Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 117 - Kawanan


__ADS_3

Munding melepas helmnya perlahan-lahan, seraut wajah bocah yang nampak jelas masih dalam kisaran usia belasan tahun terlihat jelas disana. Munding kemudian mengedarkan pandangannya sebentar ke arah lima orang yang berada di dekat mobil Amel dan pandangan matanya akhirnya berhenti ke sosok laki-laki berumur yang berdiri di samping Amel.


Munding menarik napas dalam dan melepaskan kaosnya, kemudian dia melepaskan ikat pinggangnya dan sepatu yang membuat telapak kakinya terasa licin dan berkeringat itu. Keempat anggota tim Kelelawar melihat semua gerak gerik Munding dalam diam dan diliputi ketegangan.


Mereka juga sedikit bingung, mereka adalah serigala petarung, mereka lebih dari manusia biasa, tapi ketika bocah ini berdiri di depan mereka, mereka merasa seperti anggota kawanan serigala yang bertemu dengan sang Alpha, sang pemimpin kawanan. Dan mereka hanya pernah merasakan hal itu sekali saja dalam hidup mereka, saat mereka berhadapan dengan guru mereka, Yasin.


Ketika Munding yang bertelanjang dada sudah berdiri tanpa sepatu dan hanya mengenakan celana jeans saja, mata Yasin terbelalak karena terkejut. Dia dapat melihat dengan jelas semua luka-luka ditubuh Munding. Luka yang pasti diakibatkan karena pertarungan hidup dan mati.


“Munding,” Amel memanggil nama pemuda pujaan hatinya itu dengan suara keras dan ingin berlari ke arah Munding, tapi dengan sigap Nia memegangi tangan Amel.


Munding hanya melirik sekilas ke arah Amel dan memberikan senyuman tipis, setelah itu dia kembali memusatkan perhatiannya kepada Sang Guru yang sedari tadi masih terus melihat tanpa berkedip ke arah Munding.


“Kamu? Kamu serigala petarung kan?” tanya si Nomer Satu dengan suara yang bergetar, hanya hal itu yang bisa menjelaskan kenapa tadi Munding bisa dengan mudah menghindari serangannya.


Munding sama sekali tidak menanggapi pertanyaan laki-laki berwajah sangar itu. Dia masih tetap melihat ke arah Pak Tua yang berdiri di samping Amel. Pak Tua itu yang memberinya sensasi ancaman paling berbahaya, karena itu Munding tidak bisa lengah di depannya.


Munding mulai merasakan seluruh tubuhnya bergetar dan terasa hangat karena adrenaline yang mulai mengalir ke seluruh tubuhnya. Dadanya juga mulai berdebar-debar pelan, dia tahu kalau setelah ini, dia harus melakukan pertarungan hidup matinya untuk yang kedua kali setelah malam kelabu di Sukorejo.


Yasin yang melihat luka balur-balur halus di tubuh pemuda yang berdiri bertelanjang dada di depannya memasang raut wajah aneh. Dia hapal dengan luka-luka seperti itu. Luka yang didapatkan karena sabetan rotan ke tubuh seseorang yang dilatih untuk menjadi serigala petarung. Metode latihan khas dari kawanan Yasin sang Guru sendiri.

__ADS_1


Metode yang digunakan oleh pondok pesantren mereka yang ada di Pasuruan. Metode dari kawanan JFS. Itu artinya bocah di depannya ini mempunyai lineage yang sama dengan dirinya sendiri. Dan mungkin Yasin kenal dengan Mentor dari pemuda yang sekarang berdiri di depan mereka.


“Kamu? Siapa gurumu?” tanya Yasin dengan suara pelan.


“Kenapa?” Munding menjawab pertanyaan Yasin dengan kalimat tanya dan suara datar tanpa emosi.


“Kita mungkin satu kawanan, aku tidak ingin bertarung dengan serigala petarung dari kawanan yang sama,” jawab Yasin.


“Kita tidak satu kawanan, karena apa yang kalian perbuat tidak sesuai dengan apa yang diajarkan guruku,” jawab Munding dengan tegas.


Keempat murid sang Guru terdiam mendengarkan diskusi antara pemuda yang dipanggil Amel dengan nama Munding itu dengan guru mereka. Mereka kini benar-benar percaya kalau pemuda yang menghalangi mereka saat ini adalah seorang serigala petarung sama seperti mereka.


Ketika mereka menyadari hal ini, mau tak mau, keempat orang tadi mulai menyiapkan mental mereka untuk bertarung dengan kekuatan penuh. Ini kali pertama mereka berhadapan dengan musuh satu spesies dengan mereka dalam pertarungan yang sesungguhnya.


Keempat orang serigala petarung tahap awakening dari Tim Kelelawar itu, merasakan sendiri betapa naluri mereka menjerit dan mengingatkan mereka untuk tidak melawan pemuda yang terlihat seperti bocah bau kencur itu.


Saat itulah mereka tahu, bahwa dunia tidak selebar daun kelor dan mereka masih belum berada sepenuhnya di puncak atas rantai makanan. Seorang bocah yang datang dengan motor matic dan helm cupu, bisa berubah dengan tiba-tiba menjadi predator yang bisa menelan mereka mentah-mentah.


Dan yang paling membuat mereka diliputi rasa tegang adalah mereka sama sekali tidak merasakan keberadaan seorang serigala petarung dari sosok bocah itu. Bahkan sampai detik ini, seolah-olah bocah yang berdiri di depan mereka hanyalah bocah SMA biasa. Tapi mereka tidak bisa memungkiri peringatan bahaya yang terus diteriakkan oleh naluri mereka sendiri.

__ADS_1


Dan sesuai petunjuk sang Guru yang pernah mereka terima, hal itu menunjukkan satu kenyataan, bocah itu adalah serigala petarung terinisiasi. Dia berada satu tingkat lebih tinggi dibandingkan mereka berempat, tim elit yang memiliki basic sempurna sebagai seorang polisi pilihan dan digembleng selama setahun penuh dalam latihan survival di hutan bersama Sang Guru.


Yasin terlihat sedikit ragu-ragu, dari awal dia tahu kalau pemuda di depannya adalah serigala petarung terinisiasi seperti dirinya, tapi itu bukan masalah bagi dirinya, pihak mereka punya tambahan 4 orang serigala petarung awakening. Yasin masih yakin kalau mereka bisa melumpuhkan pemuda itu.


Untuk menghabisi nyawanya? Yasin tidak yakin akan hal itu, dia tahu seperti apa metode latihan yang dipakai oleh kawanannya sendiri. Tubuh yang dikondisikan tahan untuk menerima pukulan dan latihan endurance ekstra keras untuk bisa bertarung dalam mode tarung selama mungkin.


Kalau pemuda di depannya ingin melarikan diri dari sini, cuma Yasin yang bisa menghentikannya. Tapi dia sendiri tidak Yakin kalau dia punya cukup keberanian untuk menghabisi pemuda ini.


Alasannya sederhana, hubungan mentor dan murid dalam proses awakening adalah kepercayaan mutlak. Si murid mempercayakan nyawanya kepada sang mentor dalam proses itu. Dan Yasin tidak tahu siapakah mentor dari pemuda di depannya.


Dan sebelum Yasin tahu siapa mentor dari pemuda di depannya, dia tidak yakin apakah dia punya cukup keberanian untuk menghabisi musuhnya ini.


Munding tahu kalau Yasin sedikit ragu-ragu untuk mengadu nyawa dengannya meskipun dia tidak tahu alasan yang pasti, tapi kalau dia bisa menghindari pertarungan yang tidak menguntungkan baginya ini, Munding dengan senang hati akan melakukannya.


“Amel adalah tanggung jawabku, serahkan dia dan kita tidak perlu melakukan pertarungan ini,” kata Munding datar.


Yasin terdiam, dia terlihat sedikit mempertimbangkan apa yang ditawarkan oleh Munding. Nia yang berdiri di sebelah Amel dan masih memegangi lengan gadis itu, melirik kearah kekasihnya dan melihat sedikit kebimbangan di sana.


“Mas, ini demi masa depan kita,” kata Nia sambil memberikan senyuman manisnya ke arah Yasin.

__ADS_1


Yasin yang tadi diliputi kebimbangan akhirnya menganggukkan kepalanya ke arah Nia. Dia melihat kearah Munding yang masih berdiri dengan posisi normal dan tanpa kuda-kuda akhirnya membulatkan tekadnya.


“Demi kehidupan yang lebih baik bagi kami berdua,” kata Yasin pelan sambil mengepalkan tangannya dan maju pelan-pelan meninggalkan sisi Amel.


__ADS_2