Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 185 - Shadow


__ADS_3

Sebuah suara jawaban yang tidak terdengar berasal dari tengah ruangan dan entah berasal darimana bergema dalam ruangan tersebut. Suara tanpa gender yang membuat orang susah menebak seperti apa fitur dari si pemilik suara.


“Dia mati karena luka seperti sebuah sabetan senjata tajam.”


“Senjata ini adalah sebuah pisau.”


“Tapi bukan dari pisau fisik. Sebuah pisau hasil manifestasi intent.”


Suara teriakan karena terkejut terdengar dari berbagai sudut ruangan yang sekarang entah diisi berapa orang itu. Clown dengan cepat melihat ke arah Hiro dan menatapnya tajam.


“Kalian cari gara-gara dengan seorang petarung manifestasi ya?” bentak Clown ke arah Hiro.


“Bukan begitu ...” protes Hiro tapi belum sempat kata-katanya selesai Clown bergerak dengan cepat dan melayangkan pukulan ke arah kepala Hiro yang masih duduk di kursinya.


Gerakan Clown cepat sekali dan hampir sebagian besar orang yang ada di ruangan ini sama sekali tidak bisa melihatnya. Termasuk Hiro dan Maria.


Bletaaakkkkkkk.


Pukulan Clown terhenti oleh sebuah benda yang menghalangi kepalan tangannya dengan kepala Hiro. Hiro yang sebelumnya tidak sadar, ketika dia melihat kepalan Clown hanya berjarak beberapa cm dari kepalanya tiba-tiba saja mengeluarkan keringat dingin dari punggungnya.


“Aku sama sekali tidak bisa melihat serangannya,” keluh Hiro.


Clown melirik ke arah orang yang menahan serangannya tadi. Dia adalah Shadow.


Sebuah suara yang bergema dalam ruangan ini kembali terdengar.


“Clown, kamu eksekutor, aku investigator, hakimnya Phantom. Sebelum ada keputusan apa pun dari hakim. Jangan pernah berpikir untuk melaksanakan hukuman kepada orang yang sedang aku investigasi.”

__ADS_1


Clown hanya mendenguskan napasnya dan meninggalkan tengah ruangan.


“Shadow, jelaskan hasil analisamu,” perintah Phantom.


Suara tanpa asal dan tanpa gender yang menjadi ciri khas dari Sadow kembali bergema dalam ruangan itu.


“Beberapa waktu lalu, Yasin mengajukan permintaan misi personal target. Kita menyetujuinya.”


“Empat orang ditugaskan untuk misi ini. Dan mereka bertiga adalah orangnya, tentu saja ditambah dengan Yasin sendiri.”


“Tak sesuai informasi yang diberikan Yasin. Kemungkin, serigala petarung yang bernama Izrail ini sudah mencapai tahap manifestasi. Tentu saja tim mereka hancur karenanya. Dan kini Yasin juga belum diketahui keberadaannya.”


Seisi ruangan terdiam setelah mendengar kata-kata Shadow. Ini bisa dibilang adalah sebuah kesialan. Kesialan bagi tim yang kebetulan ditunjuk untuk menjalankan misi ini. Siapa yang akan menyangka kalau sasaran kita yang sebelumnya terlihat empuk bagaikan kelinci tiba-tiba berubah menjadi seekor harimau dan menggigit kita balik.


Kalau mereka berada di posisi Hiro dan Maria, tentu saja, mereka akan menangis bahagia karena telah berhasil kembali dengan selamat dari sebuah pertarungan melawan seorang petarung tahap manifestasi. Tak ada yang memungkiri itu.


“Bukan,” kata Hiro pelan.


“Dia bukan petarung manifestasi. Tapi dia pseudo-manifestasi atau sering kita sebut juga dengan half-step. Dia bernama Izrail. Serigala petarung lokal yang berasal dari negeri ini,” jawab Hiro sambil menambahkan lagi.


“Aku tahu siapa Izrail,” suara Shadow kembali terdengar tapi dengan nada yang sedikit mengambang, tidak seperti biasanya yang datar tanpa emosi.


Ruangan tersebut kembali dipenuhi oleh keheningan. Terdengar jemari Phantom mengetuk ritmik di meja yang ada di depan dia. Hanya itu satu-satunya suara yang ada dalam ruangan bernuansa gelap ini.


“Shadow, bagaimana menurutmu?” tanya Phantom ke arah Shadow.


“Hiro, Maria, Choi, mereka tidak bersalah. Mereka hanya menjalankan misi sesuai dengan informasi yang mereka dapatkan. Tak ada hukuman untuk mereka.”

__ADS_1


“Yasin. Entah dengan sengaja atau tidak, telah memberikan informasi yang salah dan menyebabkan satu orang anggota Chaos meninggal dunia dan dua lainnya terluka parah hingga menyebabkan cacat permanen. Aku menyarankan untuk mencari keberadaannya, baik hidup atau mati, untuk meminta pertanggungjawaban dia.”


“Izrail. Dia bukan lone wolf. Sekalipun dia sudah berhenti dan tidak lagi berurusan dengan kawanannya tetapi bukan berarti kawanannya akan diam saja saat kita bergerak untuk menyerangnya.”


“Dan kawanan serigala Izrail tidak bisa diremehkan kekuatannya. Mungkin kali ini, mereka membiarkan saja accident ini. Tapi kalau ending-nya berbeda, mungkin saat ini markas kita sudah dikepung puluhan serigala petarung berbaju putih-putih yang siap mati tanpa alasan.”


Phantom mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Shadow. Anggota Chaos yang lain juga hanya mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka hanya petarung inisiasi sama seperti Hiro dan Maria. Ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi mereka jika ingin selamat di negeri ini.


Hikari tersenyum kecut.


Sejak dulu, Hikari tak pernah menganggap Phantom. Dia selalu waspada terhadap Shadow. Mungkin secara sekilas, Phantom seolah-olah sedang meminta informasi atau menyuruh Shadow menganalisa masalah yang mereka hadapi. Tapi di mata Hikari, tidak seperti itu.


Sejak dulu, Hikari sadar satu hal. Tak pernah sekalipun Phantom menolak ataupun membantah hasil analisa Shadow. Phantom juga akan selalu mengikuti saran yang diberikan oleh Shadow. Bahkan Hikari sempat berpikir kalau Shadow-lah sesungguhnya pemegang kekuasaan tertinggi Chaos. Sang pemimpin yang sesungguhnya. Tapi dia tak punya bukti konkret. Karena itu dia belum berani untuk melakukan clash langsung dengan Shadow untuk memperebutkan Chaos.


“Clown! Dengar instruksiku. Cari dan tangkap Yasin! Kalau dia sudah mati, aku ingin kepalanya. Kalau dia masih hidup, aku ingin dia diseret ke sini hidup-hidup! Jangan kembali sampai kamu berhasil!” perintah Phantom ke arah Clown.


Si Badut hanya tertawa terkekeh mendengar instruksi Phantom, “apakah aku harus melawan Izrail?”


“Jangan!!” jawab Phantom cepat, “kita tak ingin menambah masalah yang sudah kita punya.”


Kekekekekekeke.


Tawa si Badut kembali memenuhi ruangan dan matanya terlihat bersinar. Tak lama kemudian dia berjalan meninggalkan ruangan sambil tetap tertawa terkekeh. Entah apa yang membuat dia terus tertawa seperti itu.


Ketika ruangan ini kembali tenang, Phantom melirik ke arah Shadow yang masih tegak berdiri dalam diam lalu melihat ke arah Hiro dan Maria, “kalian berdua, melihat cacat kalian, kalian tak layak lagi bergabung dengan tim ini. Kalian akan dilepaskan dari keanggotaan Chaos. Kalian diperbolehkan membawa apa yang kalian dapatkan selama bergabung dengan Chaos,” kata Phantom.


Mendengar itu, suara decak kekaguman dan suitan nyaring terdengar dari sudut-sudut ruangan. Hiro dan Maria hanya bisa menundukkan kepalanya ketika mendengar suara-suara itu. Mereka tahu apa maksud semua itu.

__ADS_1


Mereka dikeluarkan dari Chaos dan diperbolehkan membawa uang hasil kerja mereka selama ini. Terlihat normal dan wajar. Tapi dunia gelap ini kejam. Tak ada kawan di hadapan uang menjulang. Apalagi melihat kondisi lemah Hiro dan Maria sekarang, mereka berdua bagaikan dua anak kecil yang memakai perhiasan mewah lalu disuruh lewat ke sarang penyamun.


Bagaimana mungkin para perampok itu tidak tergiur dan bersuit senang melihat sasaran seempuk mereka?


__ADS_2