Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 120 - Sandera


__ADS_3

Dua buah bayangan saling bertukar serangan dengan cepat di depannya. Saat itulah Nomer Tiga tahu kalau dia baru saja diselamatkan oleh gurunya dari serangan Munding.


Nomer Tiga kemudian melepaskan mode tarungnya dengan napas terengah-engah karena ketakutan. Untuk sesaat tadi, dia sudah pasrah akan nasibnya. Baru kali ini dia menyadari bahwa selama ini peringatan yang diberikan oleh gurunya adalah demi keselamatan mereka sendiri.


Dalam pertarungan antara serigala petarung, nyawa bisa melayang dalam hitungan sepersekian detik.


Tubuh Nomer Dua yang sudah tidak bernyawa tergeletak di halaman rumah Yusuf yang berupa batu-batu alam kecil dan disebar membentuk jalan menuju ke teras dan gerbang rumahnya. Nomer Satu berdiri sambil memegang pangkal lengan tangan kanannya yang tergantung dengan posisi yang aneh.


Nomer Satu mengrenyitkan dahinya karena rasa sakit di tangan kanannya yang baru saja ditendang hingga patah oleh Munding.


Nia yang tidak mengikuti pertarungan mereka tadi terlihat kaget dan gugup saat melihat kondisi ketiga rekannya. Satu orang tewas, satu orang terluka parah dan satu lagi seperti baru saja bertemu dengan hantu di siang bolong. Ketiga orang rekannya tersebut mungkin sudah tidak bisa memberikan bantuan lagi kepada Yasin.


Buakkkkkkkkkk.


Tiba-tiba terdengar suara keras sekali dari arah mobil Pajero Hitam yang diparkir di dekat mereka. Ketiga orang itu dengan reflek melihat ke arah sumber suara dan melihat tubuh seorang pemuda baru saja terhempas dengan keras ke mobil itu.


Hempasan yang luar biasa keras dan membuat body mobil kelas premium itu melesak ke dalam di bagian pintu depan sebelah kiri. Tubuh si pemuda kemudian jatuh merosot  ke bawah. Dari badannya yang bertelanjang dada, beberapa luka goresan kecil yang masih segar dan mengeluarkan darah terlihat dari sana.


Munding kemudian berusaha dengan bersusah payah untuk kembali berdiri tegak dengan memanfaatkan mobil yang ada di belakangnya untuk bersender. Meskipun terlihat hanya sebentar dan sesaat saja, pertarungan terakhirnya tadi dengan Yasin sangat menguras tenaganya.


Munding harus bergerak dengan kecepatan penuh dalam mode tarung, sama ketika dia menghindari tembakan peluru dari Bram dulu. Dan usahanya itu memaksa tubuh Munding untuk menjerit kesakitan karena dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya.

__ADS_1


Sebuah sosok tiba-tiba muncul di teras depan rumah Yusuf. Dia memegangi lengan tangan kirinya yang terkulai lemas ke samping tubuhnya. Kondisi yang sama dengan tangan kanan si Nomer Satu. Tangan kiri sang Guru berhasil dipatahkan oleh Munding.


Dalam clash terakhir mereka tadi, Yasin yang entah darimana mendapatkan sebuah pisau kecil di tangan kanannya berhasil melukai Munding dalam pertarungan jarak dekat dan dengan gerakan super cepat mereka.


Setelah beberapa kali mengadu serangan, Yasin menyadari kalau bocah di depannya itu mampu bergerak lebih cepat dari dirinya meskipun dengan selisih kecepatan yang tidak berbeda jauh.


Munding yang memiliki kelebihan dari segi kecepatan melawan Yasin yang memegang pisau ditangan kanannya. Pertarungan super cepat mereka menemui titik buntu.


Yasin tidak bisa menggunakan pisaunya untuk melukai Munding selain beberapa luka gores kecil yang tidak membahayakan. Munding juga tidak bisa menyarangkan serangannya ke tubuh Yasin dengan sempurna.


Sampai ketika Munding merasakan kalau tubuhnya mencapai batasnya untuk menggunakan mode tarung, dia memutuskan untuk bertukar serangan. Itu artinya, dia akan sengaja menerima serangan dari Yasin dengan harapan Munding juga akan berhasil menciderai Yasin.


Dan clash terakhir mereka pun terjadi, Yasin yang menggunakan pisaunya untuk menusuk Munding dari depan setelah melakukan gerakan tipuan dengan tendangan kaki kirinya, terlihat kaget ketika Munding sama sekali tidak mengelak dari serangan pisaunya.


Ini pertama kalinya Yasin merasakan ancaman serius bagi dirinya. Secara reflek, Yasin mengangkat tangan kirinya untuk menangkis tendangan sabit kaki kanan Munding. Dan saat itulah mereka berdua sama-sama melakukan tendangan kaki kanan ke arah musuhnya.


Munding berhasil mematahkan tangan kiri Yasin dan Yasin berhasil melakukan tendangan gojos sekuat tenaga ke dada Munding. Tendangan gojos yang membuat Munding terlempar ke belakang dan menabrak mobil.


Munding terbatuk-batuk dan darah keluar bersama dahak yang keluar dari mulutnya. Dia melihat ke arah Yasin dan tersenyum sinis. Munding memang terluka dan dia memang sudah kehabisan tenaga, tapi dia berhasil mematahkan tangan kiri Yasin. Sebuah harga yang lebih dari pantas untuk rasa sakit dan sesak di dadanya akibat tendangan Yasin.


Yasin yang masih meringis menahan sakit hanya bisa melihat ke arah murid-muridnya dengan pandangan kecewa. Mereka terlalu berambisi, kesalahan yang membuat mereka melakukan tindakan gegabah dan berakibat fatal bagi dua orang diantara empat orang muridnya dan tentu saja dirinya sendiri.

__ADS_1


“Bukankah aku sudah memperingatkan kalian agar tidak gegabah?” tanya Yasin dengan suara bergetar dan penuh kekecewaan kepada Nomer Satu dan Nomer Tiga.


“Bagi kami berdua, mode tarung kalian itu tak ubahnya seperti anak balita yang mengayunkan pisau, sama sekali tidak berbahaya dan justru membuat kami takut kalau kalian akan mencederai diri kalian sendiri,” lanjut sang Guru.


Nia melirik ke arah Yasin dan tangan kirinya yang terlihat aneh, setelah itu, dia melihat ke arah jam tangannya sendiri. Nia menggelengkan kepalanya dengan wajah kecewa. Waktu mereka untuk disini sudah habis, mereka harus pergi dari sini dalam waktu semenit. Kalau tidak, militer akan datang dan mereka tidak akan pernah punya kesempatan untuk melarikan diri.


Nia kemudian mengeluarkan pistol, dan menggunakannya untuk memukul kepala Amel agar gadis yang sedari tadi dipegangnya itu tersadar.


“Tiga, ambil mobil di garasi Yusuf!! Cepat!!” perintah Nia terdengar keras.


Nia kemudian menyeret Amel yang pelan-pelan mulai tersadar ke arah Yasin yang masih berdiri dengan napas terengah-engah di teras rumah Yusuf. Nomer Satu yang tadi berdiri di halaman juga bergerak mendekati Yasin. Kini mereka berempat berdiri berdekatan dengan Nia menggunakan Amel sebagai sanderanya di depan Yasin dan Nomer Satu yang terluka.


“Biarkan kami pergi atau aku akan menembak kepala gadis ini!!” kata Nia dengan nada datar dan melepaskan kunci pengaman di pistolnya.


Amel yang barusan tersadar dari pingsannya dan tiba-tiba menemukan dirinya sudah berada dalam todongan sebuah pistol terlihat kebingungan untuk sesaat sebelum akhirnya Amel mengerti apa yang terjadi.


Amel melirik kearah Munding yang berdiri dengan menggunakan mobil hitamnya untuk sandaran punggung. Tubuh Munding terlihat bersimbah darah dan dia juga terlihat sangat kelelahan. Amel dengan reflek mencoba melepaskan diri dan ingin berlari ke arah Munding.


Nia dengan cepat memegang dan kembali menggunakan Amel sebagai tameng di depan badannya dan menodongkan pistolnya ke kepala Amel.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


**Author note:


Kalau kalian menikmati cerita ini, jangan lupa bantu votes ya gaess**.


__ADS_2