Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 171 - Berserk (part 1)


__ADS_3

Apakah manusia memang tidak mempunyai kesempatan untuk merubah takdirnya?


Kalau begitu, kenapa aku harus melakukan semua ini? Kenapa aku harus memilih jika hasilnya akan selalu sama?


Kenapa aku harus melihat bayangan itu jika memang aku tidak bisa mengubahnya? Apakah semua ini hanya untuk menambah derita yang harus aku rasakan?


Hidup dengan mengetahui kalau semuanya akan berakhir tragis dan apapun usaha yang aku lakukan adalah suatu kesia-siaan?


Adakah keputus-asaan melebihi ini? Harapan yang kupunya karena aku melihat sekilas tragedi di masa depan, dan meyakini kalau aku bisa mengubahnya, ternyata semua sia-sia.


Mia, Rony, dan Afza tak menyadari perubahan raut wajah Munding dari yang awalnya kaget, lalu berubah menjadi bingung dan kemudian berubah menjadi sedih dan akhirnya dipenuhi rasa putus asa dan kecewa. Rasa kecewa yang mendalam karena tidak menemukan harapan dan hanya dipenuhi rasa putus asa. Rasa kecewa yang akhirnya berubah sedikit demi sedikit menjadi rasa amarah.


Amarah yang sama dengan dulu yang pernah dia rasakan saat melihat kejadian yang mengubah jalan hidupnya saat SD dulu. Kejadian yang membuatnya mendengar bisikan nalurinya untuk pertama kali. Kejadian yang membuat Munding kehilangan Bapaknya, satu-satunya orang yang dia anggap keluarga dan mempunyai hubungan darah dengannya.


Tapi.


Amarah ini jauh lebih hebat dari yang dulu. Amarah yang pelan-pelan menguasai seluruh tubuh Munding. Berawal dari dadanya, menjalar ke seluruh tubuhnya seolah-olah tersebar oleh darah yang beredar melalui pembuluh darahnya. Tubuh Munding bergetar hebat dan terasa panas terbakar.

__ADS_1


Munding pernah kehilangan keluarganya tapi dia diselamatkan oleh keluarganya yang baru, Pak Yai, Bu Nyai dan Nurul. Tanpa mereka, Munding tidak tahu dirinya akan menjadi apa. Tapi, jika kini dia kehilangan keluarganya yang sekarang, Munding tidak yakin kalau dia akan mendapatkan lagi keluarganya yang baru. Keluarga yang bisa menjadi tempatnya bersandar dan melepas lelah. Keluarga yang mau menerima dirinya apa adanya.


Seorang pemuda kampung yang tangannya berlumuran darah dan mungkin tanpa masa depan.


Ketika sekarang Munding melihat kemungkinan bahwa saat ini, keluarganya sedang terancam bahaya dan bahkan mungkin sedang meregang nyawa, semua kemarahan yang tak pernah terbayangkan itu seperti terlepas dari tempatnya bersembunyi jauh di dalam dirinya. Sisi buas dirinya yang berhasil dia tekan selama bertahun-tahun karena kehadiran kasih sayang dari istri dan keluarganya kini seperti mendapatkan sebuah jalan keluar. Bagaikan seseorang yang dipenjara selama bertahun-tahun dalam gelapnya sel bawah tanah, ketika pintu kamar tahanannya dibuka, dia tak sabar untuk berlari dengan kencang, menikmati udara segar dan panasnya mentari di luar sana.


Kalau Mia dan rekan-rekannya mungkin tak menyadari perubahan wajah Munding, Nia tentu saja lain. Dari awal, ketika Munding mendengar bahwa Yasin berniat menggunakan Chaos untuk membantunya membalas dendam, Munding terlihat kaget, setelah itu Nia dapat melihat dengan jelas semua perasaan yang dialami oleh Munding hingga akhirnya kemarahan jelas terpancar di sorot matanya. Sebuah amarah yang sampai detik ini, Nia tak pernah melihatnya sebelum ini.


“Aaarrrrgghhhhhhhhhhhhhhhhhh.”


Suara erangan yang dalam dan keras terdengar dari mulut Munding yang tiba-tiba membungkuk dan kedua tangannya mengepal di samping badannya.


Nia langsung merasakan dadanya sesak dan susah bernapas. Setelah merasa kebingungan untuk sesaat, Nia mengeluarkan intent-nya untuk melawan tekanan dari Munding. Mia, Rony, dan Afza juga melakukan hal yang sama. Apalagi Afza, ini bukan kali pertama dia merasakan intent Munding yang seperti ini, jadi dengan mudah Afza dapat mengambil keputusan untuk melindungi dirinya dari tekanan intent Munding.


Mia dan Rony sama sekali belum pernah merasakan serangan intent seperti ini, terutama dari Munding. Mereka mengalami reaksi yang sama dengan Nia. Tersungkur ke tanah dan mengalami kesulitan bernapas untuk sesaat. Ketika mereka melihat Afza dengan cepatnya dan tanpa berpikir panjang langsung mengeluarkan intent-nya untuk mengurangi tekanan intent Munding, Mia dan Rony segera mengikuti apa yang Afza lakukan.


Sesak napas yang mereka alami mulai mereda meskipun mereka masih mengalami kesulitan bernapas dan terlihat tersengal-sengal. Nia, Mia, dan Rony melihat ke arah Munding dengan pandangan ketakutan. Ini kali pertama mereka merasakan intent seorang serigala petarung yang seperti ini. Sinis, sadis, penuh amarah, dan semua emosi negatif lainnya berkumpul menjadi satu.

__ADS_1


Intent yang terasa gelap dan kelam. Intent yang membuat mereka kembali teringat kenapa mereka selalu takut pada kegelapan malam. Intent yang menyerupai sesuatu yang akan menerkam mereka tanpa sisa saat mereka tak lagi memegang lilin kecil yang menyala di jemari tangan mereka yang bergetar.


Munding juga terlihat kehabisan napas dan tersengal-sengal. Bukan karena tekanan intent-nya sendiri, tapi karena amarah yang memuncak dan memenuhi seluruh tubuhnya. Amarah yang mulai merasuk ke dalam otaknya dan membuatnya sedikit demi sedikit kehilangan kesadaran diri.


“Apa yang kau lakukan pada keluargaku?” suara rendah dan berat keluar di sela-sela gigi Munding yang saling beradu karena menahan amarah.


Suara yang parau disertai desisan napas dan nada yang berat dan dalam. Seperti suara yang sering digambarkan sebagai suara sang Setan atau Iblis yang turun ke bumi. Suara yang membuat mereka berempat secara reflek gemetar ketakutan.


“Arghhhhhhhhhhhhh,” teriak Munding sambil menengadah ke udara.


Saat itulah, kemarahan Munding mencapai puncaknya dan dia kehilangan kesadaran diri. Munding bergerak dengan cepat dan melompat ke arah Nia yang masih dalam posisi membungkuk dan tersengal-sengal.


Raut ketakutan jelas terpancar di wajahnya, apalagi saat dia melihat wajah Munding yang sekarang melompat dan menyerangnya. Nia tahu kalau yang dihadapinya sekarang bukanlah lagi manusia. Dia bukan manusia, dan Nia yakin itu.


Dengan cepat Nia melompat mundur untuk menghindari serangan Munding. Belum sempat, Nia menghembuskan napas lega karena berhasil menghindari serangan Munding, tiba-tiba terdengar suara dari arah depan tubuh Nia.


Brettttttttt.

__ADS_1


Munding berdiri di depan Nia dengan posisi setengah membungkuk dan tangannya yang membentuk cakar sedang memegang sebuah benda di ujung jari kukunya, baju Nia. Ada sedikit noda merah disana yang membuat Nia secara reflek melirik ke arah dadanya sendiri. Lima luka goresan menyerupai bekas cakar binatang buas terlihat disana dan mengeluarkan darah. Darah yang berwarna merah itu sangat kontras dengan kulit Nia yang putih dan sekarang terbuka karena baju penutupnya telah robek terkena cakaran Munding.


Munding menyeringai sinis sambil melirik ke arah Nia, “apa yang kau lakukan pada keluargaku?” desisnya sambil melepaskan robekan baju Nia dari kukunya.


__ADS_2