Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 118 - Teknik


__ADS_3

Munding yang melihat interaksi antara mereka berdua kini tahu apa yang terjadi, kedua orang yang usianya terpaut jauh itu adalah sepasang kekasih. Dan Munding kini juga tahu kalau dia tidak bisa menghindari pertarungan ini.


“Bismillah,” gumam Munding pelan, kemudian tiba-tiba dia melepaskan semua intent yang dia miliki sebagai serigala petarung terinisiasi.


Booommmmmmm.


Tekanan tak kasat mata tiba-tiba dirasakan oleh semua orang yang berada di sekitar Munding. Tekanan yang membuat mereka seolah-olah sedang berhadapan dengan seekor harimau yang menatap mereka dengan niatan untuk memangsa mereka.


Tekanan yang membuat lutut mereka sedikit bergetar dan dada mereka berdebar-debar. Itulah yang dirasakan oleh keempat serigala petarung tahap awakening dari Tim Kelelawar termasuk Nia. Mereka merasakan rasa takut yang mulai menjalari tubuh mereka, rasa takut yang membuat mereka menjadi ragu-ragu untuk menyerang.


Amel adalah korban yang paling parah dari tekanan intent yang keluar dari tubuh Munding. Untuk sesaat tadi ketika Munding melepaskan intent-nya dengan kekuatan penuh, sosok Munding yang berdiri di depan Amel terlihat membesar menjadi seperti raksasa dengan tinggi 4 meter di mata Amel.


Amel tidak merasakan ancaman bahaya sama sekali dari sosok itu, tapi rasa takut yang secara naluriah muncul di dadanya membuatnya menggumamkan satu nama dengan nada tanya sebelum akhirnya Amel kehilangan kesadaran diri.


“Munding?”


Yasin sang Guru cuma tersenyum kecut ketika Munding melepaskan intent-nya. Hanya dia seorang yang mampu untuk bertahan di dalam tekanan intent Munding tanpa merasakan efek dan tanpa rasa takut sama sekali. Yang ada adalah rasa tegang karena dia tahu bahwa musuh yang sebanding dengan dirinya sedang berdiri di depannya dan sedang menantang dirinya.


“Kita lihat siapa yang terkuat di antara kita?” pesan yang sangat jelas diterima oleh Yasin.


Booommmmmmm.


Yasin pun melakukan hal yang sama dengan Munding dan melepaskan intent serigala petarung-nya. Dua buah intent yang sama kuat dan saling bermusuhan dan berusaha mendominasi satu sama lain terasa di sekitar mereka berdua.

__ADS_1


Anggota Tim Kelelawar sedikit menarik napas lega setelah sang Guru menerima dan meladeni tantangan Munding. Ketika intent dari guru mereka sudah dilepaskan tadi, beban tekanan yang mereka terima dari Munding berkurang secara drastis.


Kini ada dua buah intent yang saling beradu antara Munding dan Yasin. Keempat orang anggota Tim Kelelawar itu hanyalah penonton dalam pembukaan duel mereka ini.


“Nia, bawa Amel ke tempat aman. Kalian bertiga, jangan ikut campur ke duel kami dengan gegabah. Jangan ambil tindakan yang kalian tidak yakin bisa selamat dengan nyawa kalian masih menempel di badan,” kata Yasin pelan ke arah empat orang murid yang ada di belakangnya.


Yasin kemudian melakukan kembangan silat dan mulai bergerak maju pelan-pelan ke arah Munding. Munding memasang kuda-kudanya seperti biasa dan berdiri kokoh di tempatnya tanpa bergerak bagaikan pohon yang menancap tegak di tanah.


Yasin bergerak lincah dengan kembangannya dan mengitari Munding, mencoba mencari celah dan titik lengah dari lawan di depannya itu. Munding hanya menggeser langkah perlahan-lahan dan memposisikan kuda-kudanya untuk mengikuti arah pergerakan Yasin.


Mereka berdua bergerak seperti Bumi yang mengelilingi Matahari. Munding seperti Matahari yang dengan tenang berputar di porosnya. Yasin bagaikan Bumi yang berotasi mengelilingi Matahari dalam orbitnya.


Yasin tiba-tiba bergerak maju dan melakukan patukan dengan tangan kanannya ke arah kepala Munding. Munding maju dan mengangkat tangan kirinya yang sudah terulur kedepan untuk melakukan tangkisan luar.


Tapi ketika patukan tangan kanan Yasin dan tangkisan luar Munding hampir bertemu, Yasin menunjukkan kelihaiannya sebagai petarung senior, tangannya berputar dengan cepat dan berganti dari patukan menjadi tebasan.


Tebasan tangan yang mengarah ke sebelah bawah siku tangan kiri Munding yang melakukan tangkisan luar dan menyasar ke dada kiri Munding. Munding tahu kalau serangan seperti yang dilancarkan oleh Yasin tidak akan maksimal efeknya, karena ayunan awal dari patukan dan tebasan sangat berbeda.


Tapi Munding tidak mau mengambil resiko, dengan cepat dia menurunkan siku tangan kirinya dan menjadikannya elbow block ala tinju.


Duakkkk.


Tebasan tangan Yasin bertemu dengan elbow block lengan kiri Munding. Yasin sedikit mengrenyitkan dahi, karena gerakan yang dilakukan Munding bukan gerakan silat.

__ADS_1


Munding tanpa ragu melancarkan pukulan bandul dengan tangan kanannya kearah Yasin. Tangan kanan Yasin yang tadi menutupi dadanya saat melakukan patukan bergerak keatas dan melakukan tangkisan atas untuk menahan pukulan bandul Munding.


Tapi.


Pukulan bandul hanyalah gerakan tipuan dari Munding, ketika tangan kanannya bergerak memukul, sebenarnya posisi tubuh Munding sudah mulai sedikit terayun dan menggunakan kaki kiri untuk poros dan kaki kanan terangkat ke depan.


Munding melakukan tendangan gojos dengan waktu yang hampir berbarengan dengan pukulan bandul tangan kanannya. Yasin sama sekali tidak menyangka Munding akan menggunakan pukulannya untuk tipuan saja.


Dengan cepat Yasin meloncat mundur untuk menghindari gojos Munding, tapi Yasin tahu kalau tendangan gojos adalah salah satu tendangan yang menggunakan follow through ke depan, itu artinya, setelah selesai menendang, Munding tidak akan menarik kaki kanannya kembali ke belakang tapi akan menjatuhkannya satu langkah ke depan.


Yasin meloncat mundur beberapa langkah dan memasang kuda-kuda rendah dan melakukan kembangan lagi sambil menarik napas. Setelah tendangan gojos Munding gagal mengenai sasarannya, Munding kemudian menariknya ke belakang dan kembali memasang kuda-kudanya.


Munding membuang napas setelah melakukan clash pertamanya dengan sang Guru. Dia kini sadar, pengalaman memang sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Dia tahu berapa kali pun dia mengadu teknik dengan sang Guru seperti tadi, Munding tidak akan bisa mengalahkannya.


Sang Guru kembali melakukan kembangan dan memutari Munding seperti di awal tadi. Nomer Satu, Nomor Dua dan Nomer Tiga yang menyaksikan clash guru mereka barusan sedikit heran dan terkejut.


Pertarungan barusan sama sekali jauh dari harapan mereka, mereka beranggapaan bahwa seorang serigala petarung akan bertarung seperti super hero di televisi dengan super powernya dan menyebabkan kerusakan parah disekitar mereka.


Karena bagi mereka yang hanya serigala petarung tahap awakening, atraksi seperti menghancurkan balok es batu dan beton cor setebal 15cm bukanlah lagi suatu tantangan. Apalagi bagi dua orang serigala petarung terinisiasi seperti mereka berdua yang sedang berduel itu?


Tapi, apa yang mereka lihat barusan malah lebih mirip dengan sparing antara dua kawan dari perguruan silat yang sama. Hanya bertukar serangan dan tangkisan, mengadu teknik dan mencoba menyarangkan serangan ke arah lawan. Tak lebih, tak kurang dan tak sesuai harapan mereka.


Selain adanya tekanan intent yang terus memancar dari mereka berdua, tidak ada lagi yang menandakan sama sekali kalau mereka berdua adalah petarung menakutkan yang bisa menghabisi nyawa manusia normal dengan mudah.

__ADS_1


Apalagi setelah mereka berdua memusatkan perhatian kepada masing-masing musuhnya, kedua intent yang memancar dari Munding dan Yasin tidak lagi mereka rasakan efeknya seperti di awal-awal tadi.


__ADS_2