Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 104 - Sampah


__ADS_3

Ambar cuma mendengus pelan setelah menelan es krim cokelat di mulutnya, “kalian butuh setahun dan mengirim seseorang sepertimu tapi belum juga membuahkan hasil. Kami cuma mengirim Munding dan dalam waktu dua bulan dia berhasil menangkap ekor dari si tikus itu.”


“Itu hanya kebetulan,” protes Santi, “kebetulan bodoh karena si Bram memutuskan untuk menyerang Munding saat ultah Citra.”


“Bram bodoh yang pernah merasakan tubuhmu kan? Jangan bilang kalau jaringan informasi kami terbatas ya?” tegur Ambar dengan nada sinis.


Santi terdiam, tak lama kemudian dia berkata, “aku memang pernah memberikan service kepada Bram, tapi tidak dengan mahkotaku. Aku masih perawan,” kata Santi dengan raut muka memerah.


“Hmmphhh. Lihat di kaca! Perawan umur segitu kok bangga,” cibir Ambar.


Santi melirik ke arah jari tangan Ambar dan ketika dia tidak menemukan ada cincin nikah disana, Santi balas mencibir dengan ganas, “nggak usah sok deh! Kamu juga pasti masih perawan kan? Jangan kira aku tak tahu. Kita sama, di militer dan polisi, sebelum menikah kita wajib tes keperawanan. Humph.”


Dan kedua perawan tua itu saling membuang muka mereka ke arah yang berlawanan. Tapi setelah itu mereka berdua tertawa bersamaan selama beberapa saat.


“Apaan sih? Kita ni sama-sama jones kali ya?” tanya Ambar.


Santi menggelengkan kepalanya, “nggak, aku jomblo terhormat, menjadi jomblo karena pilihan bukan karena nasib,” kata Santi sambil membusungkan dada yang memang ukurannya diatas rata-rata itu, takutnya sih kalau terlalu membusung ntar kancing kemejanya lepas kan panjang urusannya.


“Ngeles aja sih!” cibir Ambar sambil menyorongkan hpnya yang menunjukkan sebuah photo laki-laki, si Mister X tentunya.


“Ini laki-laki yang kami incar, menurut Munding, dia mengaku sengaja bergabung dengan MinMaks dengan tujuan mengawasi semua pergerakan Bram dan melaporkan semuanya ke bossnya yang juga beckingnya si Bram,” jelas Ambar.


“Kalau memang yang Munding katakan itu benar, berarti, dia seharusnya tahu jati diri si Dalang kan?” tanya Santi sambil terus melihat ke arah laki-laki yang photonya ada di tangannya itu.


“Tapi ada yang aneh, si X ini harusnya kami ringkus juga hari itu bersama anggota MinMaks yang lain. Setelah itu, kami menyerahkannya ke kalian. Tapi saat kami ingin menemuinya, kalian beralasan kalau si X sudah dilepaskan karena dia masih di bawah umur,” kata Ambar, “coba jelaskan ke aku, dari mana ceritanya si X ini masih dibawah umur?” lanjut Ambar sambil menunjuk-nunjuk photo laki-laki itu.


Santi menganggukkan kepalanya, “aku tahu alasan kalian memutuskan untuk kerja sama dengan tim kami. Kalian butuh bantuan kami untuk mengetahui cerita sebenarnya soal si X ini kan?” tanya Santi.

__ADS_1


Ambar menganggukkan kepalanya.


“Oke, kami akan bekerja untuk hal ini. Kurasa besok sore kami pasti sudah memperolah hasilnya, nanti kami akan membagi hasil investigasi kami kepada kalian,” lanjut Santi, “ingin bertemu lagi disini atau gimana?” tanyanya.


“Nggak usah,” tolak Ambar, “aku normal, aku nggak mau nge-date bareng cewek yang sama berkali-kali ntar ada yang berpikir yang enggak-enggak.”


“Terserah situ deh,” jawab Santi, “ni nomerku, miscalled aja, ntar hubungi via whatsapp ya?”


Santi dan Ambar kemudian menukar kontak mereka. Tak lama kemudian kedua wanita itu berdiri dan berjalan menuju mobil masing-masing. Tapi Santi tiba-tiba memanggil Ambar.


“Munding,” kata Santi pelan, “siapa anak itu? Bagaimana mungkin kalian menyuruh seorang bocah di bawah umur melakukan pekerjaan kotor kalian?” lanjutnya pelan dengan nada sedikit menyalahkan.


Ambar tersenyum, “dia memang masih muda sekali. Tapi jangan pernah berpikir untuk menganggapnya anak kecil,” Ambar kemudian menarik napas dalam, setiap kali dia mengingat sepak terjang Munding, dia selalu melakukan itu, karena eksistensi Munding selalu mengingatkan betapa lemahnya dirinya sendiri.


“Ingat pesanku baik-baik.”


“Jangan pernah memilih untuk menjadikan Munding sebagai musuhmu.”


Kata-kata Ambar masih terngiang-ngiang di telinga Santi meskipun wanita itu sudah menghilang dengan mobilnya di jalan raya.


\=\=\=\=\=


“Jadi?” tanya Santi kepada atasannya.


“Itu informasi yang kita peroleh. Sekarang semua anggota dari tim gabungan kita juga ragu-ragu untuk mengambil tindakan,” kata laki-laki itu.


Santi terdiam. Kenyataan kadang memang bisa sangat diluar dugaan. Seperti perkiraan Santi Cuma butuh waktu 2 jam bagi tim gabungan mereka untuk mendapatkan identitas si X yang diburunya.

__ADS_1


Tapi setelah mendapatkan identitas pria itu, Santi justru kaget dengan apa yang dia temukan. Si X ternyata adalah anggota polisi bernama Bambang Hermanto dengan pangkat brigadir polisi satu atau sering disingkat briptu. Seorang bintara yang tercatat sebagai anggota Intel.


Karena status Bambang itulah tim gabungan di belakang Santi tidak tahu apa yang harus dilakukan karena tahu atasan Bambang pastilah seorang petinggi di lembaga mereka. Itu artinya selama ini mereka mengejar ekor mereka sendiri.


Usaha mereka selama satu tahun ini seperti ditelan angin ketika mengetahui kenyataan itu. Sebagian besar dari tim mereka bahkan mengusulkan untuk membubarkan misi ini. Hanya Santi yang merasa kalau dia tidak ingin semua usahanya sia-sia, karena dia merasa kalau dirinya yang paling banyak berkorban untuk misi ini.


Meskipun dia tahu si Dalang yang mereka kejar selama ini adalah atasannya sendiri, tapi Santi sama sekali tidak berniat untuk menyerah begitu saja. Dan dia masih punya cara untuk menangkap si Dalang, Ambar.


\=\=\=\=\=


“Ini,” kata Santi sambil menyerahkan sebuah amplop kepada Ambar.


Ambar menerimanya kemudian membuka amplop itu di depan Santi. Dia kemudian membaca dokumen itu sejenak ketika tiba-tiba matanya terkejut dan dia melihat ke arah Santi dengan tatapan mata aneh.


Santi cuma tersenyum kecut dan menganggukkan kepalanya.


“Pantas kamu memberikan dokumen ini padaku,” jawab Ambar sambil memasukkan kembali dokumen itu kedalam amplop, "kami pikir, kalian akan bergerak sendiri untuk mengejar si X ini. Hanya atasan tertinggi kami yang yakin kalau kalian akan datang mencari kami. Sekarang aku tahu kenapa beliau tanpa ragu mengatakan hal itu."


Santi cuma menundukkan kepalanya.


Setelah mereka terdiam selama beberapa saat, Santi berkata pelan, “kami memperkirakan kalau si Dalang adalah seorang pejabat tinggi di lembaga kami. Karena itu kami memilih mundur. Aku memberikanmu dokumen ini atas inisiatif pribadi.”


“Aku tidak ingin kerja kerasku selama setahun ini sia-sia,” lanjut Santi setelah terdiam beberapa saat.


Ambar tersenyum, "aku tahu. Serahkan pada kami. Kami yang akan membersihkan sampah yang kalian tidak bisa bersihkan,” jawab Ambar.


Ambar kemudian berdiri dan menganggukkan kepalanya kearah Santi.

__ADS_1


"Saatnya untuk menggulung sampah masyarakat yang berlindung di balik seragam mereka," kata Ambar dalam hati.


__ADS_2