
Sebuah benda melayang ke udara setelah itu, sebuah lengan tangan yang terpisah dari tubuh pemiliknya.
Aaaaaaaaaarrrrggggghhhhhhhh.
Teriakan penuh kesakitan terdengar memenuhi halaman rumah sedetik kemudian. Hiro merasakan sakit luar biasa dari bagian pangkal lengan tempat dimana tangan kanannya baru saja berpisah dengan dirinya.
Hiro menekan pangkal lengan kanan itu dengan sekuat tenaga menggunakan tangan kirinya. Dia berusaha mencegah agar darahnya berhenti mengalir keluar sebisa mungkin. Tapi tentu saja, usahanya tidak sepenuhnya berhasil. Darah masih mengucur deras dari sana.
Hiro tahu, kalau dirinya tidak segera mendapatkan pertolongan pertama, dia akan mengalami nasib yang sama dengan Choi yang sudah duluan menemui ajalnya. Tapi dengan cara yang lebih menyakitkan, mati perlahan-lahan karena kehabisan darah dari luka di lengannya.
Hiro dengan cepat mengambil keputusan dan bersujud di tanah ke arah Pak Yai. Tangan kirinya masih berusaha mencegah darah mengalir keluar dari luka di tangan kanannya. Jadi, hanya kepala Hiro dan kedua kakinya yang menjadi tumpuan untuk bersujud di tanah.
“Izrail-san. Maafkan kami. Tolong lepaskan kami. Atau setidaknya akhiri ini dengan cepat. Aku memberikan leherku untukmu,” kata Hiro dengan gigi yang mengatup kuat karena menahan sakit di tubuhnya.
Pak Yai melirik ke arah Maria yang berdiri dengan satu kaki karena kaki lainnya sudah cidera parah, lalu dia melirik ke arah Choi yang sekarang sudah tidak bernyawa dengan luka memanjang di bagian depan tubuhnya dari kepala sampai ke pangkal paha. Pandangan Pak Yai lalu melihat ke arah Hiro yang sedang bersujud di depannya sambil memasrahkan lehernya dan seluruh tubuh yang bergetar kuat karena menahan rasa sakit yang dia derita.
Dan pandangan mata Pak Yai akhirnya berhenti ke Yasin yang terduduk dengan posisi setengah berjongkok dan melihat ke arahnya. Pak Yai hanya menghela napas, justru Yasin yang sekarang sama sekali belum menerima cidera dalam pertarungan mereka. Inilah kenapa dia sangat membenci seorang pengkhianat, apalagi dari kawanannya sendiri, dia tahu seberapa tangguh para petarung hasil didikan kawanan mereka sendiri.
“Pergi dan jangan kembali lagi! Bawa jasad orang ini bersama kalian!” kata Pak Yai sambil menunjuk ke arah tubuh Choi yang tergeletak di tanah.
Hiro mengangkat kepalanya lalu membungkukkan badannya berkali-kali ke arah Pak Yai, “Terima kasih Izrail-san,” kata Hiro sambil memberi isyarat ke arah Maria untuk membantunya mengangkat tubuh Choi.
__ADS_1
Hiro bukan orang bodoh. Sekalipun Izrail mengampuni mereka, tapi dia tahu kalau orang tua itu tak akan mengampuni Yasin. Karena itu, dia meminta bantuan kepada Maria untuk membereskan tubuh Choi, bukan kepada Yasin.
Yasin yang berniat membantu Hiro dan Maria seperti tersengat listrik ketika mendengar kata-kata dari Pak Yai, “kalian boleh pergi. Kecuali Yasin!!”
Hiro cuma menarik napas panjang, “sudah kuduga,” keluhnya dalam hati.
“Maafkan kami Yasin-san,” kata Hiro sambil membungkukkan badannya ke arah Yasin yang masih tertegun dalam diam lalu dengan cepat membawa tubuh Choi bersama Maria ke dalam mobil mereka.
Maria dengan sigap mengeluarkan kotak First Aid Kit dari dalam mobil dan membalut luka di lengan kanan Hiro sebisanya. Mereka berdua melirik sekilas ke arah Yasin dan menarik napas lalu tanpa menoleh lagi mobil mereka meninggalkan tempat malapetaka bagi mereka itu.
Sekarang tinggal Yasin dan Pak Yai saja di tempat ini.
“Kamu seharusnya seperti saat ini,” gumam Pak Yai sambil menatap tajam ke arah Yasin dan membuat Yasin tertunduk dalam-dalam.
Yasin membuka matanya dan menarik napas panjang. Dia tahu pasti maksud kata-kata seniornya itu. Setelah Yasin dihadapkan pada kemungkinan hampir pasti bahwa ajalnya telah datang di tangan Izrail tadi, dia sempat merasa kalut, takut, cemas dan tidak rela. Tapi semakin lama, semakin dia sadar kalau semua rasa itu tak ada gunanya.
Hingga akhirnya, Yasin mencoba untuk pasrah dan merelakan apa yang selama ini dia anggap penting untuknya. Dan ketika semua itu berjalan, lambat laun, seperti sebuah benang yang awalnya kusut, simpul demi simpul dilepaskan oleh Yasin satu persatu sampai akhirnya benang itu kembali terurai dan tak lagi kusut.
Dan ini lah kondisi yang dimaksud oleh seniornya itu. Sebuah benang yang tak lagi kusut. Sebuah pikiran yang jernih dan tak lagi tertutupi oleh kebahagiaan semu. Sebuah jatidiri yang benar-benar utuh miliknya sendiri. Sebuah jatidiri yang bisa dengan mudah menilai, memilah dan memilih antara yang benar dan yang salah. Sosok Yasin yang selalu diakrabinya dulu, saat masih berlarian di tengah hutan sambil meneriakkan takbir dan menyelamatkan desa-desa yang dikepung oleh musuh-musuhnya.
Tanpa sadar, air mata Yasin menetes. Dia tak sadar kapan dirinya telah tersesat sampai membentuknya menjadi seperti yang sekarang ini. Apakah sejak mengenal Nia? Tentu saja bukan. Apakah sejak mengenal Yusuf? Dia ragu. Apakah sejak dia pulang ke rumahnya dan menemukan istrinya sudah menikah dengan pria lain karena mengira kalau dirinya telah meninggal nun jauh disana? Yasin terdiam.
__ADS_1
Kini Yasin tahu. Semuanya dimulai ketika dia merasa diperlakukan tidak adil olehNya. Di kala dia sedang memperjuangkan agamaNya, justru dia kehilangan keluarganya sendiri. Hingga akhirnya membuat Yasin mempertanyakan keadilanNya dan memaksa Yasin melakukan semua perbuatan yang dilarangNya hanya karena ingin membalas ketidak adilan yang dia terima.
Tapi.
Kini Yasin sadar, kunci dari semua itu sebenarnya adalah pasrah dan ikhlas. Kalau saat itu Yasin mengikhlaskan saja semuanya, memasrahkan semua kembali kepadaNya. Mungkin tak akan ada Yasin yang menebar teror dan gila mengumpulkan uang, tak akan ada Yasin yang dengan gampangnya menghabisi nyawa orang demi sederet angka dalam rekening bank miliknya.
Terdengar suara helaan napas yang membuat Yasin mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Pak Yai.
“Kamu sudah sadar belum dimana penyebab semuanya ini?” tanya Pak Yai dengan suara tegas.
Yasin menganggukkan kepalanya, “aku sudah paham Kang,” jawab Yasin pelan.
“Apa yang kamu pahami?” tanya Pak Yai.
“Aku musti belajar mengikhlaskan dan pasrah kepada kehendak Gusti Allah, Kang,” jawab Yasin.
“Bukan itu!” kata Pak Yai dengan nada sedikit jengkel.
Yasin terlihat kaget mendengar teguran seniornya itu, lalu dia menarik napas panjang, “ajari aku Kang,” pintanya.
“Kamu datang kesini mau mencelakai keluargaku, sekarang minta diampuni dan diajari!! Memangnya dunia seisinya ini punya Mbahmu!!” teriak Pak Yai dengan suara menggelegar.
__ADS_1