
Sebuah kendaran minivan berisi delapan orang terlihat terparkir di sebuah halaman restoran fast food yang berada di pinggiran kota Semarang. Semua orang yang berada dalam mobil itu menggunakan pakaian taktis berwarna hitam-hitam dan menggunakan penutup wajah.
Terdapat alat komunikasi kecil yang berwarna putih di telinga mereka. Mereka adalah tim kelelawar yang sedang menunggu mobil jemputan Amel lewat sesuai dengan rute pulang pergi harian mereka.
Meskipun di dalam minivan tersebut panas sekali, tapi kedelapan orang tersebut sama sekali tidak mengeluh dan dengan sabar menunggu kedatangan target mereka.
\=\=\=\=\=
Amel selama seharian ini selalu uring-uringan di kelasnya, Munding tidak masuk sekolah hari ini. Ini kali pertama dia tidak masuk sekolah. Tapi bukan hal itu yang membuat dia uring-uringan, Amel marah, karena Munding sama sekali tidak memberitahu apa-apa soal ini.
“Setidaknya kalau Munding memang tidak masuk sekolah, harusnya dia ngasih tahu Amel, dengan begitu Amel kan bisa ikutan bolos dan nemenin Munding,” batin Amel dalam hati, Amel sama sekali tidak sadar kalau dia mulai menggunakan logika terbalik dalam mengambil keputusan.
Dengan muka masih cemberut, Amel masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya dari tadi. Tapi Amel merasa ada sesuatu yang aneh. Dengan cepat dia melihat ke arah Pak Sopir yang duduk di depan dan ketika dia melihat sopirnya masih sama dengan sopir yang mengantar jemputnya ke sekolah selama dua tahun ini, Amel menarik napas lega.
“Ini semua gara-gara Munding. Karena nggak ada dia, aku jadi gampang parno gini. Kalau ada dia sih enak, urusan dia semuanya, pokoknya aku tinggal duduk aja,” batin Amel sambil merapikan rambutnya.
“Pulang ya Mbak?” tanya si Pak Sopir.
Amel tersenyum datar dan menganggukkan kepalanya ke arah si Pak Sopir yang melirik Amel dari spion tengah.
Tak lama kemudian mobil Amel sudah meluncur membelah jalan raya Kota Semarang yang panas dan ramai itu. Amel kemudian membuka hpnya dan asyik membalas pesan chat dari Chloe dan Citra.
Sesekali dia akan tertawa ketika Citra menceritakan tentang hubungannya dengan Wowo Gundul. Tapi dari obrolannya dengan Citra, Amel jadi tahu sekalipun Wowo terlihat seolah-olah seperti seorang playboy, tapi ternyata dia setia banget. Cuma ada dua wanita yang namanya tersimpan di kontak hp Wowo. Emaknya si Wowo dan Citra.
__ADS_1
Ketika Citra nanya kenapa nggak simpan no hp Amel atau Billa? Kata Citra, Wowo bilang, ngapain disimpan, biar nomor mereka disimpan Munding dan Rin lah. Ane nyimpan nomor Citra aja.
Amel cuma tersenyum dan berdoa dalam hati semoga saja mereka berdua bisa langgeng sampe tua nanti. Tapi ketika Amel membayangkan perasaannya ke Munding, Amel kebawa baper lagi. Supaya dia nggak mewek lagi seperti saat berangkat tadi pagi, Amel sengaja untuk memakai headset dan memutar lagu favoritnya.
Prakkkkkkk.
Tiba-tiba sebuah suara keras terdengar dari arah kiri mobil Amel. Amel yang duduk di jok belakang sebelah kiri kaget sekali. Sekalipun dia sedang menggunakan headset dan menikmati lagu, tapi suara itu sangat keras terdengar.
Amel dengan cepat melihat kearah asal suara itu dan melihat dua orang laki-laki menggunakan jaket warna hitam dengan gambar naga di punggungnya. Mereka berboncengan mengendarai sepeda motor Yamaha RX King dan memepet mobil Amel dari sebelah kiri.
Suara raungan keras sepeda motor lain juga terdengar dari sebelah kanan. Di sana ada satu buah lagi motor yang sama jenisnya dan dikendarai oleh seorang preman dengan attribut pakaian yang sama dengan dua laki-laki di sebelah kiri mobil.
Ketika Amel melihat ke arah spion kiri mobil, Amel tahu dari mana suara keras tadi berasal. Laki-laki yang membonceng di sebelah kiri mobil Amel memegang sebuah katana panjang dan menyabetkannya ke spion kiri mobil.
Amel dengan cepat mengambil gambar kedua laki-laki yang berada di sebelah kirinya dengan menggunakan hp di tangannya. Amel lalu mengirimkan foto itu ke Papanya melalui pesan chat.
“Pa, mobil Amel di serang orang. Ini masih sampe di simpang Kaliwiru.”
Setelah mengirim pesan chat disertai gambar tersebut, Amel berkata, “Ambil kiri Pak, kita masuk ke tol Jatingaleh saja. Nanti keluar langsung di pintu tol Bawen. Mereka pasti tidak bisa masuk ke tol,” perintah Amel.
Si Pak Sopir melirik sekilas ke arah Amel melalui spion tengah, setelah melewati tanjakan Kaliwiru ke arah Gombel, mobil Amel tidak berbelok ke kiri dan masuk ke pintu tol tapi justru lurus ke atas melalui jalan raya.
Amel terdiam ketika menyadari kalau si Sopir yang sudah mengantarnya selama sekolah di SMA lebih dari setahun ini ternyata satu komplotan dengan penyerangnya tadi. Amel yang masih memegang HP di tangannya dengan cepat mengetik kembali pesan chat ke Papanya.
__ADS_1
“Sopir Amel satu komplotan dengan mereka.”
Kini Amel tahu kenapa dia merasa ada sesuatu yang salah saat naik keatas mobil tadi saat berada di sekolah. Dia sama sekali belum memberitahu si Sopir untuk menjemputnya, kenapa dia sudah menunggu di parkiran sekolah? Dan kini Amel tahu alasannya.
Si Sopir yang melihat Amel memegang HP di tangan dan sibuk mengetik dengan cepat mengeluarkan sepucuk pistol dari pinggangnya dan menodongkannya ke Amel, “Mbak Amel pasti tahu kalau pistol ini sungguhan, saya cuma menjalankan perintah dari atasan, tolong bekerja sama. Serahkan Hp Mbak dan saya tidak akan melukai Mbak Amel.”
Amel melihat ke arah Pak Sopir dan tahu kalau dia serius dengan ancamannya. Terlihat dari tidak adanya keraguan sama sekali untuk menembakkan pistol ditangannya, meskipun Amel yakin kalau tembakan si Sopir pasti diarahkan ke bagian kaki atau tangan.
Untuk apa coba mereka susah-susah nyulik Amel tapi belum minta tebusan Amelnya sudah ditembak mati duluan? Itulah alasan Amel yakin kalau si Sopir tidak akan berani menembak ke bagian vital tubuhnya, setidaknya untuk saat ini.
Amel pun menyerahkan hpnya ke si Sopir yang kemudian memasukkannya ke kantong saku kemejanya. Amel hanya bisa melirik ke arah jalan raya di luar sana yang masih ramai dari mobilnya yang tetap melaju dengan kecepatan tinggi.
Kedua motor tadi juga masih mengikuti mobil Amel dengan menyamakan kecepatan mereka di samping kiri dan kanan mobil. Dalam hitungan menit, rombongan mobil Amel dan kedua motor itu sampai di restoran fast food tempat minivan berisi delapan orang tadi menunggu.
Si Sopir menghentikan mobilnya di sebelah minivan dengan tergesa-gesa. Dengan cepat, ketiga orang yang naik sepeda motor itu melepas attribut mereka dan memberikannya kepada rekannya yang turun dari minivan.
Tak lama kemudian kedua motor itu sudah melaju kearah yang berlawanan, sepertinya mereka digunakan untuk mengecoh polisi atau tentara yang mungkin sudah digerakkan untuk mengejar penculik Amel.
Si Sopir menunjukkan HP Amel dan masuk ke dalam minivan. Dan minivan itu pun meninggalkan lokasi parkir restoran fast food itu kearah yang berbeda dengan kedua motor di awal tadi. Sekarang, rombongan penculik Amel sudah tersebar ke tiga arah yang berbeda.
Ketiga laki-laki yang tadi menggunakan jaket hitam dan naik sepeda motor masuk ke dalam mobil Amel dan langsung menyalakannya. Amel yang masih duduk di jok belakang mobilnya, hanya menyaksikan semua proses itu terjadi dalam hitungan detik saja.
Tak lama kemudian, Amel bersama ketiga orang laki-laki itu berada dalam mobil yang melaju kearah rumah Amel seperti biasanya.
__ADS_1