Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 155 - Insight


__ADS_3

Munding sekarang sedikit kebingungan dengan apa yang akan dia lakukan. Haruskah dia menerima permintaan Broto dan bergabung bersama militer.


Tapi Munding kini punya calon bayi yang ada dalam kandungan istrinya. Dia adalah seorang calon ayah. Dia tak ingin mempertaruhkan nyawanya di kala kebahagiaan keluarganya hampir sempurna dengan kehadiran calon sang buah hati.


Munding merasa bimbang.


"Munding," panggil Pak Yai pelan.


Munding mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Bapak Mertuanya.


"Kamu lupa?" tanya Pak Yai.


Munding bingung dengan kata-kata Pak Yai untuk sesaat, lalu sebuah batang rotan seolah-olah sedang ditusukkan ke dadanya. Munding ingat kembali kata-kata Bapaknya waktu itu.


Munding seharusnya mengikuti apa kata hatinya, mengikuti nalurinya, bukan mengikuti logikanya.


Munding memejamkan mata dan menanyakan kepada dirinya sendiri.


Apa yang dia inginkan?


Apa yang dia mau?


Munding menyelam jauh ke dalam dirinya sendiri, mencoba untuk memahami apa yang hatinya inginkan.


Munding seolah-olah terbang melayang dalam ruang gelap yang dulu pernah diselaminya saat dia melakukan awakening dan inisiasi. Tapi kali ini, dia tak mencari sosok 'alter ego'-nya karena Munding tahu kalau 'dia' sudah menyatu dengan dirinya dan tak terpisahkan.


Munding mencari petunjuk, mencari sebuah jalan, mencari apa yang dirinya sendiri mau.


Setelah melayang dalam kegelapan selama beberapa jam tanpa hasil, Munding tak menyerah. Dia berusaha untuk terus mencari dan menjelajahi seluruh area tanpa batas ini. Karena meskipun ruang aneh ini diselimuti kegelapan dan hanya bercahaya temaram di sekitarnya, Munding tahu kalau tidak ada bahaya di tempat ini. Ini adalah relung sanubarinya sendiri.


Munding terus melayang tanpa berganti arah. Lurus dan hanya menuju satu arah. Semakin lama, pikiran Munding juga semakin fokus kepada tujuannya datang kesini.


Untuk mencari jawaban yang dia inginkan.


Hanya itu yang ada dalam pikiran Munding saat ini. Pikiran tentang Nurul dan bayinya tak lagi ada di kepalanya. Munding juga tak lagi memikirkan permintaan Broto ataupun tentang gerombolan Chaos.


Semuanya terasa sepi, kosong, dan damai.

__ADS_1


Setelah sekian lama melayang, tiba-tiba Munding melihat sebuah titik cahaya di kejauhan. Munding kemudian melayang ke arah cahaya itu.


Makin lama, cahaya tersebut makin membesar dan akhirnya Munding berdiri di depannya.


Munding berjalan pelan dan masuk kedalam cahaya itu. Tiba-tiba saja, Munding sudah berdiri di halaman rumahnya. Tapi Munding merasa ada sesuatu yang aneh. Rumahnya terlihat sepi.


Munding berjalan masuk kerumahnya dengan ragu-ragu, "Nurul?" panggil Munding pelan tapi tak ada sahutan dari dalam rumah.


Munding lalu keluar dari rumahnya dan berjalan ke sawah yang ada di depan rumahnya. Dia berjalan ke arah gubuk yang ada di tepi sawahnya dan seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Darah berceceran dimana-mana. Gubuknya juga tak berbentuk lagi. Di pinggir gubuk dia melihat ada empat orang yang berdiri disana.


Keempatnya terluka parah dan satu orang berdiri di tengah dikelilingi tiga orang lainnya. Tubuh Munding makin bergetar saat dia melihat sosok yang sedang dikelilingi oleh tiga orang lainnya itu. Karena sosok itu adalah dirinya sendiri.


"Ini?" kata Munding kebingungan.


Munding lalu mengedarkan pandangan matanya ke arah sekelilingnya. Tubuhnya bergetar makin kuat dan seluruh darahnya mendidih. Dia melihat tubuh Nurul yang bersimbah darah dan meregang nyawa di tanah. Dalam pelukan istrinya sesosok bayi menangis tanpa henti dan menambah suasana menjadi lebih memilukan.


Selain Nurul dan anaknya, Munding juga melihat dua tubuh tergeletak tanpa nyawa. Munding mengenali salah satunya, Nia. Sosok yang lain adalah seorang pria berkulit agak gelap dan memakai dandanan khas petarung muay thai dari Thailand.


Seketika itu juga, naluri predator Munding langsung mengambil alih dan dia masuk ke mode tarung tanpa dia sadari.


Munding mengenali salah satunya sebagai Yasin. Dua orang lainnya dia tak mengenalnya. Salah satunya memegang katana panjang di tangannya, sedangkan pria yang lain menggunakan seragam karate berwarna putih dengan sabuk berwarna hitam.


Munding tak kenal dan belum pernah melihat kedua orang itu, tapi saat itu dia sadar kalau mereka berdua adalah anggota gerombolan Chaos.


Tanpa berpikir panjang Munding langsung menyerang pria yang memegang katana. Tapi di luar dugaan Munding, serangannya seperti mengenai angin kosong. Dia tak bisa menyentuh mereka sama sekali.


Munding mencoba menyerang pria lainnya yang mengenakan seragam karate. Tapi, sama seperti sebelumnya, serangan Munding hanya seperti mengenai angin saja.


Munding lalu terdiam di tempatnya. Sedikit demi sedikit kesadaran Munding kembali dan intent yang dipancarkan dari tubuhnya melemah.


Dia kini memperhatikan keempat orang itu yang hanya saling menatap saja dan mengatur nafasnya masing-masing.


"Bocah, kau tak menyangka kalau kami akan datang kesini mencarimu kan?" kata Yasin ke arah Munding yang bersimbah darah.


"Kenapa?" tanya Munding, "aku menolak memburu kalian, aku memilih hidup damai dengan keluargaku, kenapa kalian masih datang kesini?"

__ADS_1


"Kami membutuhkan kematian keluargamu untuk membuat kawananmu kembali aktif," jawab Yasin, "selain tentunya aku punya dendam pribadi denganmu," lanjutnya dengan suara pelan.


Si pria yang memakai katana bergumam dalam bahasa Jepang kepada rekannya yang memakai baju karate, sesaat kemudian mereka berdua menyerang Munding dalam mode tarung dan Yasin juga ikut membantunya.


Munding melihat sosok dirinya yang lain melawan dengan sekuat tenaga dan penuh amarah. Dia berhasil melukai si karateka dan Yasin, tapi ketika dia berhadapan dengan pria yang memegang katana, sesuatu yang tidak dia sangka terjadi.


Pria berkatana tersebut berdiri diam saat Munding memukulnya dan ketika pukulan Munding hampir mengenai dadanya, kepalan tangan Munding terhenti seperti menabrak sebuah membran tipis tak kasat mata yang melindungi pria itu.


Pria itu menusukkan katana-nya ke dada Munding sambil tersenyum sinis.


"Manifestasi?" gumam Munding sebelum dia akhirnya merasakan rasa sakit yang teramat sangat di dadanya yang telah tertusuk katana.


"Ughhhhhh," Munding merintih kesakitan sambil memegangi dadanya.


"Kamu kenapa?" tanya Afza ke arah Munding yang tiba-tiba saja jatuh tersungkur ke lantai.


Munding terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Pak Yai terlihat tenang dan memegangi badan Munding, "tarik napas dalam," kata Pak Yai pelan.


Semua orang yang ada di teras depan terdiam melihat kedua orang itu. Mereka tak tahu apa yang baru saja terjadi dengan Munding.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Pak Yai pelan.


Munding terlihat ragu sambil mengatur napasnya yang berangsur-angsur berubah teratur.


"Munding tak tahu Pak," jawab Munding pelan.


"Tak tahu atau tak yakin?" tanya Pak Yai.


Munding kembali terdiam.


"Itu namanya 'insight'. Apa yang kamu lihat, bisa saja kenyataan atau ilusi. Bisa masa lalu atau yang akan datang. Kamu bisa memilih untuk mempercayainya atau tidak. Semua keputusan ada di tanganmu," kata Pak Yai pelan, "lain kali, jangan lakukan ini lagi, bukan sekali dua, seorang petarung menjadi gila saat melakukan apa yang kamu lakukan tadi, karena dia tak bisa membedakan mana yang harus dipercayai."


Munding terdiam dan mengambil napas panjang.


"Samurai, Karateka, dan seorang petarung muay thai. Apa yang kalian ketahui tentang mereka?" tanya Munding ke arah Broto.

__ADS_1


Broto dan Afza langsung terpana ketika mendengar pertanyaan Munding. Mereka sama sekali belum memberikan informasi tentang anggota Chaos kepada Munding, bagaimana mungkin dia tahu soal tiga orang itu?


__ADS_2