menarik pergelangan tangan gadis itu. Si cewek yang dipanggil Lin oleh A Long dengan enggan kembali duduk lagi di kursinya.


“Lu tu ya? Gue udah kurang ngertiin apa coba? Gue diem aja tiap kali lu jalan sama cewek lain. Yang penting, cewek lu yang resmi cuma satu. Gue,” kata Lin ke arah A Long dengan muka marah, “kalau lu nggak mau ngakui gue cewek lu, ya udah kita bubar aja sekalian.”


“Iya, iya. Jangan marah ya Sayang,” kata A Long sambil berusaha nyosor ceweknya, tapi ditepis sama si Lin, “kenalin deh, ni cewek gue. Namanya Pauline Chua, panggilannya Lin,” kata si A Long.


Mereka semua akhirnya saling mengenal satu sama lain. Tak lama kemudian pesanan makanan mereka pun datang dan mereka makan siang bersama. Setelah makan siang mereka selesai dan A Long bergerak ke kasir untuk membayar makanan, mereka merasa ada sesuatu yang kurang.


“Keknya ada yang kurang deh,” kata Rin yang sekarang sudah menempati kursi A Long setelah ditinggal si sipit membayar ke kasir.


“Fariz nggak keliatan,” jawab Munding.


Dan semua orang di meja itu langsung tersadar, “kemana bocah sarap penyuka emak-emak itu?”


Rin melirik ke arah Amel, “kamu tahu si Fariz kemana Mel?” tanyanya.


Amel menggelengkan kepalanya, “ya nggak lah.”


“Tapi kan dia lagi narget anak buah Papamu?” protes si Rin.

__ADS_1


“Terus apa hubungannya sama Amel coba?” balas Amel.


__ADS_2